Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Dakwah dengan Akhlak, Bukan Amarah: Pesan KH. Hasyim Asy’ari yang Relevan Hingga Kini

  • account_circle Djemi Radji
  • calendar_month Kamis, 12 Feb 2026
  • visibility 469
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

nulondalo.com – Bagaimana seharusnya Islam hadir di tengah masyarakat yang belum sepenuhnya menjalankan syariat? Pertanyaan inilah yang menjadi pokok bahasan dalam sebuah pengajian yang digelar secara mendadak dan disiarkan melalui kanal youtube NUtizen Televisi, pada dua tahun yang lalu.

Pengajian tersebut disampaikan oleh KH. Abdullah Aniq Nawawi, MA, Katib Syuriyah PWNU Gorontalo sekaligus Pengurus Lembaga Bahtsul Masail PBNU. Ia juga dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Pohuwato.

Dalam pegajian bertemakan ‘Islam dan Masyarakat dalam Pandangan KH. Hasyim Asy’ari’, Gus Aniq mengajak warga Nahdlatul Ulama menelusuri pandangan KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, tentang bagaimana ulama dan dai seharusnya menghadapi realitas sosial yang kerap tidak ideal. Mulai dari masyarakat yang belum salat, masih mengonsumsi minuman keras, hingga perilaku yang dinilai bertentangan dengan ajaran agama.

Menurutnya, pendekatan Islam ala Ahlussunnah wal Jama’ah, sebagaimana diwariskan para ulama NU, tidak bertumpu pada kemarahan apalagi penghakiman, melainkan pada akhlak, kebijaksanaan, dan kesabaran.

Nahdlatul Ulama (NU) menegaskan pentingnya dakwah yang berorientasi pada manhaj wasathiyyah atau pendekatan moderasi. Prinsip tersebut dirumuskan dalam Khashaish Aswaja An-Nahdhiyyah yang ditetapkan melalui Keputusan Muktamar NU ke-33 di Jombang, Jawa Timur, pada 2015. Pendekatan ini menekankan keseimbangan, toleransi, serta cara penyampaian yang bijak di tengah keberagaman masyarakat.

Ustad Ahmad Ali MD, sebagaimana dilansir dari laman resmi NU, menjelaskan bahwa prinsip dakwah dapat merujuk pada Al-Qur’an, di antaranya Surat An-Nahl ayat 125 dan Surat Ali Imran ayat 110. Ayat tersebut mengajarkan agar dakwah dilakukan dengan hikmah, nasihat yang baik, serta dialog yang santun dan proporsional. Selain itu, umat Islam juga didorong untuk menjalankan amar makruf nahi munkar sebagai bagian dari identitas umat terbaik.

Dalam praktiknya, pola dakwah yang dianjurkan meliputi tiga pendekatan utama, yakni bil hikmah (kebijaksanaan), bil mau’izhah al-hasanah (nasihat yang baik), dan bil mujadalah billati hiya ahsan (perdebatan yang dilakukan secara adil dan santun). NU juga menekankan pentingnya penguatan Trilogi Ukhuwah yang mencakup ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama Muslim), ukhuwah wathaniyyah (persaudaraan kebangsaan), serta ukhuwah basyariyah atau insaniyyah (persaudaraan kemanusiaan).

Lebih lanjut, dalam menjalankan dakwah amar makruf nahi munkar, seorang dai atau daiyah diharapkan memenuhi sejumlah syarat moral dan spiritual. Dalam kitab al-Ghunyah li Thalib Thariq al-Haqq, Sulthanul Auliya’ Syaikh ‘Abdul Qadir Al Jilani menekankan bahwa dakwah harus dilakukan dengan niat meraih ridha Allah, bukan untuk riya, sum’ah, atau mencari popularitas. Tujuan utamanya adalah membimbing masyarakat agar meninggalkan kemungkaran dan menuju kebaikan secara ikhlas.

Di tengah derasnya arus informasi digital, prinsip dakwah moderat menjadi semakin relevan. Para dai diharapkan mampu memanfaatkan teknologi tanpa meninggalkan etika dakwah yang santun, sejuk, dan menyejukkan, sehingga pesan keagamaan dapat diterima luas sekaligus menjaga harmoni sosial di tengah masyarakat yang beragam.

Merujuk pada kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim karya KH. Hasyim Asy’ari, Gus Aniq menjelaskan bahwa seorang ulama atau dai memiliki setidaknya 20 adab dan karakter yang harus dijaga. Salah satu yang paling ditekankan adalah adab ke-16, yakni menghadapi masyarakat dengan akhlak yang mulia.

Namun, akhlak di sini tidak boleh dipersempit maknanya sebatas etika lahiriah.

“Akhlak itu bukan hanya cium tangan atau bahasa yang halus. Akhlak adalah karakter jiwa,” tegasnya dalam pengajian tersebut.

Penjelasan ini sejalan dengan pandangan Imam Fakhruddin ar-Razi yang mendefinisikan akhlak sebagai malakah nafsaniyah, yakni karakter batin yang mendorong seseorang melakukan kebaikan secara spontan, konsisten, dan tanpa paksaan.

Islam Mengajarkan Keseimbangan Hidup

Dalam pengajian tersebut, Gus Aniq juga menyinggung pentingnya prinsip tawazun (keseimbangan) dalam Islam. Ia mengisahkan peristiwa sahabat Abu Darda dan Salman al-Farisi, yang kemudian diluruskan langsung oleh Rasulullah SAW.

Rasulullah menegaskan bahwa setiap manusia memiliki hak dan kewajiban yang harus ditunaikan secara adil: kepada Allah, kepada diri sendiri, kepada keluarga, dan kepada masyarakat.

“Tubuhmu punya hak, istrimu punya hak, dan Tuhanmu punya hak. Maka tunaikanlah semuanya secara adil,” pesan Rasulullah SAW.

Kisah ini menjadi penegasan bahwa Islam tidak mengajarkan sikap berlebihan dalam ibadah hingga melalaikan tanggung jawab sosial dan keluarga. Keberagamaan yang benar justru lahir dari keseimbangan antara ibadah, kehidupan pribadi, dan peran sosial.

Menariknya, pengajian ini juga mengaitkan akhlak Islam dengan nilai cinta tanah air (hubbul wathan). Meski tidak disebutkan secara eksplisit dalam satu ayat Al-Qur’an, para ulama menemukan banyak isyarat tentang pentingnya ikatan manusia dengan tanah kelahirannya.

Salah satunya melalui tafsir ayat yang menggambarkan betapa beratnya perintah meninggalkan kampung halaman, yang disandingkan dengan perintah membunuh diri sendiri. Dari ayat ini, para ulama menyimpulkan bahwa mencintai tanah air adalah bagian dari fitrah manusia dan sejalan dengan nilai-nilai Islam.

“Keluar dari tanah air itu berat, sebagaimana beratnya kehilangan nyawa. Maka mencintai negeri adalah bagian dari akhlak Islam,” jelas KH. Abdullah Aniq Nawawi.

Di tengah dinamika sosial dan perbedaan pandangan keagamaan yang kerap mengeras, pesan KH. Hasyim Asy’ari yang diulas kembali dalam pengajian ini terasa semakin relevan. Islam tidak hadir untuk menakut-nakuti, melainkan untuk membimbing dan memperbaiki.

Bagi masyarakat Gorontalo yang dikenal religius serta menjunjung tinggi adat dan kearifan lokal, pendekatan dakwah yang santun dan seimbang ini menjadi pengingat bahwa keberagamaan tidak hanya diukur dari ritual semata, tetapi juga dari akhlak, karakter, dan sikap dalam kehidupan sehari-hari.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Eks Kapolres Bima Kota Dipecat Tidak Hormat, KKEP Nyatakan Terbukti Terlibat Narkoba dan Pelanggaran Berat

    Eks Kapolres Bima Kota Dipecat Tidak Hormat, KKEP Nyatakan Terbukti Terlibat Narkoba dan Pelanggaran Berat

    • calendar_month Jumat, 20 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 213
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Sidang Komisi Kode Etik Polri (KKEP) terhadap eks Kapolres Bima Kota AKBP DPK resmi menjatuhkan sanksi Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH). Putusan tersebut dibacakan dalam sidang etik yang digelar di Gedung TNCC Mabes Polri, Kamis (19/2/2026). Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divhumas Polri, Trunoyudo Wisnu Andiko, menyampaikan bahwa sidang berlangsung sejak pukul 09.00 hingga […]

  • Ketua DPD FKPR Desak BK DPRD Provinsi Gorontalo Jangan jadi pelindung kode etik

    Ketua DPD FKPR Desak BK DPRD Provinsi Gorontalo Jangan jadi pelindung kode etik

    • calendar_month Minggu, 7 Sep 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 146
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Ketua DPD Forum Kaum Pembela Rakyat (FKPR) Kota Gorontalo, Ikbal Ka’u, kembali menyuarakan kritik keras terhadap kinerja Badan Kehormatan (BK) DPRD Provinsi Gorontalo. Dalam pernyataannya, ia menilai BK DPRD seolah-olah menjalankan fungsi pengawasan etik secara tebang pilih. Ikbal menyampaikan apresiasi bahwa BK DPRD mampu menyelesaikan persoalan terkait ucapan kontroversial anggota DPRD, Wahyu Moridu, […]

  • Adhan Dambea dan Rachmat Gobel Bahas Pembangunan Gorontalo, Masjid Agung Baiturrahim Direncanakan Dua Lantai

    Adhan Dambea dan Rachmat Gobel Bahas Pembangunan Gorontalo, Masjid Agung Baiturrahim Direncanakan Dua Lantai

    • calendar_month Minggu, 15 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 264
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Wali Kota Gorontalo, Adhan Dambea menerima kunjungan silaturahmi Anggota DPR RI, Rachmat Gobel pada Ahad (15/3/2026). Anggota DPR RI dua periode tersebut datang bersama sejumlah tokoh Gorontalo dari Partai NasDem dan disambut langsung oleh Wali Kota Adhan di rumah jabatan wali kota. Dalam pertemuan tersebut, Adhan turut didampingi Wakil Wali Kota Gorontalo, Indra […]

  • Hadapi Musim Kemarau, DLHK dan BPBD Gorontalo Rutin Siram Tanaman di GORR

    Hadapi Musim Kemarau, DLHK dan BPBD Gorontalo Rutin Siram Tanaman di GORR

    • calendar_month Senin, 6 Jul 2026
    • account_circle Ikbal Kau
    • visibility 163
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pemerintah Provinsi Gorontalo melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) berkolaborasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Gorontalo melakukan penyiraman tanaman di sepanjang Jalan Gorontalo Outer Ring Road (GORR) sebagai langkah antisipasi menghadapi musim kemarau yang mulai melanda sejumlah wilayah. Kegiatan penyiraman dilakukan secara rutin dengan melibatkan personel DLHK serta armada tangki […]

  • Puluhan Ulama Perempuan Isi Pengajian Ramadan yang digagas KUPI

    Puluhan Ulama Perempuan Isi Pengajian Ramadan yang digagas KUPI

    • calendar_month Rabu, 26 Mar 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 229
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) baru saja meluncurkan (launching) program Ngaji KUPI Ramadan 1446 Hijriah pada Jumat, 28 Februari 2025. Acara pembukaan tersebut digelar secara daring melalui Zoom Meeting yang dihadiri oleh puluhan ulama perempuan dan lembaga jejaring KUPI. Pertemuan dipandu langsung oleh penulis dan pegiat isu gender, Kalis Mardiasih. Melalui rangkaian pengajian […]

  • Catatan Redaksi : Perdamaian yang Datang Bersama Proposal

    Catatan Redaksi : Perdamaian yang Datang Bersama Proposal

    • calendar_month Rabu, 28 Jan 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 372
    • 0Komentar

    Di dunia diplomasi modern, perdamaian jarang hadir sebagai nilai yang berdiri sendiri. Ia hampir selalu datang bersama proposal, bagan struktur organisasi, masa keanggotaan, dan daftar kebutuhan anggaran. Perdamaian bukan lagi sekadar cita-cita moral, melainkan sebuah proyek lengkap dengan terminologi teknokratis yang rapi dan bahasa yang sengaja dilembutkan. Karena itu, tidak mengherankan ketika Indonesia bergabung dalam […]

expand_less