Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Marhaban Ya Ramadhan

  • account_circle Ilham Sopu 
  • calendar_month Senin, 16 Feb 2026
  • visibility 132
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Dalam salah satu bukunya yang masuk kategori best seller yakni Lentera Al-Qur’an, kisah dan hikmah kehidupan, salah satu tema yang dikupas Prof Quraish adalah menyangkut ramadhan. Ada dua kata yang digunakan untuk menyambut tamu yang datang, yakni marhaban dan ahlan wa sahlan, keduanya berarti selamat datang, tapi beda dalam penggunaan kalimat tersebut.

Menurut Prof Quraish, ahlan terambil dari kata ahl yang berarti “keluarga”, sedangkan sahlan dari kata sahl yang berarti “mudah”. Jadi ahlan wa sahlan  adalah ungkapan selamat datang yang di celahnya terdapat kalimat yang tersirat yaitu anda berada di tengah keluarga dan melangkahkan kaki di dataran rendah yang mudah.

Sedangkan marhaban terambil dari kata rahb yang berarti “luas atau lapang”, sehingga marhaban menggambarkan bahwa tamu yang datang disambut dan diterima dengan lapang dada, penuh kegembiraan, serta dipersiapkan baginya ruangan yang luas untuk melakukan apa saja yang diinginkannya, demikian penjelasan Prof Quraish.

Menyambut ramadhan dengan ucapan marhaban, karena ramadhan itu adalah tamu agung, oleh sebab itu disambut dengan penuh kegembiraan, kita semua bergembira dengan kedatangan bulan ramadhan, karena banyaknya keuntungan-keuntungan yang didapatkan seorang hamba di dalam bulan suci ramadhan. Nabi bersabda “Seandainya umatku mengetahui (semua) keistimewaan ramadhan, niscaya mereka mengharap agar semua bulan menjadi ramadhan.” saking banyak hal-hal yang menguntungkan dari bulan suci ramadhan.

Salah satu yang sering disampaikan oleh para ulama adalah bahwa di bulan ramadhan ada malam “qadr” malam penentuan, yang akan menemui setiap orang yang mempersiapkan diri sejak dini untuk menyambutnya. Kebaikan dan kemuliaan yang dihadirkan oleh lailat al-Qadr tidak mungkin akan diraih kecuali oleh orang-orang tertentu saja.

Ramadhan juga terambil dari akar kata yang berarti membakar, penamaan ini dikarenakan ketika terjadi perubahan nama-nama bulan, penduduk Makkah menamai bulan-bulan sesuai dengan suasana iklim mereka alami ketika itu atau tradisi yang mereka lakukan. Seperti muharram yang berarti diharamkan karena masyarakat arab ketika itu mengharamkan pertumpahan darah, kemudian shafar yang berarti kosong, karena ketika itu penduduk Makkah, khususnya kaum pria, meninggalkan kota Makkah untuk berperang sehingga Makkah seakan kosong tak berpenghuni dan kosongnya kepemilikan harta dan jiwa akibat perang.

Demikian juga dengan nama rabiul awal dan rabiul akhir yakni musim bunga pertama dan kedua karena bulan-bulan itu terjadi di musim bunga. Selanjutnya Jumadil al-awwal dan akhir yang berarti kebekuan pertama dan kedua karena terjadi di musim dingin sehingga air sampai membeku. Kemudian rajab atau pengagungan karena bulan ini adalah salah satu bulan yang diagungkan sehingga terlarang melakukan peperangan, dan sya’ban yang berati keterpencaran karena pada bulan ini mereka terpencar di aneka penjuru untuk berperang dan mencari rezeki.

Demikian pula dzu al-qaidah yakni bulan ketika mereka harus duduk tidak  bepergian untuk berperang, serta dzu al-Hijjah karena bulan ini ibadah haji mereka laksanakan. Kemudian ramadhan yang berarti membakar  karena ketika itu suhu udara demikian panas dan membara, lalu Syawal yang antara lain menunjukkan penampakan bintang tertentu di tempat yang tinggi,  atau karena unta-unta mengangkat ekor-ekornya dan menjadi banyak air susunya.

Dari pengertian-pengertian tersebut, ramadhan yang diartikan membakar yakni bulan yang membakar panasnya, mengesankan bahwa siapa yang menyambut bulan ramadhan dengan benar dan antusias, maka akan pupus, habis terbakar dosa-dosanya, dan ini sejalan dengan hadis Nabi: “Siapa yang berpuasa ramadhan didorong oleh keimanan dan dilaksanakan dengan keikhlasan, maka diampuni dosanya yang terdahulu (HR.Bukhari dan Muslim).

Syarat untuk diampuni dosa menurut hadis ini adalah berpuasa dengan didorong keimanan dan dilaksanakan dengan penuh  keikhlasan, iman adalah pondasi dalam beragama, seluruh amal-amal yang dikerjakan mesti berangkat dari keimanan. Iman itu adalah sesuatu yang sangat urgen dalam beragama. Tapi iman bukanlah sesuatu yang statis, iman ada dalam dada semua orang, tapi kadang ia tertirai, tidak berfungsi dengan baik. Oleh sebab itu iman itu dinamis, sifatnya fluktuatif, dalam bahasa agamanya iman itu “yazidu” dan “yankusu”, kadang menguat dan kadang melemah.

Iman bukanlah hanya sekedar percaya, menurut Cak Nur, bahwa iman adalah percaya, mempercayai dan menaruh kepercayaan kepada Tuhan, yakni kepercayaan yang holistik.  Itulah yang di maksud dengan iman yang dinamis. Itulah sebabnya dalam al-Qur’an, perkataan iman dan amal saleh selalu berdampingan, bahwa keimanan adalah dasar tapi tindak lanjut dari keimanan itu adalah amal saleh.

Marilah kita sambut ramadhan dengan  kesiapan iman yang teguh, iman yang punya pondasi yang kuat, sehingga kualitas puasa kita baik, dan dosa-dosa kita terhapus sebagaimana yang disinggung dalam hadis di atas.

(Bumi Pambusuang, 16 Pebruari 2026)

  • Penulis: Ilham Sopu 

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Work From Home sebagai Gerakan Nasionalisme

    Work From Home sebagai Gerakan Nasionalisme

    • calendar_month Kamis, 2 Apr 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 429
    • 0Komentar

    Pernahkah kita berpikir bahwa diam di rumah bisa menjadi tindakan patriotik? Bagi sebagian orang, terutama mereka yang memahami nasionalisme sebagai gerak—kerja keras, mobilisasi, dan kehadiran fisik di ruang publik—gagasan ini mungkin terasa aneh. Nasionalisme selama ini dibayangkan sebagai sesuatu yang tampak: tindakan yang bisa disaksikan, diukur, bahkan dirayakan. Dalam bayangan itu, diam justru sering diposisikan […]

  • Re-historiografi Gorontalo: Sebuah Dorongan Awal

    Re-historiografi Gorontalo: Sebuah Dorongan Awal

    • calendar_month Rabu, 30 Apr 2025
    • account_circle Daniel A. Kalangie
    • visibility 193
    • 0Komentar

    Narasi umum sejarah Gorontalo paling tidak hanya berkutat pada tiga peristiwa pokok; kisah terbentuknya Duluwo Limo lo Pohala’a, “kepahlawanan” dalam peristiwa 23 Januari 1942, dan cerita Pembentukan Provinsi Gorontalo. Tiga peristiwa pokok ini cenderung dianggap oleh pemerintah, akademisi, maupun awam sebagai pijakan untuk membentuk pengetahuan sejarah Gorontalo. Pertanyaannya adalah bagaimana mungkin tiga peristiwa yang terpaut […]

  • Kronologi Pembunuhan Pensiunan JICT Ermanto Usman di Bekasi, Pelaku Sudah Ditangkap Polisi

    Kronologi Pembunuhan Pensiunan JICT Ermanto Usman di Bekasi, Pelaku Sudah Ditangkap Polisi

    • calendar_month Selasa, 10 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 311
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Kasus pembunuhan terhadap Ermanto Usman (65) di kawasan Jatibening, Kota Bekasi, mulai menemukan titik terang. Tim Jatanras dari Polda Metro Jaya telah menangkap pelaku pembunuhan yang menewaskan pensiunan karyawan Jakarta International Container Terminal tersebut. Meski demikian, pihak kepolisian hingga kini masih menutup identitas serta jumlah pelaku yang terlibat dalam kasus tersebut. Ditemukan Tewas […]

  • Komitmen Melayani: Kelurahan Baji Pamai Bagikan Beras dan Minyak Goreng kepada Warga

    Komitmen Melayani: Kelurahan Baji Pamai Bagikan Beras dan Minyak Goreng kepada Warga

    • calendar_month Rabu, 3 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 439
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Maros— Pemerintah Kelurahan Baji Pamai Kecamatan Maros Baru kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat kesejahteraan masyarakat. Kelurahan Baji Pamai menyalurkan bantuan pangan berupa 20 kilogram beras dan 4 liter minyak goreng kepada warga. Bantuan ini merupakan program dari Kementerian Sosial RI dan dibagikan langsung di kantor kelurahan. Pada penyaluran kali ini, bantuan didistribusikan ke warga […]

  • IKA PMII Gorontalo Gelar “Munajat Cinta Ramadhan”, Salurkan 250 Kg Beras untuk Pesantren photo_camera 4

    IKA PMII Gorontalo Gelar “Munajat Cinta Ramadhan”, Salurkan 250 Kg Beras untuk Pesantren

    • calendar_month Minggu, 8 Mar 2026
    • account_circle Faisal Husuna
    • visibility 526
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Kegiatan bertajuk “Munajat Cinta Ramadhan” yang dilaksanakan di Grand Q Hotel Gorontalo pada Sabtu (7/3/2026) diawali dengan pembagian takjil oleh Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Provinsi Gorontalo. Ketua PKC PMII Gorontalo, Windy Olivia Dawa, menuturkan bahwa kegiatan ini tidak sekadar menjadi ajang buka puasa bersama, tetapi juga menjadi ruang temu […]

  • Belanja Negara dan Ilusi Kinerja: Apakah Realisasi Anggaran Mencerminkan Keberhasilan?

    Belanja Negara dan Ilusi Kinerja: Apakah Realisasi Anggaran Mencerminkan Keberhasilan?

    • calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
    • account_circle Muhammad Dzaky Alfarisi
    • visibility 313
    • 0Komentar

    Setiap akhir tahun anggaran, pemerintah pusat maupun daerah hampir selalu memasuki fase yang sama: perlombaan mengejar target penyerapan anggaran. Narasi yang dibangun ke publik pun cenderung seragam—realisasi belanja mencapai angka tinggi, sering kali di atas 90 persen, dan hal tersebut diklaim sebagai bukti keberhasilan kinerja. Di permukaan, angka-angka ini memang terlihat meyakinkan. Namun, jika ditelaah […]

expand_less