Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Senja di Panti Waluya: Luka Anak Bangsa dan Rumah bagi Mereka yang Pernah Dibuang

  • account_circle Suaib Prawono
  • calendar_month Senin, 29 Sep 2025
  • visibility 167
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Siang itu, Jakarta enggan berkompromi. Matahari menyengat tanpa ampun, membakar aspal dan menyilaukan pandangan. Di tengah hiruk-pikuk ibu kota, rombongan peserta Temu Nasional Gusdurian 2025 melangkah pelan, menyusuri lorong-lorong sejarah yang tak tercatat dalam buku pelajaran.

Peserta TUNAS GUSDURian 2025 saat berpose bersama di depan panti Panti Jompo Waluya Sejati Abadi

Tujuan mereka bukan gedung megah atau aula ber-AC, melainkan sebuah bangunan sederhana di Jalan Kramat V Jakarta Pusat: Panti Jompo Waluya Sejati Abadi. Bangunan itu berdiri tenang, nyaris tak mencolok. Namun di balik dindingnya, tersimpan luka-luka anak bangsa yang belum sepenuhnya sembuh.

Di sana, sekitar lima 15 lansia menjalani hari-hari senja mereka. Mereka bukan sekadar penghuni panti, tetapi saksi hidup dari babak tergelap republik ini: korban politik 1965, yang pernah disingkirkan tanpa proses hukum, tanpa pembelaan, tanpa suara.

Pak Wardoyo, salah seorang penghuni, menyambut rombongan dengan senyum yang tak lagi menyimpan dendam. Pria kelahiran 1940 ini pernah ditahan selama sebelas tahun di Pulau Buru. Di hadapan para pengunjung, ia menuturkan kisah pilunya kehilangan keluarga yang membuatnya nyaris kehilangan harapan.

Namun di usia senja, ia memilih berdamai dengan masa lalunya yang kelam. “Kami dianggap sampah, tapi kami tetap ingin hidup, meski sebagai sampah. Karena suatu saat, sampah bisa jadi emas,” katanya lirih namun penuh makna.

Wardoyo bukan satu-satunya. Ada Pak Iksa Putra Tegu Budi, yang di usia sepuluh tahun dibuang ke Pulau Buru bersama delapan adiknya. Putra pendiri Semen Gresik ini dipaksa menyusul ayahnya yang lebih dulu menjadi tahanan politik.

Di pulau itu, ia hidup dengan jatah makan hanya 10 kilogram beras. Ketika meminta tambahan singkong, ia justru disiksa tentara karena ketahuan makan singkong. “Gigi saya rempong, gara-gara itu,” ujarnya sambil tersenyum getir.

Ada pula Pak Lukas Timuso, penyintas yang berjasa menyelamatkan naskah Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Kala itu, naskah masih ditulis di kertas semen. Lukas menyelundupkan lembar demi lembar agar sejarah tetap hidup.

Menurut pengakuan mereka, para penghuni panti bukanlah pejuang ideologi. Mereka adalah korban dari perang dingin dan kebiadaban politik yang tak mengenal belas kasihan. Sebagian besar dulunya adalah wartawan, guru, dan warga biasa yang menjalani hidup dengan damai yang kemudian dituduh sebagai anggota Gerwani.

Padahal mereka hanya mendukung Soekarno, bukan komunisme. Tapi sejarah tak memberi ruang untuk klarifikasi. Mungkin karena itu, bagi mereka, panti ini bukan sekadar tempat tinggal. Ia adalah ruang pemulihan, tempat kenangan dirawat dan luka-luka dijahit dengan benang solidaritas.

Di balik kelahirannya, terdapat nama besar KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Ia meresmikan panti ini pada 8 Februari 2004. Kendati saat itu kondisi kesehatan Gus Dur sudah mulai menurun, namun semangat kemanusiaannya tetap menyala. Ia datang sendiri, tanpa protokol, tanpa sorotan kamera. Hanya membawa satu hal: cinta pada keadilan.

Pembangunan panti bermula dari keluhan Ibu Sulami Djojoprawiro, tokoh Gerwani, kepada Gus Dur. Ia ingin tempat berkumpul bagi perempuan korban 65 dan korban politik lainnya. Gus Dur menyanggupi, mengusahakan hibah tanah atas bantuan bapak Taufiq Kiemas dan lahirlah panti ini. Dan dari sinilah sejarah yang dibungkam mulai berbicara kembali, lirih, namun tegas.

Kini, para penghuni panti tak lagi memperjuangkan ideologi. Mereka memperjuangkan hidup. Mereka menolak dendam, memilih rekonsiliasi. “Rekonsiliasi hanya bisa terjadi jika ada keterbukaan dan dendam ditiadakan,” ujar salah satu penghuni.

Panti Jompo Waluya Sejati Abadi adalah monumen hidup. Ia tidak hanya berdiri dari batu dan semen, tetapi juga dari keberanian, ketabahan, dan harapan. Di sana, luka anak bangsa tak lagi disembunyikan. Ia dituturkan, dirawat, dan dijadikan pelajaran agar generasi mendatang tak mengulang kekeliruan yang sama.

  • Penulis: Suaib Prawono
  • Editor: Suaib Prawono

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pelatihan Bahasa Isyarat untuk Jembatani Komunikasi Warga Tuli

    Pelatihan Bahasa Isyarat untuk Jembatani Komunikasi Warga Tuli

    • calendar_month Rabu, 29 Okt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 122
    • 0Komentar

    Komitmen untuk membangun masyarakat yang inklusif terus digalakkan oleh Yayasan Gorontalo Baik Indonesia (Goroba). Bersama Gerakan Kesejahteraan Untuk Tuna Rungu Indonesia (Gerkatin) cabang Gorontalo, Goroba menggelar kelas bahasa isyarat yang diikuti oleh 50 relawan, Minggu (4/10/20225). Kelas bahasa isyarat  ini mendapat dukungan anggota DPR Rachmat Gobel yang langsung memfasilitasi ruang kelas kantor DPW NasDem sebagai tempat dilaksanakannya kegiatan. Kelas […]

  • Kemenag Mulai Cairkan TPG Guru Madrasah Secara Bertahap Pekan Ini

    Kemenag Mulai Cairkan TPG Guru Madrasah Secara Bertahap Pekan Ini

    • calendar_month Jumat, 6 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 232
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Kabar baik datang dari Kementerian Agama. Tunjangan Profesi Guru (TPG) bagi guru madrasah mulai dicairkan secara bertahap pada pekan ini. Pencairan tersebut dilakukan seiring percepatan penerbitan Surat Keputusan Analisis Kelayakan Penerima Tunjangan (SKAKPT) bagi guru yang telah memenuhi persyaratan administrasi. Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Amien Suyitno, mengatakan percepatan penerbitan SKAKPT terus […]

  • Tuntaskan Amanah, Mahasantri Semester Akhir Pondok Pesantren Khatamun Nabiyyin Gelar Sidang LPJ Santri Dakwah

    Tuntaskan Amanah, Mahasantri Semester Akhir Pondok Pesantren Khatamun Nabiyyin Gelar Sidang LPJ Santri Dakwah

    • calendar_month Sabtu, 9 Mei 2026
    • account_circle Asep Alfarizi
    • visibility 136
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Jakarta – Mahasantri semester akhir Pondok Pesantren Pondok Pesantren Khatamun Nabiyyin resmi menggelar Sidang Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Tabligh atau Santri Dakwah Khatamun Nabiyyin (SDKN), Rabu (07/05/2026). Sidang tersebut menjadi puncak dari rangkaian pengabdian dakwah yang sebelumnya dijalankan di berbagai wilayah Indonesia. Berbekal keilmuan dan semangat pengabdian, para mahasantri telah menuntaskan program tabligh di delapan […]

  • Adjustment Langit

    Adjustment Langit

    • calendar_month Rabu, 18 Mar 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 319
    • 0Komentar

    Ramadhan sering disebut sebagai bulan penuh berkah. Namun, jika dilihat dari perspektif akuntansi, Ramadhan sebenarnya adalah bulan audit spiritual sekaligus periode “adjustment” besar-besaran dalam laporan keuangan langit. Kalau di perusahaan ada jurnal penyesuaian di akhir periode akuntansi, maka Ramadhan itu seperti closing sementara bagi buku besar amal manusia. Bayangkan saja, selama sebelas bulan sebelumnya kita […]

  • Menakar Efisiensi APBN: Tantangan Menjaga Akuntabilitas di Balik Penghematan Anggaran

    Menakar Efisiensi APBN: Tantangan Menjaga Akuntabilitas di Balik Penghematan Anggaran

    • calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
    • account_circle Ai Dila Umul Hidayah
    • visibility 261
    • 0Komentar

    Klaim efisiensi dalam APBN 2026 yang mencapai Rp204,4 triliun sekilas terdengar meyakinkan. Di tengah tekanan fiskal dan kebutuhan pembangunan yang terus meningkat, penghematan dalam jumlah besar tentu dianggap sebagai langkah rasional. Namun, di balik angka tersebut, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: apakah efisiensi ini benar-benar mencerminkan akuntabilitas, atau justru hanya menjadi ukuran keberhasilan yang terlalu […]

  • Ukhuwah Dimulai dari Dalam: Sindiran Gus Mus dan Cermin bagi NU Hari Ini

    Ukhuwah Dimulai dari Dalam: Sindiran Gus Mus dan Cermin bagi NU Hari Ini

    • calendar_month Senin, 15 Des 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 160
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Salah satu pesan mendalam yang pernah disampaikan KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) kembali relevan untuk direnungkan hari ini. Dengan gaya khasnya yang lembut, puitis, namun tajam, Gus Mus mengingatkan bahwa ukhuwah tidak bisa dibangun dengan teriakan, melainkan dengan keteladanan dan praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari. Pesan itu sederhana, tetapi menggelitik: bagaimana mungkin […]

expand_less