Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Lailatul Qadar dalam Retorika Kekuasaan

  • account_circle Suko Wahyudi
  • calendar_month Kamis, 12 Mar 2026
  • visibility 336
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Lailatul Qadar, misalnya, dalam tradisi Islam bukan sekadar istilah teologis. Al-Qur’an menggambarkannya sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan—sebuah simbol tentang perjumpaan antara keterbatasan manusia dan kemurahan rahmat Tuhan. Malam itu mengandung pesan spiritual tentang kerendahan hati, refleksi diri, dan harapan akan pengampunan ilahi. Dengan makna sedalam itu, Lailatul Qadar bukan hanya bagian dari ritual keagamaan, tetapi juga bagian dari pengalaman spiritual umat.

Karena itu, ketika simbol yang sakral tersebut dipindahkan ke dalam arena retorika politik, reaksi publik menjadi sensitif. Bukan semata-mata karena masyarakat anti terhadap humor, tetapi karena simbol agama memiliki kedalaman makna yang tidak mudah dipindahkan begitu saja ke dalam logika kompetisi politik. Ia hidup dalam ruang batin umat, bukan sekadar dalam ruang kalkulasi kekuasaan.

Fenomena semacam ini sebenarnya dapat dibaca dalam perspektif sosiologi politik sebagai bagian dari praktik populisme religius. Populisme religius merujuk pada kecenderungan politik yang menggunakan simbol, bahasa, atau imajinasi religius untuk membangun kedekatan emosional dengan masyarakat. Dalam masyarakat yang religius seperti Indonesia, bahasa agama memiliki daya resonansi yang sangat kuat. Ia mampu menciptakan kesan kedekatan antara pemimpin dan rakyat, seolah-olah politik dan spiritualitas berjalan dalam satu irama.

Tidak mengherankan jika istilah religius sering muncul dalam pidato atau komunikasi politik para elite. Bahasa agama dianggap lebih mudah dipahami oleh masyarakat dan memiliki kekuatan simbolik yang besar. Namun di balik efektivitasnya sebagai alat komunikasi politik, populisme religius juga menyimpan risiko yang tidak kecil.

Salah satu risiko tersebut adalah banalisasi simbol religius. Ketika istilah-istilah yang sakral digunakan secara berulang dalam konteks politik praktis, makna spiritualnya dapat mengalami penyempitan. Simbol yang semula berkaitan dengan pengalaman religius manusia di hadapan Tuhan perlahan berubah menjadi sekadar metafora retorika dalam persaingan kekuasaan.

  • Penulis: Suko Wahyudi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Setan Diikat, Fraud Berlanjut?

    Setan Diikat, Fraud Berlanjut?

    • calendar_month Rabu, 25 Feb 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak
    • visibility 415
    • 0Komentar

    Ramadhan sejatinya adalah momentum audit diri. Dalam audit, ada istilah substantive test dan test of control. Banyak dari kita rajin melakukan “test of control” pada orang lain, mengawasi bawahan, mencurigai rekan kerja, memeriksa nota kecil sampai ke receh. Tapi lupa melakukan substantive test pada diri sendiri: apakah saya sudah jujur? Apakah saya sudah amanah? Lucunya, […]

  • Gerakan Nurani Bangsa: Demokrasi Indonesia Mengalami Kemunduran Serius

    Gerakan Nurani Bangsa: Demokrasi Indonesia Mengalami Kemunduran Serius

    • calendar_month Selasa, 13 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 271
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Gerakan Nurani Bangsa (GNB) menilai demokrasi Indonesia tengah menghadapi tantangan serius yang berpotensi melemahkan prinsip-prinsip dasar demokrasi, mulai dari kebebasan sipil, supremasi sipil, hingga kebebasan pers. Penilaian tersebut disampaikan dalam Konferensi Pers Pesan Kebangsaan Awal Tahun 2026, yang digelar di Grha Pemuda, Kompleks Gereja Katedral, Jalan Katedral No. 7B, Jakarta Pusat, Selasa (13/1/2026), […]

  • Umumkan Juara O2SN-FL2SN SD, Dinas Pendidikan Kota Ternate Siap Beri Dukungan Menuju Tingkat Provinsi Hingga Nasional

    Umumkan Juara O2SN-FL2SN SD, Dinas Pendidikan Kota Ternate Siap Beri Dukungan Menuju Tingkat Provinsi Hingga Nasional

    • calendar_month Senin, 28 Apr 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 131
    • 0Komentar

    Dinas Pendidikan Kota Ternate menggelar kegiatan penetapan dan penyerahan penghargaan kepada para pemenang lomba Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) dan Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FL2SN) tingkat Sekolah Dasar pada Kamis, 17 April 2025. Acara ini berlangsung di Aula Dinas Pendidikan Kota Ternate mulai pukul 15.00 WIT hingga selesai. Kegiatan ini merupakan agenda tahunan yang […]

  • Melayani Tamu Allah; Kisah di Balik Terminal Fast Track Haji

    Melayani Tamu Allah; Kisah di Balik Terminal Fast Track Haji

    • calendar_month Jumat, 30 Mei 2025
    • account_circle Nurmawan Pakaya
    • visibility 168
    • 0Komentar

    Pagi itu, langit di atas Bandara Soekarno-Hatta cerah tak biasa. Terminal 2F yang biasanya menjadi tempat pertemuan pesawat dan penumpang, hari itu menjelma menjadi panggung sejarah baru. Presiden Prabowo Subianto meresmikan Terminal Khusus Haji dan Umrah—simbol transformasi besar pelayanan ibadah di Indonesia, lengkap dengan sistem fast track imigrasi Arab Saudi. Namun, di balik kemegahan acara […]

  • Fatherless: Ayah Hilang di Neraca

    Fatherless: Ayah Hilang di Neraca

    • calendar_month Rabu, 21 Jan 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak
    • visibility 342
    • 0Komentar

    Di banyak keluarga Indonesia, ayah itu ibarat “aset tetap”. Kalau ada, sering tidak disadari nilainya. Kalau tidak ada, barulah neraca keuangan keluarga terasa jomplang. Fenomena fatherless, baik ayah pergi secara fisik, emosional, maupun spiritual, bukan cuma soal anak kehilangan figur panutan, tetapi juga soal neraca keluarga yang tiba-tiba timpang sebelah. Dalam bahasa akuntansi NU: ini […]

  • Nasib Petani Hutan di Gorontalo: Harga Anjlok, Akses Pasar Sulit, Solusi Diharapkan dari Kolaborasi HKm Play Button photo_camera 7

    Nasib Petani Hutan di Gorontalo: Harga Anjlok, Akses Pasar Sulit, Solusi Diharapkan dari Kolaborasi HKm

    • calendar_month Minggu, 2 Nov 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 285
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Nasib petani di kawasan penyangga Tahura BJ Habibie dan SM Nantu di Gorontalo tampaknya masih jauh dari sejahtera. Di tengah perjuangan mereka menanam dan merawat tanaman hingga masa panen, harga jual hasil pertanian kerap tidak berpihak pada mereka. Permasalahan ini kembali disoroti dalam Workshop bertema “Membangun Kolaborasi dan Memperkuat Jaringan Kemitraan Usaha untuk […]

expand_less