Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Lailatul Qadar dalam Retorika Kekuasaan

  • account_circle Suko Wahyudi
  • calendar_month Kamis, 12 Mar 2026
  • visibility 526
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Lailatul Qadar, misalnya, dalam tradisi Islam bukan sekadar istilah teologis. Al-Qur’an menggambarkannya sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan—sebuah simbol tentang perjumpaan antara keterbatasan manusia dan kemurahan rahmat Tuhan. Malam itu mengandung pesan spiritual tentang kerendahan hati, refleksi diri, dan harapan akan pengampunan ilahi. Dengan makna sedalam itu, Lailatul Qadar bukan hanya bagian dari ritual keagamaan, tetapi juga bagian dari pengalaman spiritual umat.

Karena itu, ketika simbol yang sakral tersebut dipindahkan ke dalam arena retorika politik, reaksi publik menjadi sensitif. Bukan semata-mata karena masyarakat anti terhadap humor, tetapi karena simbol agama memiliki kedalaman makna yang tidak mudah dipindahkan begitu saja ke dalam logika kompetisi politik. Ia hidup dalam ruang batin umat, bukan sekadar dalam ruang kalkulasi kekuasaan.

Fenomena semacam ini sebenarnya dapat dibaca dalam perspektif sosiologi politik sebagai bagian dari praktik populisme religius. Populisme religius merujuk pada kecenderungan politik yang menggunakan simbol, bahasa, atau imajinasi religius untuk membangun kedekatan emosional dengan masyarakat. Dalam masyarakat yang religius seperti Indonesia, bahasa agama memiliki daya resonansi yang sangat kuat. Ia mampu menciptakan kesan kedekatan antara pemimpin dan rakyat, seolah-olah politik dan spiritualitas berjalan dalam satu irama.

Tidak mengherankan jika istilah religius sering muncul dalam pidato atau komunikasi politik para elite. Bahasa agama dianggap lebih mudah dipahami oleh masyarakat dan memiliki kekuatan simbolik yang besar. Namun di balik efektivitasnya sebagai alat komunikasi politik, populisme religius juga menyimpan risiko yang tidak kecil.

Salah satu risiko tersebut adalah banalisasi simbol religius. Ketika istilah-istilah yang sakral digunakan secara berulang dalam konteks politik praktis, makna spiritualnya dapat mengalami penyempitan. Simbol yang semula berkaitan dengan pengalaman religius manusia di hadapan Tuhan perlahan berubah menjadi sekadar metafora retorika dalam persaingan kekuasaan.

  • Penulis: Suko Wahyudi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kecaman terhadap Lemahnya Kualitas Pengerjaan Jalan Trans Sulawesi di Kabupaten Maros

    Kecaman terhadap Lemahnya Kualitas Pengerjaan Jalan Trans Sulawesi di Kabupaten Maros

    • calendar_month Selasa, 30 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 325
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — M. Arafah Alias Arpah, dari PP HPPMI Maros, menyampaikan keprihatinan serius sekaligus kecaman tegas terhadap kondisi Jalan Trans Sulawesi di wilayah Kabupaten Maros yang hingga saat ini terus mengalami kerusakan berulang, meskipun telah dilakukan penanganan oleh pihak terkait. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa sejumlah titik jalan yang sebelumnya berlubang telah dilakukan penambalan, […]

  • Gubernur Gorontalo Sambut Hangat Kedatangan Jemaah Haji Kloter 28

    Gubernur Gorontalo Sambut Hangat Kedatangan Jemaah Haji Kloter 28

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 198
    • 0Komentar

    Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail menyambut kepulangan Jemaah Haji Kloter 28 UPG asal Kota Gorontalo yang tiba Selasa, (2/7/2025). Jemaah kembali dengan jumlah utuh 393 orang dan disambut di Asrama Haji. “Alhamdulillah, berangkat 393 dan kembali juga 393. Artinya, dua kemungkinan yang biasa terjadi namun tidak terjadi di kloter ini, tidak ada yang wafat di Tanah […]

  • Dampak Kerusakan Ekologis Batang Toru, Direktur APPRI: Bencana Ini Bukan Kebetulan

    Dampak Kerusakan Ekologis Batang Toru, Direktur APPRI: Bencana Ini Bukan Kebetulan

    • calendar_month Sabtu, 29 Nov 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 355
    • 0Komentar

    Banjir bandang dan longsor kembali meluluhlantakkan Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, dan Tapanuli Selatan. Sungai Batang Toru — nadi kehidupan masyarakat Tapanuli dan habitat terakhir orangutan Tapanuli — meluap luar biasa, membawa batu-batu besar dan gelondongan kayu raksasa dari hulu. Hal tersebut mendapat perhatian khusus dengan perspektif yang berbeda oleh Direktur Aliansi Pemuda Peduli Rakyat Indonesia […]

  • Alasan Ridwan Kamil Kerap Menyebut Nama Aura Kasih dalam Pantun

    Alasan Ridwan Kamil Kerap Menyebut Nama Aura Kasih dalam Pantun

    • calendar_month Sabtu, 3 Jan 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 301
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Nama Ridwan Kamil kembali menjadi sorotan publik setelah sejumlah pantun lama yang menyebut nama penyanyi Aura Kasih viral di media sosial. Pantun-pantun tersebut kemudian memicu spekulasi warganet terkait hubungan personal antara keduanya. Isu ini mencuat setelah akun-akun gosip mengunggah jejak digital Ridwan Kamil yang beberapa kali menyelipkan nama Aura Kasih dalam pantun, baik […]

  • KIBR Desak KPK Adili Ade Irawan, Dirut PT Halmahera Sukses Mineral Atas Dugaan Penyuapan WIUP

    KIBR Desak KPK Adili Ade Irawan, Dirut PT Halmahera Sukses Mineral Atas Dugaan Penyuapan WIUP

    • calendar_month Jumat, 28 Mar 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 237
    • 0Komentar

    Koalisi Independet Bersama Rakyat (KIBR) Gelar aksi demonstrasi di Kantor PT Halmahera Sukses Mineral dan KPK RI menyoroti persoalan di Maluku Utara Terkait Penyuapan Kepada Eks Gubernur Maluku Utara, almarhum Abdhul Gani Kasuba. Dalam Kasus Tersebut, diduga keterlibatan Direktur Uatama PT Halmahera Sukses Mineral Ade Irawan, Sebagai salah satu pihak yang ikut menyuap AGK. Jakarta, […]

  • Bantah Tudingan Pecah Belah Masyarakat, Tokoh Mananggu Desak Danramil Periksa Babinsa

    Bantah Tudingan Pecah Belah Masyarakat, Tokoh Mananggu Desak Danramil Periksa Babinsa

    • calendar_month Minggu, 4 Okt 2026
    • account_circle Faisal Husuna
    • visibility 476
    • 0Komentar

    NULONDALO.COM – MANANGGU – Sejumlah tokoh masyarakat di Kecamatan Mananggu, Kabupaten Boalemo, dituduh sebagai pemecah belah masyarakat. Hal tersebut ditulis dalam unggahan akun anonim di media sosial Facebook yang memuat sejumlah nama tokoh masyarakat. “Peringatan keras! Hati-hati dengan kelompok ini, Raimon Tulen, Ferdy Bobihu, Hais Hamzah, Noldi Biya, Febriyanto Dunggio,” “Sering melakukan serangan, tuduhan, komentar […]

expand_less