Korban Laka Dievakuasi dengan Mobil BPBD, Penggunaan Ambulans Puskesmas Cenrana Dipertanyakan
- account_circle Tim Redaksi
- calendar_month Rabu, 12 Agt 2026
- visibility 114
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Nulindalo.com, MAROS – Kesiapsiagaan pelayanan kegawatdaruratan di wilayah timur Kabupaten Maros menjadi sorotan setelah seorang korban kecelakaan lalu lintas di Dusun Kappang, Desa Labuaja, Kecamatan Cenrana, Senin (10/8/2026) sore, dilaporkan dievakuasi menggunakan kendaraan operasional Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Maros.
Peristiwa tersebut memunculkan pertanyaan mengenai koordinasi penanganan korban kecelakaan. Pasalnya, Puskesmas Cenrana merupakan salah satu fasilitas kesehatan terdekat dari lokasi kejadian, sementara ambulans puskesmas disebut dalam kondisi siaga dan siap digunakan.
Korban diketahui bernama Sudiarto, S.Ip., 51 tahun, seorang aparatur sipil negara (ASN) asal Kecamatan Lau. Ia mengalami luka memar di bagian pinggang setelah sepeda motor yang dikendarainya menabrak sebuah truk.
Informasi mengenai penggunaan kendaraan operasional BPBD dalam proses evakuasi tersebut kemudian menjadi perhatian masyarakat. Sejumlah pertanyaan muncul mengenai keterlibatan ambulans Puskesmas Cenrana dalam penanganan awal korban.
“Seharusnya fasilitas kesehatan terdekat menjadi salah satu pihak yang dapat memberikan respons awal ketika terjadi kondisi kegawatdaruratan. Kalau ambulans tersedia, tentu masyarakat bertanya mengapa kendaraan itu tidak digunakan,” ujar seorang warga.
Ambulans Siaga, Puskesmas Mengaku Tidak Menerima Informasi
Menanggapi sorotan tersebut, Kepala Puskesmas Cenrana memberikan klarifikasi kepada awak media melalui pesan WhatsApp. Ia menegaskan, tidak digunakannya ambulans bukan disebabkan kendaraan tersebut sedang dipakai untuk kegiatan lain atau tidak tersedia.
Menurutnya, pihak Puskesmas Cenrana tidak menerima informasi mengenai kecelakaan tersebut ketika peristiwa berlangsung. Korban kemudian dibawa oleh keluarganya yang berada bersama korban.
“Dalam proses evakuasi korban, ambulans tidak digunakan karena korban langsung dibawa oleh keluarganya yang beriringan menggunakan kendaraan pribadi dengan korban. Keluarga korban tersebut adalah anggota Polri yang bertugas di Polsek Mallawa,” jelas Kepala Puskesmas Cenrana.
Setelah itu, korban dibawa ke Puskesmas Cenrana untuk mendapatkan penanganan medis.
“Keluarga korban langsung membawa ke puskesmas,” katanya.
Ia juga memastikan ambulans Puskesmas Cenrana tidak sedang digunakan untuk kegiatan lain saat kecelakaan terjadi.
“Ambulans tidak digunakan pada kegiatan lain dan tetap stand by di puskesmas,” tegasnya.
Penanganan dan Rujukan Disesuaikan dengan Kondisi Pasien
Kepala Puskesmas Cenrana menjelaskan bahwa setelah mendapatkan pelayanan di Unit Gawat Darurat (UGD), kondisi medis korban akan menjadi pertimbangan dalam menentukan langkah penanganan selanjutnya, termasuk kemungkinan rujukan ke rumah sakit.
Menurutnya, apabila pasien membutuhkan penanganan lebih lanjut, pihak puskesmas akan memfasilitasi rujukan ke rumah sakit sesuai pilihan keluarga, dengan ketentuan rumah sakit tersebut berada di wilayah Kabupaten Maros.
“Setelah dilakukan pelayanan di UGD Puskesmas, jika kondisi pasien harus dirujuk, dari pihak puskesmas akan merujuk ke rumah sakit yang dipilih oleh keluarganya, di mana rumah sakit tersebut berada di wilayah Kabupaten Maros,” jelasnya.
Informasi Kecelakaan Baru Diketahui Setelah Korban Tiba
Pihak Puskesmas Cenrana kembali menegaskan bahwa tidak ada petugas maupun unsur puskesmas yang menerima informasi mengenai kecelakaan tersebut saat kejadian berlangsung.
Informasi baru diketahui setelah korban bersama keluarganya tiba di Puskesmas Cenrana untuk mendapatkan pelayanan medis.
“Tidak ada petugas maupun pihak Puskesmas Cenrana yang menerima informasi terkait kecelakaan tersebut. Informasi tersebut diketahui setelah korban dan keluarga tiba di Puskesmas Cenrana,” ungkapnya.
Klarifikasi tersebut menjelaskan bahwa ambulans Puskesmas Cenrana dalam kondisi siaga dan tidak sedang digunakan ketika kecelakaan terjadi. Pihak puskesmas juga menyatakan tidak menerima informasi mengenai insiden tersebut saat berlangsung.
Meski demikian, peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya sistem komunikasi dan koordinasi yang efektif dalam penanganan kegawatdaruratan, terutama di wilayah yang memiliki tantangan jarak dan akses pelayanan kesehatan.
Dalam kecelakaan lalu lintas, kecepatan penyampaian informasi dan respons pertolongan merupakan faktor penting. Kesiapan ambulans dan tenaga kesehatan perlu didukung mekanisme komunikasi yang memungkinkan informasi mengenai kejadian darurat segera diterima oleh pihak terkait.
Masyarakat berharap kejadian ini dapat menjadi bahan evaluasi bagi seluruh pihak, termasuk fasilitas kesehatan, aparat kewilayahan, dan unsur penanggulangan bencana, untuk memperkuat koordinasi dalam penanganan korban kecelakaan.
Dengan demikian, kendaraan dan tenaga medis yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal ketika masyarakat membutuhkan pertolongan.
Dalam kondisi darurat, kesiapan fasilitas kesehatan perlu berjalan beriringan dengan kecepatan informasi dan koordinasi. Sebab, respons yang tepat waktu bukan sekadar persoalan prosedur, melainkan bagian penting dari upaya melindungi keselamatan manusia.
- Penulis: Tim Redaksi

Saat ini belum ada komentar