Lailatul Qadar dalam Retorika Kekuasaan
- account_circle Suko Wahyudi
- calendar_month Kamis, 12 Mar 2026
- visibility 137
- print Cetak

Menteri ESDM dan Ketum Partail Golkar, Bahlil Lahadalia/ Foto: Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Pada akhirnya, polemik ini memberikan pelajaran penting bagi kehidupan demokrasi Indonesia. Demokrasi tidak hanya membutuhkan prosedur yang adil, tetapi juga membutuhkan bahasa kekuasaan yang beradab. Politik yang matang bukan hanya tentang bagaimana memenangkan kursi kekuasaan, tetapi juga tentang bagaimana menjaga kehormatan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat.
Dalam masyarakat religius seperti Indonesia, simbol agama bukan sekadar metafora retorika. Ia adalah bagian dari pengalaman spiritual yang membentuk identitas kolektif bangsa. Ketika simbol tersebut memasuki arena politik, diperlukan kebijaksanaan agar makna sakralnya tidak larut dalam hiruk-pikuk perebutan kekuasaan. Sebab pada akhirnya, kekuasaan yang kehilangan kepekaan moral hanya akan menghasilkan politik yang kering dari nilai-nilai kemanusiaan.
Penulis : Pegiat Literasi Tinggal di Yogyakarta
- Penulis: Suko Wahyudi

Saat ini belum ada komentar