Breaking News
light_mode
Trending Tags

Menolak “Ramadan-nya” Gorontalo

  • account_circle Tarmizi Abbas
  • calendar_month Jumat, 4 Mar 2022
  • visibility 14
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Yang lebih parahnya, di saat memberikan sambutan, ada aksi saling hantam antar elit tidak tertangguhkan: “saya mendatangi masjid A, sedangkan dia, elit lainnya, tidak sehingga, ini membuktikan bahwa saya lebih peduli dari dia”. Cara-cara semacam ini persis dengan rujukan Marx ketika bicara tentang para kapitalis Protestan di Eropa abad 19 yang membuat agama menjadi opium untuk menggerakkan hasrat umat manusia ketika mereka berada dalam keadaan tidak punya apa-apa. Akibatnya, publik kita tertipu. Umat Islam menjadi pragmatis dan kehilangan kritisismenya terhadap pemimpin. Politik tereduksi, berhenti, bahkan mati maknanya pada sekadar pemenuhan hasrat setahun sekali.

Ramadan Sebagai Kritik Sosial

Saya pikir, absennya kritik terhadap fenomena sosial-politik yang mendominasi dalam beberapa tahun belakangan terjadi karena kita tidak pernah menempatkan Ramadan sebagai kritik sosial. Bulan yang mulia ini tidak diciptakan oleh Allah Swt., untuk sekadar memikirkan urusan pribadi, melainkan juga untuk kebermanfaatan seluas-luasnya. Salah satu ayat Al-Quran yang bagi saya representatif untuk mewakili argumen ini misalnya ditampakkan dalam Qs. Al-Maun (1-7) yang bicara tentang orang-orang yang lalai dalam ibadahnya ketika berbuat Riya ketika memberikan bantuan. Mereka tidak sedang merepresentasikan agamanya ketika berbuat demikian. Celakanya, ayat  ini justru menjadi landasan kritik terhadap pada para elit yang sebenarnya tidak pernah berjuang, namun justru berdusta atas nama agama!

Lebih dari itu, Ramadan sebagai kritik sosial juga semata menumbuhkan kepekaan sosial yang alhasil membuat masyarakat kita seolah terkasta-kasta. Sungguh, spirit Ramadan adalah spirit pembebasan kepada para mustadh’afin atau orang yang terpinggirkan. Problem semacam ini hanya bisa terselesaikan dengan menegakkan keadilan distributif. Kita tahu bahwa selama ini, para elit politik cenderung merepresentasikan apa yang diinginkan oleh partai politiknya alih-alih kebermanfaatan bersama. Namun kondisi hari ini tidak memungkinkan hal tersebut untuk terjadi. Kita sedang berada dalam berbagai macam ketimpangan sehingga, politik semestinya tidak menjadi instrumen memecah belah kelompok.

  • Penulis: Tarmizi Abbas

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Messi has two assists as Inter Miami plays NYCFC to draw in MLS season opener: Highlights 07.09 Play Button

    Messi has two assists as Inter Miami plays NYCFC to draw in MLS season opener: Highlights

    • calendar_month Senin, 20 Jan 2025
    • account_circle Safid Deen
    • visibility 61
    • 0Komentar

    All it took was five minutes for Lionel Messi to make his mark at the start of Inter Miami’s 2025 Major League Soccer season. About 95 minutes later, Messi shined again, saving Inter Miami’s night. Messi found new teammate Telasco Segovia, trailing on his right side, and delivered his second assist of the game in […]

  • Menari dalam Belantara Simulacra

    Menari dalam Belantara Simulacra

    • calendar_month Rabu, 26 Nov 2025
    • account_circle Pepi al-Bayqunie
    • visibility 72
    • 0Komentar

    Lebaran, seperti biasa, datang bukan hanya membawa ketupat dan peluk maaf. Ia datang membawa gelombang kegembiraan yang melompat-lompat dari dapur ibu sampai ke beranda digital. Di kampung-kampung kecil yang debunya masih hangat oleh langkah kaki anak-anak, hingga ke rumah-rumah mewah yang tak pernah tidur oleh lampu-lampu sorot interior—suasana keriangan tumpah ruah. Tahun ini, kegembiraan itu […]

  • KH Abdul Ghofir Nawawi Wafat, Warga NU Gorontalo Berduka

    KH Abdul Ghofir Nawawi Wafat, Warga NU Gorontalo Berduka

    • calendar_month Senin, 20 Mei 2019
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 65
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Warga Nahdlatul Ulama Provinsi Gorontalo berduka atas wafatnya KH Abdul Ghofir Nawawi, Rais Syuriyah PWNU Gorontalo. Kabar wafatnya almarhum beredar luas di sejumlah grup WhatsApp dan pesan singkat yang diterima redaksi nulondalo online. Dalam pesan tersebut disampaikan bahwa KH Abdul Ghofir Nawawi mengembuskan napas terakhir pada pukul 13.25 […]

  • IDE Indonesia Chapter Kota Bandung Gelar Pelantikan, Simposium dan Launching Store of IDE

    IDE Indonesia Chapter Kota Bandung Gelar Pelantikan, Simposium dan Launching Store of IDE

    • calendar_month Jumat, 28 Mar 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 65
    • 0Komentar

    Institute of Democracy and Education (IDE) Indonesia Chapter Kota Bandung sukses menyelenggarakan pelantikan pengurus baru, simposium, serta launching Store of IDE yang digelar di Auditorium Balai Kota Bandung pada 15 Maret 2025. Acara ini menjadi momentum penting dalam memperkuat peran pemuda sebagai motor penggerak perubahan sosial di Kota Bandung. Pelantikan dipimpin oleh Ketua Umum IDE […]

  • Adhan Dambea dan Rachmat Gobel Bahas Pembangunan Gorontalo, Masjid Agung Baiturrahim Direncanakan Dua Lantai

    Adhan Dambea dan Rachmat Gobel Bahas Pembangunan Gorontalo, Masjid Agung Baiturrahim Direncanakan Dua Lantai

    • calendar_month Minggu, 15 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 117
    • 0Komentar

    “Beliau berencana akan membuat Masjid Agung Baiturrahim menjadi dua lantai. Tentu kami sangat bersyukur dan siap memberikan dukungan,” ujar wali kota dua periode tersebut. Selain rencana rehabilitasi masjid, Rachmat Gobel juga disebut akan mengalokasikan pokok-pokok pikirannya (pokir) untuk mendukung sejumlah program pembangunan di Kota Gorontalo. Sebelum pertemuan tersebut, Adhan juga mengungkapkan bahwa dirinya sempat menerima […]

  • Pena, Buku, dan Nyawa yang Hilang: Catatan untuk Tragedi Ngada

    Pena, Buku, dan Nyawa yang Hilang: Catatan untuk Tragedi Ngada

    • calendar_month Selasa, 3 Feb 2026
    • account_circle -
    • visibility 151
    • 0Komentar

    Kasus tragis di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, pada penghujung Januari 2026, ketika seorang siswa SD berusia 10 tahun berinisial YBS diduga mengakhiri hidupnya karena keluarganya tak mampu membeli buku dan pena, adalah tamparan keras bagi nurani bangsa. Membaca berita tentang seorang anak kecil yang memilih “pergi” selamanya hanya karena selembar buku dan sebatang pena […]

expand_less