Lailatul Qadar dalam Retorika Kekuasaan
- account_circle Suko Wahyudi
- calendar_month Kamis, 12 Mar 2026
- visibility 136
- print Cetak

Menteri ESDM dan Ketum Partail Golkar, Bahlil Lahadalia/ Foto: Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Namun dalam praktik politik modern, nilai moral tersebut sering berhadapan dengan pragmatisme kekuasaan. Politik menjadi arena kompetisi yang sarat dengan strategi, simbol, dan kalkulasi elektoral. Dalam situasi seperti ini, simbol agama kadang digunakan sebagai bahasa populisme untuk membangun kedekatan emosional dengan masyarakat.
Masalahnya bukan pada penggunaan simbol agama itu sendiri, melainkan pada bagaimana simbol tersebut diperlakukan. Jika agama hanya dijadikan alat untuk memperkuat legitimasi politik, maka agama kehilangan fungsi moralnya sebagai pengingat bagi kekuasaan. Sebaliknya, jika agama ditempatkan sebagai sumber etika, ia justru dapat menjadi penyeimbang bagi ambisi politik yang berlebihan.
Polemik tentang kelakar Lailatul Qadar seharusnya dibaca dalam kerangka refleksi semacam ini. Ia bukan sekadar soal satu pernyataan seorang politisi, melainkan tentang bagaimana bahasa kekuasaan berinteraksi dengan kesadaran religius masyarakat. Dalam masyarakat yang religius, bahasa politik tidak pernah sepenuhnya netral. Ia selalu berhadapan dengan nilai-nilai yang hidup dalam kesadaran kolektif masyarakat.
Karena itu, para pemimpin publik perlu menyadari bahwa setiap kata yang mereka ucapkan memiliki dimensi simbolik yang luas. Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga cermin dari cara kekuasaan memandang masyarakatnya. Ketika bahasa politik kehilangan kepekaan terhadap simbol yang dianggap sakral, kepercayaan publik pun dapat dengan mudah terganggu.
- Penulis: Suko Wahyudi

Saat ini belum ada komentar