Breaking News
light_mode
Trending Tags

Dakwah dengan Akhlak, Bukan Amarah: Pesan KH. Hasyim Asy’ari yang Relevan Hingga Kini

  • account_circle Djemi Radji
  • calendar_month Kamis, 12 Feb 2026
  • visibility 339
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

nulondalo.com – Bagaimana seharusnya Islam hadir di tengah masyarakat yang belum sepenuhnya menjalankan syariat? Pertanyaan inilah yang menjadi pokok bahasan dalam sebuah pengajian yang digelar secara mendadak dan disiarkan melalui kanal youtube NUtizen Televisi, pada dua tahun yang lalu.

Pengajian tersebut disampaikan oleh KH. Abdullah Aniq Nawawi, MA, Katib Syuriyah PWNU Gorontalo sekaligus Pengurus Lembaga Bahtsul Masail PBNU. Ia juga dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Pohuwato.

Dalam pegajian bertemakan ‘Islam dan Masyarakat dalam Pandangan KH. Hasyim Asy’ari’, Gus Aniq mengajak warga Nahdlatul Ulama menelusuri pandangan KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, tentang bagaimana ulama dan dai seharusnya menghadapi realitas sosial yang kerap tidak ideal. Mulai dari masyarakat yang belum salat, masih mengonsumsi minuman keras, hingga perilaku yang dinilai bertentangan dengan ajaran agama.

Menurutnya, pendekatan Islam ala Ahlussunnah wal Jama’ah, sebagaimana diwariskan para ulama NU, tidak bertumpu pada kemarahan apalagi penghakiman, melainkan pada akhlak, kebijaksanaan, dan kesabaran.

Nahdlatul Ulama (NU) menegaskan pentingnya dakwah yang berorientasi pada manhaj wasathiyyah atau pendekatan moderasi. Prinsip tersebut dirumuskan dalam Khashaish Aswaja An-Nahdhiyyah yang ditetapkan melalui Keputusan Muktamar NU ke-33 di Jombang, Jawa Timur, pada 2015. Pendekatan ini menekankan keseimbangan, toleransi, serta cara penyampaian yang bijak di tengah keberagaman masyarakat.

Ustad Ahmad Ali MD, sebagaimana dilansir dari laman resmi NU, menjelaskan bahwa prinsip dakwah dapat merujuk pada Al-Qur’an, di antaranya Surat An-Nahl ayat 125 dan Surat Ali Imran ayat 110. Ayat tersebut mengajarkan agar dakwah dilakukan dengan hikmah, nasihat yang baik, serta dialog yang santun dan proporsional. Selain itu, umat Islam juga didorong untuk menjalankan amar makruf nahi munkar sebagai bagian dari identitas umat terbaik.

Dalam praktiknya, pola dakwah yang dianjurkan meliputi tiga pendekatan utama, yakni bil hikmah (kebijaksanaan), bil mau’izhah al-hasanah (nasihat yang baik), dan bil mujadalah billati hiya ahsan (perdebatan yang dilakukan secara adil dan santun). NU juga menekankan pentingnya penguatan Trilogi Ukhuwah yang mencakup ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama Muslim), ukhuwah wathaniyyah (persaudaraan kebangsaan), serta ukhuwah basyariyah atau insaniyyah (persaudaraan kemanusiaan).

Lebih lanjut, dalam menjalankan dakwah amar makruf nahi munkar, seorang dai atau daiyah diharapkan memenuhi sejumlah syarat moral dan spiritual. Dalam kitab al-Ghunyah li Thalib Thariq al-Haqq, Sulthanul Auliya’ Syaikh ‘Abdul Qadir Al Jilani menekankan bahwa dakwah harus dilakukan dengan niat meraih ridha Allah, bukan untuk riya, sum’ah, atau mencari popularitas. Tujuan utamanya adalah membimbing masyarakat agar meninggalkan kemungkaran dan menuju kebaikan secara ikhlas.

Di tengah derasnya arus informasi digital, prinsip dakwah moderat menjadi semakin relevan. Para dai diharapkan mampu memanfaatkan teknologi tanpa meninggalkan etika dakwah yang santun, sejuk, dan menyejukkan, sehingga pesan keagamaan dapat diterima luas sekaligus menjaga harmoni sosial di tengah masyarakat yang beragam.

Merujuk pada kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim karya KH. Hasyim Asy’ari, Gus Aniq menjelaskan bahwa seorang ulama atau dai memiliki setidaknya 20 adab dan karakter yang harus dijaga. Salah satu yang paling ditekankan adalah adab ke-16, yakni menghadapi masyarakat dengan akhlak yang mulia.

Namun, akhlak di sini tidak boleh dipersempit maknanya sebatas etika lahiriah.

“Akhlak itu bukan hanya cium tangan atau bahasa yang halus. Akhlak adalah karakter jiwa,” tegasnya dalam pengajian tersebut.

Penjelasan ini sejalan dengan pandangan Imam Fakhruddin ar-Razi yang mendefinisikan akhlak sebagai malakah nafsaniyah, yakni karakter batin yang mendorong seseorang melakukan kebaikan secara spontan, konsisten, dan tanpa paksaan.

Islam Mengajarkan Keseimbangan Hidup

Dalam pengajian tersebut, Gus Aniq juga menyinggung pentingnya prinsip tawazun (keseimbangan) dalam Islam. Ia mengisahkan peristiwa sahabat Abu Darda dan Salman al-Farisi, yang kemudian diluruskan langsung oleh Rasulullah SAW.

Rasulullah menegaskan bahwa setiap manusia memiliki hak dan kewajiban yang harus ditunaikan secara adil: kepada Allah, kepada diri sendiri, kepada keluarga, dan kepada masyarakat.

“Tubuhmu punya hak, istrimu punya hak, dan Tuhanmu punya hak. Maka tunaikanlah semuanya secara adil,” pesan Rasulullah SAW.

Kisah ini menjadi penegasan bahwa Islam tidak mengajarkan sikap berlebihan dalam ibadah hingga melalaikan tanggung jawab sosial dan keluarga. Keberagamaan yang benar justru lahir dari keseimbangan antara ibadah, kehidupan pribadi, dan peran sosial.

Menariknya, pengajian ini juga mengaitkan akhlak Islam dengan nilai cinta tanah air (hubbul wathan). Meski tidak disebutkan secara eksplisit dalam satu ayat Al-Qur’an, para ulama menemukan banyak isyarat tentang pentingnya ikatan manusia dengan tanah kelahirannya.

Salah satunya melalui tafsir ayat yang menggambarkan betapa beratnya perintah meninggalkan kampung halaman, yang disandingkan dengan perintah membunuh diri sendiri. Dari ayat ini, para ulama menyimpulkan bahwa mencintai tanah air adalah bagian dari fitrah manusia dan sejalan dengan nilai-nilai Islam.

“Keluar dari tanah air itu berat, sebagaimana beratnya kehilangan nyawa. Maka mencintai negeri adalah bagian dari akhlak Islam,” jelas KH. Abdullah Aniq Nawawi.

Di tengah dinamika sosial dan perbedaan pandangan keagamaan yang kerap mengeras, pesan KH. Hasyim Asy’ari yang diulas kembali dalam pengajian ini terasa semakin relevan. Islam tidak hadir untuk menakut-nakuti, melainkan untuk membimbing dan memperbaiki.

Bagi masyarakat Gorontalo yang dikenal religius serta menjunjung tinggi adat dan kearifan lokal, pendekatan dakwah yang santun dan seimbang ini menjadi pengingat bahwa keberagamaan tidak hanya diukur dari ritual semata, tetapi juga dari akhlak, karakter, dan sikap dalam kehidupan sehari-hari.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • DPR Mengusulkan Sistim Pemilu Campuran Demi Perkuat Demokrasi

    DPR Mengusulkan Sistim Pemilu Campuran Demi Perkuat Demokrasi

    • calendar_month Rabu, 26 Mar 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 114
    • 0Komentar

    Anggota Komisi II DPR RI Ahmad Doli Kurnia Tandjung, mengusulkan untuk diadaptasinya sistem pemilu campuran dalam rangka untuk memperkuat sistem demokrasi di Indonesia. Hal itu disampaikannya dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Komisi II yang membahas evaluasi Pemilu Serentak 2024 dan penataan sistem pemilu untuk perubahan Undang-Undang Pemilu dan Undang-Undang Pilkada. RDPU tersebut menghadirkan sejumlah, […]

  • Adhan Dambea dan Rachmat Gobel Bahas Pembangunan Gorontalo, Masjid Agung Baiturrahim Direncanakan Dua Lantai

    Adhan Dambea dan Rachmat Gobel Bahas Pembangunan Gorontalo, Masjid Agung Baiturrahim Direncanakan Dua Lantai

    • calendar_month Minggu, 15 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 226
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Wali Kota Gorontalo, Adhan Dambea menerima kunjungan silaturahmi Anggota DPR RI, Rachmat Gobel pada Ahad (15/3/2026). Anggota DPR RI dua periode tersebut datang bersama sejumlah tokoh Gorontalo dari Partai NasDem dan disambut langsung oleh Wali Kota Adhan di rumah jabatan wali kota. Dalam pertemuan tersebut, Adhan turut didampingi Wakil Wali Kota Gorontalo, Indra […]

  • Eks Kapolres Bima Kota Dipecat Tidak Hormat, KKEP Nyatakan Terbukti Terlibat Narkoba dan Pelanggaran Berat

    Eks Kapolres Bima Kota Dipecat Tidak Hormat, KKEP Nyatakan Terbukti Terlibat Narkoba dan Pelanggaran Berat

    • calendar_month Jumat, 20 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 144
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Sidang Komisi Kode Etik Polri (KKEP) terhadap eks Kapolres Bima Kota AKBP DPK resmi menjatuhkan sanksi Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH). Putusan tersebut dibacakan dalam sidang etik yang digelar di Gedung TNCC Mabes Polri, Kamis (19/2/2026). Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divhumas Polri, Trunoyudo Wisnu Andiko, menyampaikan bahwa sidang berlangsung sejak pukul 09.00 hingga […]

  • Uwais Al-Qarni: Istimewa Meski Tak Bertemu Nabi (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan # 29)

    Uwais Al-Qarni: Istimewa Meski Tak Bertemu Nabi (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan # 29)

    • calendar_month Kamis, 19 Mar 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 257
    • 0Komentar

    Pada edisi terakhir tulisan Ramadan tahun 2026 ini, saya menutupnya dengan kisah seorang tokoh yang unik dan penuh teladan: Uwais al-Qarni. Namanya mungkin terdengar asing dibanding tokoh-tokoh sahabat yang lain, tetapi kisah hidupnya menyimpan pelajaran yang mendalam tentang kesalehan, ketulusan, dan bakti kepada orang tua. Meskipun hidup sezaman dengan Nabi Muhammad, Uwais tidak dikategorikan sebagai […]

  • Kopma Unhas Fair 2025: Menakar Peluang Ekonomi Menuju Indonesia Emas 2045

    Kopma Unhas Fair 2025: Menakar Peluang Ekonomi Menuju Indonesia Emas 2045

    • calendar_month Selasa, 16 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 141
    • 0Komentar

    Nulondalo.com—Koperasi Mahasiswa Universitas Hasanuddin (Kopma Unhas) kembali menunjukkan perannya sebagai ruang belajar dan inkubator gagasan ekonomi mahasiswa melalui penyelenggaraan Kopma Unhas Fair 2025, yang digelar pada Sabtu, 13 Desember 2025 di Unhas TV. Mengusung tema “Ekonomi Kolektif, Generasi Inovatif”, kegiatan tahunan ini menjadi refleksi semangat Kopma Unhas dalam membangun kesadaran ekonomi berbasis kebersamaan sekaligus mendorong […]

  • Obat Keras Tanpa Izin Edar Ditemukan di Pasar Tradisional

    Obat Keras Tanpa Izin Edar Ditemukan di Pasar Tradisional

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 119
    • 0Komentar

    Tim Kerja Farmasi, Alat Kesehatan, dan PKRT Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo Utara melakukan inspeksi mendadak (sidak) di sejumlah pasar tradisional dan menemukan peredaran obat keras tanpa izin yang mengkhawatirkan serta obat tradisional yang tidak memiliki izin edar BPOM yang dicurigai mengandung obat keras. Pasar-pasar yang menjadi lokasi temuan antara lain Pasar Tolinggula, Pasar Dulukapa, Pasar […]

expand_less