Akuntansi Kemenangan
- account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak
- calendar_month 22 jam yang lalu
- visibility 76
- print Cetak

Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak/ istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Di republik yang gemar membuat laporan ini, segala sesuatu rasanya perlu diaudit. Dari laporan keuangan negara sampai laporan perasaan mantan—semuanya ingin disusun rapi, kalau perlu dengan catatan kaki. Maka ketika Ramadhan tiba dan Idul Fitri menjelang, saya membayangkan satu hal: bagaimana kalau kemenangan spiritual juga kita perlakukan seperti laporan keuangan? Apakah kita layak mendapat opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari langit?
Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, humor bukan sekadar hiburan, melainkan cara halus untuk menyampaikan kebenaran. Seperti kata Abdurrahman Wahid, “Gitu saja kok repot.” Kalimat sederhana ini sebenarnya bisa menjadi standar audit hidup: kalau sesuatu bisa dibuat mudah tapi kita buat rumit, jangan-jangan kita sedang menumpuk “liabilitas batin”.
Ramadhan adalah periode tutup buku. Selama satu bulan, kita diminta mengendalikan “arus kas hawa nafsu” dan meningkatkan “aset kebajikan”. Masalahnya, banyak di antara kita yang rajin mencatat pemasukan pahala, tapi lupa mencatat beban moral. Ibarat perusahaan, kita sibuk mengakui pendapatan (revenue recognition), tapi menunda pengakuan kerugian (loss recognition). Padahal, dalam akuntansi yang sehat—dan juga dalam hidup yang waras—keduanya harus seimbang.
Mari kita lihat fenomena yang cukup populer: buka puasa bersama. Secara sosial ini indah, mempererat silaturahim. Namun secara akuntansi spiritual, kadang-kadang ini menjadi ajang “window dressing”. Foto diunggah, caption penuh doa, tapi hati masih menyimpan iri, dengki, dan cicilan emosi yang belum lunas. Ini seperti laporan keuangan yang kinclong di permukaan, tapi penuh rekayasa di balik layar.
- Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak

Saat ini belum ada komentar