Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Lailatulqadar: Mengapa Harus Malam?

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Minggu, 16 Mar 2025
  • visibility 215
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Hari, bulan dan tahun merupakan siklus hidup manusia yang diukur menurut satuan waktu dengan berdasarkan peredaran bumi, bulan dan matahari. Siklus hari manusia terbagi dalam dua babakan, yaitu malam dan siang. Dalam penciptaan keduanya, begitu sangat istimewa sehingga Allah mengulang-ulang penciptaan malam dan siang sebagai pelajaran bagi orang-orang yang berpikir (QS. 3:190, 11:3, 16:12, 23:80, 24:44 dan 45:5), beriman (QS. 27:86) bertakwa (QS. 10:6) dan bersyukur (QS. 25:62).

Dalam penciptaan malam dan siang begitu banyak pelajaran, inspirasi dan hikmah yang berlapis-lapis hingga memantik nalar sains, memacu refleksi filosofis hingga memacu raihan supremasi mistis. Hal inilah mengapa Al-Qur’an berulang kali menyebut kata malam dan siang secara berulang. Kata malam disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak 100 kali dan kata siang sebanyak 54 kali. Sebanyak 47 kali kata malam dan siang disebut beriringan dalam satu ayat atau dalam dua ayat yang berurutan.

Penyebutan malam dan siang secara berurutan dalam Al-Qur’an mengandung beberapa maksud selain sebagai bahan pelajaran bagi manusia. Pertama, memberikan informasi tentang peredaran astronomis bulan dan matahari (QS. 14;33 21:33 dan 36:40), Kedua, sebagai satuan perhitungan waktu (QS. 17:12). Ketiga, berkenaan dengan waktu ibadah (salat dan puasa) (QS. 11:114 dan 2:187). Keempat, penjelasan tentang signifikansi malam dan siang bagi manusia, yaitu sebagai waktu beristirahat dan beraktivitas, tentang ini disebut berulang kali dalam Al-Qur’an di antaranya dalam QS. 10:67, 25:47 dan 78:10-11.

Hampir semua ayat Al-Qur’an yang menyebut kata malam lebih dahulu daripada siang, yaitu sebanyak 45 kali, hanya dua kali kata siang lebih dahulu disebutkan, yaitu dalam QS. 71:5 yang berkenaan dengan ucapan Nabi Nuh as kepada Allah bahwa ia telah berdakwah kepada kaumnya “siang dan malam” dan QS. 91:3-4 karena surat tersebut adalah surat al-Syams (matahari).

Mengapa malam lebih dahulu disebutkan oleh Al-Qur’an daripada siang (layl wa nahar)?. Karena pada dasarnya malam adalah permulaan dari hari. Baik dalam kalender lunar maupun solar, keduanya menjadikan malam sebagai permulaan pergantian hari dan tanggal. Perbedaannya kalender lunar menjadikan waktu matahari terbenam sebagai awal hari sedangkan kalender solar menjadikan pertengahan malam (mid night) sebagai waktu pergantian tanggal

Malam sebagai permulaan hari adalah awal dari siklus aktivitas harian kita, karenanya waktu malam adalah waktu yang paling efektif dan utama untuk memperbanyak permenungan dan ibadah sebagai bekal bagi jiwa untuk menjalani aktivitas perjuangan di tengah hingar-bingar aktivitas di siang hari.

Aktivitas harian dimulai dengan permenungan dan ketenangan kemudian tindakan dan kesibukan. Awal aktivitas adalah malam yang tenang, momen kita lebih banyak berdialog dengan diri sendiri dan bermunajat kepada Allah. Selanjutnya pada siang hari kita berinteraksi dengan manusia lain dalam riuh aktivitas dunia demi mencari sebagian karunia Allah.

Malam adalah bagian feminim dari waktu, ibarat ibu dengan sisi nurturing (pengasuhan) yang memberikan kita keteduhan dan ketenangan, sehingga menjadi momen yang tepat untuk beristirahat, merenung dan beribadah. Sedangkan siang adalah bagian maskulinnya, ibarat seorang ayah yang penuh perjuangan (struggle), sehingga siang adalah momen bagi kita beraktivitas mencari karunia Allah untuk penghidupan kita dan keluarga kita. Malam adalah kesenyapan sedangkan siang adalah kebisingan, pada malam hari lebih banyak aktivitas rohani sedangkan siang lebih dominan pada aktivitas jasmani.

Mengapa malam lebih dahulu disebutkan daripada siang?. Karena manusia membutuhkan nurturing agar bisa struggle. Aspek nurturing yang kita cerap di malam hari menjadi pemandu bagi struggle kita di tengah dunia pada siang hari. Aktivitas manusia mesti dimulai dengan pematangan dan penguatan rohani sebagai daya yang digunakan bagi aktivitas jasmani.Malam diisi dengan aktivitas rohani sebagai pakaian yang digunakan untuk melindungi diri saat berkutat dalam aktivitas jasmani di siang hari. Nilai dan spirit ukhrawi menjadi landasan bagi seluruh aktivitas duniawi, sehingga segala aktivitas duniawi pun akhirnya bernilai ukhrawi.

Itulah mengapa dipilih malam sebagai momen “tumpah ruahnya” berkah Allah kepada manusia. Lailatulqadar adalah malam puncak nurturing tahunan yang mengisi daya rohani manusia agar mencapai kematangan dan ketenangan paripurna. Lailatulqadar adalah malam puncak yang mengantarkan kita pada transformasi spiritual yang sempurna meninggalkan karakter ammarah dan mengafirmasi karakter muthmainnah.

Pada malam lailatuqadar kita dianjurkan untuk memperbanyak ibadah, menyapa Allah dengan pengharapan, memohon ampunanNya dengan rintihan, memuja dan memujiNya dengan penuh cinta, merendahkan diri dan mengagungkanNya dengan rukuk dan sujud. Lailatulqadar adalah momen nurturing sebagai titik balik rohani yang menjadikan kita manusia yang lebih arif, lebih penyayang, lebih lembut, lebih tawaduk dan segala kualitas rohaniah lainnya, untuk kita implementasikan dalam kehidupan kita. Inilah konteks “menuhan” sebagai cita ideal Ramadan dan selanjutnya kita menahun bersama Tuhan. Hal inilah yang dimaksud dalam hadis “berakhlak sebagaimana akhlak Allah”.

Perintah menahan dari ibadah puasa adalah jalan bagi kita untuk mengaktivasi rohani untuk bisa “melangit”, sebagai pelindung bagi jasmani kita yang membumi. Malam Lailatulqadar adalah malam puncak aktivasi rohani karena di malam tersebut dimensi langit dan bumi terhubung berkat turunnya Al-Qur’an dari langit kepada seorang makhluk bumi bernama Muhamamd bin Abdullah saw.

Al-Qur’an dan Muhammad saw adalah esensi dari keagungan malam lailatulqadar. Malam itu adalah momen puncak aktivasi jasmani yang menahan menuju transformasi rohani yang “menuhan”. Melalui washilah Al-Qur’an dan Muhamamd saw, agar kita senantiasa menahun bersama Tuhan.

Angkatlah Al-Qur’an di atas kepala dalam takzim dan washilah kepada al-Mustafa kita berserah dan memohon kepada Allah. Mahasuci Engkau, tiada Tuhan selain Engkau, bebaskanlah kami dari siksa api neraka. Sampaikanlah salam kami kepada Muhammad dan keluarganya.

Penulis : Dr. Sabara Nuruddin – (Peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional)

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Belum Genap 100 Hari Bekerja, Adhan Dambea dan Indra Gobel di Demo Kasus Korupsi

    Belum Genap 100 Hari Bekerja, Adhan Dambea dan Indra Gobel di Demo Kasus Korupsi

    • calendar_month Jumat, 28 Mar 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 193
    • 0Komentar

    Terkait penanganan sejumlah kasus korupsi di Kota Gorontalo yang dinilai lamban, ratusan massa aksi seruduk Kantor Wali Kota Gorontalo, pada Senin (17/3/2025). Pemerintahan Wali Kota Adhan Dambea dan Wakil Wali Kota Indra Gobel diminta untuk tidak tinggal diam dalam penanganan kasus korupsi di Kota Gorontalo yang telah merugikan negara ratusan rupiah. Meski sibuk dalam penanganan […]

  • Tarawih Tanpa Manipulasi

    Tarawih Tanpa Manipulasi

    • calendar_month Kamis, 19 Feb 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 330
    • 0Komentar

    Ramadhan selalu menghadirkan fenomena tahunan yang menarik untuk diamati dengan kacamata akuntansi: masjid penuh, saf rapat, parkir meluber, dan sandal kadang tertukar sebuah metafora kecil tentang risiko pengendalian internal. Namun yang paling menarik adalah tarawih: ibadah malam yang khusyuk, sekaligus ladang potensial “manipulasi spiritual”. Dalam dunia akuntansi, manipulasi bisa terjadi ketika laporan keuangan disusun bukan […]

  • Matoduwolo Kiyai, Mari Kiyai, Silahkan Kiyai

    Matoduwolo Kiyai, Mari Kiyai, Silahkan Kiyai

    • calendar_month Minggu, 13 Nov 2022
    • account_circle Asrul G.H. Lasapa
    • visibility 165
    • 0Komentar

    Di mana-mana, sering kita mendengar panggilan “kiyai” kepada seseorang. Panggilan ini disampaikan dalam berbagai kesempatan, khususnya pada momen-momen keagamaan. Tak peduli apakah seseorang yang dipanggil kiyai tersebut pantas menyandang gelar sakral ini atau tidak. Entah parameter apa yang dipakai sehingga begitu mudahnya sebutan kiyai dialamatkan kepada seseorang..  Apakah setiap penceramah, ustadz atau guru agama, bisa […]

  • Maksiat Digital

    Maksiat Digital

    • calendar_month Minggu, 25 Jan 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 460
    • 0Komentar

    Di pesantren, judi itu haram. Di kampus, judi itu dilarang. Di negara, judi itu pidana. Tapi di gawai kita, judi online atau yang lebih akrab disebut judol, sering tampil seperti iklan sedekah: “modal kecil, hasil besar.” Gus Dur mungkin akan tersenyum getir sambil berkata, “Ini bukan soal untung atau rugi, tapi soal siapa yang paling […]

  • Ronaldo ke Indonesia Bukan di Undang PSSI, Lantas Siapa?

    Ronaldo ke Indonesia Bukan di Undang PSSI, Lantas Siapa?

    • calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 154
    • 0Komentar

    Megabintang Al Nassr, Cristiano Ronaldo, menerima keputusan nekat timnya sebelum persiapan ke Indonesia. Kabar kedatangan Cristiano Ronaldo ke Indonesia diiringi dengan kontroversi Al Nassr. Cristiano Ronaldo dikabarkan akan tiba di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk kegiatan sosial. Ia diundang oleh Dr. Susi Marya Kapitana selaku pemimpin Yayasan Graha Kasih. Rencananya, mantan bintang Real Madrid […]

  • Ratusan Siswa SMK HKBP Sidikalang Diduga Keracunan MBG, Jalani Perawatan di Sejumlah Faskes

    Ratusan Siswa SMK HKBP Sidikalang Diduga Keracunan MBG, Jalani Perawatan di Sejumlah Faskes

    • calendar_month Rabu, 11 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 293
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Ratusan siswa SMK HKBP Sidikalang, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, diduga mengalami keracunan usai mengonsumsi menu program Makan Bergizi Gratis (MBG). Para siswa terpaksa dilarikan ke sejumlah fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan medis, Selasa (10/2/2026). Berdasarkan pantauan di lapangan, para siswa dirawat di RSUD Sidikalang, UPT Puskesmas Hutarakyat, serta Klinik Katolik. Informasi yang dihimpun […]

expand_less