Breaking News
light_mode
Trending Tags

Menari dalam Belantara Simulacra

  • account_circle Pepi al-Bayqunie
  • calendar_month Rabu, 26 Nov 2025
  • visibility 110
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Lebaran, seperti biasa, datang bukan hanya membawa ketupat dan peluk maaf. Ia datang membawa gelombang kegembiraan yang melompat-lompat dari dapur ibu sampai ke beranda digital. Di kampung-kampung kecil yang debunya masih hangat oleh langkah kaki anak-anak, hingga ke rumah-rumah mewah yang tak pernah tidur oleh lampu-lampu sorot interior—suasana keriangan tumpah ruah.

Tahun ini, kegembiraan itu menemukan bentuk barunya: tarian THR. Suatu aksi tari dadakan yang viral. Sang pemberi berdiri di ujung barisan, amplop-amplop di tangan, sementara para penerima—anak-anak, keponakan, menantu, tetangga—membentuk formasi seperti parade kecil. Musik diputar. Tubuh-tubuh pun mulai bergoyang, serempak dan lucu, seperti kawanan pinguin yang dilepas di lapangan sukacita. Semua direkam, diberi filter, lalu terbang ke dunia maya—siap ditonton.

Viral. Semua ikut. Dari keluarga di desa sampai komunitas kreatif di kota. Video dari Perusahaan-perusahaan pun muncul, dengan pegawai berbaris sembari tertawa menari dan membagikan THR atau hadiah lebaran. Para artis pun tak luput ikut tren ini. Tak terasa, momen hangat dan lucu itu membanjiri lini masa.

Namun belum juga tren ini mengering, datanglah satu video lain yang membuat arah percakapan sosial berubah drastis. Sekelompok pria berjanggut, berbaju hitam panjang, dan bertopi khas seperti identitas Yahudi Ortodoks, menari dengan gerakan yang sama. Musiknya pun serupa.

Polemik di Media Sosial pun muncul. Perdebatan mulai ramai.

“Ini tarian Yahudi!”.

Lalu mulai muncul komentar, asumsi, dan bahkan teori konspirasi. Sebagian langsung curiga, sebagian ikut menyebarkan. Seolah setiap gerakan tubuh punya niat tersembunyi, seolah dunia tak lagi punya ruang untuk yang spontan dan lugu. Orang tak lagi menonton untuk memahami, tapi untuk mencari celah agar bisa merasa paling waspada—atau paling benar.

Dalil-dalil klasik pun digaungkan dengan bersemangat. Larangan meniru orang kafir kembali menggema, dibalut kutipan dari para ulama yang barangkali tak pernah membayangkan bahwa suatu hari, sebuah tarian lucu dalam acara bagi-bagi THR bisa jadi bahan debat keimanan. Sebagian netizen mulai menautkan potongan hadits dengan video viral itu, seakan tubuh-tubuh yang sedang berjoget kecil di jalanan kampung adalah simbol penyusupan ideologi global. Hawa kolonialisme dan paranoia lama muncul kembali, bukan dari penjajah, tapi dari dalam kepala yang dicekam rasa takut yang belum selesai.

Begitu cepatnya kita lompat dari kegembiraan ke kecurigaan. Seperti sedang berada di pesta, lalu tiba-tiba lampu padam dan semua orang saling menuduh siapa yang mencuri kebahagiaan. Tak ada jeda, tak ada klarifikasi. Dunia digital memang tak memberi ruang untuk napas panjang. Ia hanya butuh satu potongan video, satu tudingan ringan, lalu sisanya jadi bola salju yang menggilas nalar.

Padahal—dan ini penting—gerakan itu bukanlah tarian ritual, apalagi eksklusif milik kelompok tertentu. Tarian tersebut sudah lama dikenal dalam dunia pelatihan dan kegiatan luar ruang sebagai bagian dari ice breaking. Siapa yang pernah ikut outbound atau kegiatan pengembangan diri pasti akrab dengan tarian ini—dikenal dengan nama: Letkis dance. Gerakannya sederhana dan menyenangkan, cocok untuk mencairkan suasana.

Jejak tarian ini juga bisa ditelusuri secara budaya. Di kawasan Balkan, khususnya Rumania dan Albania, tarian berbaris semacam ini adalah bagian dari pesta rakyat. Di Finlandia, dikenal tarian Letkajenkka atau Letkis yang meledak pada tahun 1960-an dan menyebar ke seluruh Eropa lewat siaran TV Jerman. Bahkan lagu “Ievan Polkka” yang viral belakangan ini berasal dari Finlandia juga, yang nadanya cepat dan jenaka sangat cocok untuk tarian massal semacam itu. Tarian ini lalu menyebar menjadi milik dunia.

Tarian ini bukan milik siapa pun secara eksklusif. Ia milik semua orang yang ingin tertawa, bersenang-senang, dan saling terhubung lewat gerak. Tapi di zaman ini, siapa yang peduli?
Jean Baudrillard jauh-jauh hari sudah mengingatkan kita tentang bahaya simulacra—ketika simbol lebih dipercaya daripada kenyataan. “Simulacrum is never that which conceals the truth—it is the truth which conceals that there is none.” Maka yang kita lihat hari ini bukan tarian rakyat lintas-bangsa, melainkan bayang-bayang yang dibentuk oleh tafsir dan prasangka.

Mungkin kita memang sedang hidup dalam zaman yang banal—sebagaimana disebutkan oleh Hannah Arendt ketika ia mengulas kejahatan-kejahatan besar yang lahir dari tindakan-tindakan biasa. Tapi dalam versi hari ini, yang banal bukan lagi kejahatan negara, melainkan perdebatan sosial. Kita menyulut kebakaran makna dari korek api yang sebetulnya cuma lucu-lucuan. Kita menaruh beban ideologis pada hal-hal sepele, lalu menciptakan pertarungan sengit di kolom komentar.

Dalam kerangka Cultural Studies, Stuart Hall pernah mengingatkan bahwa budaya populer bukanlah ruang yang netral. Ia adalah medan pertempuran wacana. Apa yang tampak lucu dan ringan bisa dengan cepat berubah menjadi perebutan makna. Dalam dunia digital yang serba cepat ini, budaya tak lagi dialami secara utuh—melainkan dikonsumsi dalam potongan. Maka tarian ringan pun bisa diperdebatkan seolah ia mewakili peradaban. Netizen bukan hanya penonton; mereka kini menjadi produsen tafsir, kurator emosi, dan kadang… jaksa penuntut.

Banalisme inilah yang menjadi pintu masuk. Kita sudah terlalu sering melihat kegaduhan lahir bukan dari hal yang penting, tapi dari hal yang mendadak menjadi penting karena viral. Ketika makna dipermudah, ketika semua bisa bicara, maka yang terdengar bukan yang paling masuk akal, melainkan yang paling cepat dan paling ramai. Dunia digital hari ini, sebagaimana dikatakan Jean Baudrillard, adalah dunia simulacra—di mana yang palsu tak bisa dibedakan lagi dari yang nyata. Kita menari, lalu dicurigai. Kita tertawa, lalu dituding sedang terjebak dalam konspirasi. Kita hanya ingin gembira, tapi malah ditarik masuk ke pusaran tafsir yang tak kita undang.

Dunia kita, kini, bukan lagi tentang memahami. Tapi tentang mengafirmasi apa yang sudah kita yakini sebelumnya. Fakta bukan lagi jendela, tapi cermin. Kita tak lagi melihat keluar, tapi melihat bayangan diri sendiri dan menyebutnya “kebenaran”. Itu yang kita sebut sebagai gejala Post-Truth.

Saya jadi teringat sebuah pelatihan yang saya pandu. Peserta-peserta menari tarian pinguin sambil tertawa. Tak ada yang bertanya dari mana tarian itu berasal, karena yang penting adalah kebersamaan. Tubuh bergerak bersama, tertawa bersama, dan tak satu pun dari mereka menyangka bahwa tarian itu kelak bisa memicu debat identitas dan agama.

Barangkali, itulah tragedi zaman ini: kita terlalu cepat curiga, dan terlalu lambat memahami. Kita sibuk menafsir, tapi enggan mencari konteks. Kita saling menyindir, tapi lupa bahwa manusia pertama-tama harus saling melihat sebagai sesama.

Wallahu A’lam

Oleh :  Pepi Albayqunie (Seorang pecinta kebudayaan lokal di Sulawesi Selatan yang belajar menulis novel secara otodidak. Ia lahir dengan nama Saprillah)

  • Penulis: Pepi al-Bayqunie
  • Editor: Pepi al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Solidaritas PC PMII Baabullah Kota Ternate Untuk Sumatera dan Aceh Sekaligus Berikan Warning Wilayah Maluku Utara 

    Solidaritas PC PMII Baabullah Kota Ternate Untuk Sumatera dan Aceh Sekaligus Berikan Warning Wilayah Maluku Utara 

    • calendar_month Senin, 8 Des 2025
    • account_circle Asril
    • visibility 154
    • 0Komentar

    Nulondalo.com – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Baabullah Kota Ternate menggelar aksi kemanusiaan untuk korban bencana alam di Sumatra dan Aceh, sekaligus mengampanyekan peringatan darurat ekologi bagi Maluku Utara yang saat ini dikepung oleh aktivitas pertambangan secara masif. Ternate, 7 Desember 2025. Aksi yang berlangsung di depan Lank Mart itu diisi dengan penggalangan donasi, […]

  • Misteri di Balik Energi Salat Berjamaah

    Misteri di Balik Energi Salat Berjamaah

    • calendar_month Jumat, 27 Feb 2026
    • account_circle Hamzah Durisa
    • visibility 235
    • 0Komentar

    Senja turun perlahan di pesisir Mandar bukanlah perkara jarang ditemukan. Langit memerah di atas laut, dan perahu-perahu nelayan kembali dengan layar yang mulai dilipat merupakan penghias keseharian hidup orang Mandar. Di sela desir angin laut, terdengar adzan Magrib memanggil dari masjid kampung. Suaranya lembut, tetapi tegas—seperti panggilan yang sudah akrab sejak kecil. Orang-orang berhenti sejenak. […]

  • Bareskrim Polri Tangkap Dua Tersangka Jaringan Narkoba Ko Erwin di Tangerang

    Bareskrim Polri Tangkap Dua Tersangka Jaringan Narkoba Ko Erwin di Tangerang

    • calendar_month Senin, 2 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 191
    • 0Komentar

    nulondalo.com– Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri menangkap dua tersangka yang diduga terkait jaringan narkoba Erwin Iskandar alias Ko Erwin. Keduanya berinisial Charles Bernando dan Arfan Yulias Lauw. Kedua tersangka ditangkap di kawasan Teluk Naga, Tangerang, Banten, pada Sabtu (28/2/2026). Penangkapan merupakan hasil pengembangan dari pemeriksaan awal terhadap tersangka Erwin Iskandar. Direktur Tindak Pidana Narkoba […]

  • Sampaikan Amanat Ketum Muhaimin, Nihayatul Tegaskan Empat Pilar Politik Perjuangan PKB

    Sampaikan Amanat Ketum Muhaimin, Nihayatul Tegaskan Empat Pilar Politik Perjuangan PKB

    • calendar_month Sabtu, 14 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 237
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Provinsi Gorontalo menggelar Orientasi Politik yang dirangkaikan dengan Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) serta pengukuhan pengurus masa bakti 2026–2031. Kegiatan ini menjadi momentum konsolidasi dan penegasan arah perjuangan partai menjelang Pemilu 2029. Dalam kegiatan tersebut, Anggota Komisi IX DPR RI sekaligus Ketua Perempuan Bangsa DPP PKB, […]

  • Harga Energi Naik, Pemerintah Tancap Gas Tingkatkan Produksi Batu Bara

    Harga Energi Naik, Pemerintah Tancap Gas Tingkatkan Produksi Batu Bara

    • calendar_month Jumat, 20 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 197
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pemerintah bergerak cepat merespons lonjakan harga energi global dengan meningkatkan produksi batu bara sebagai langkah menjaga stabilitas pasokan dan ketahanan energi nasional. Kebijakan ini mengemuka usai rapat terbatas antara Presiden Prabowo Subianto dan jajaran menteri ekonomi di Istana Kepresidenan, Jakarta. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan peningkatan produksi batu bara menjadi salah […]

  • Ketum GP Ansor Dijadwalkan Lantik Pengurus Wilayah dan Cabang se-Gorontalo, Hadiri Sejumlah Agenda Strategis

    Ketum GP Ansor Dijadwalkan Lantik Pengurus Wilayah dan Cabang se-Gorontalo, Hadiri Sejumlah Agenda Strategis

    • calendar_month Sabtu, 5 Jul 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 114
    • 0Komentar

    Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor), Addin Jauharudin, dijadwalkan melantik jajaran Pimpinan Wilayah dan Cabang GP Ansor se-Gorontalo dalam sebuah seremoni resmi yang akan berlangsung pada Sabtu, 19 Juli 2025 pukul 19.30 WITA di Ballroom Hotel Damhil, Kota Gorontalo. Ketua PW GP Ansor Gorontalo, Zulkarnain Ahmad, menyampaikan bahwa kunjungan Ketum Addin ke […]

expand_less