Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Menolak “Ramadan-nya” Gorontalo

  • account_circle Tarmizi Abbas
  • calendar_month Jumat, 4 Mar 2022
  • visibility 304
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Jika ini benar, maka selain tidak relevan, intinya berbagai ucapan tersebut berhenti maknanya sebatas mendongkrak popularitas politik para elit saja dan karena itulah, “Ramadan-nya” Gorontalo itu mesti ditolak. Klaim ini butuh untuk diperjelas agar pembaca tidak salah kaprah. Saya tidak menolak “Ramadan” di Gorontalo. Saya justru menolak “Ramadan-nya” Gorontalo. Dua klaim ini memiliki distingsi yang sangat tipis, namun memiliki konsekuensi etis yang sangat tajam: klaim pertama berisi penolakan terhadap bulan suci Ramadan; sedang klaim kedua berisi penolakan terhadap “praktik-praktik” politis yang dilakukan oleh segelintir orang di bulan Ramadan. Dari sini, jelaslah: yang menjadi kritik adalah praktik-praktik politik pencitraan yang mereduksi esensi Ramadan.

Dari Pencitraan menuju Komodifikasi Agama

Menampilkan baliho para elit di bulan Ramadan semacam ini lazim dalam dunia politik, khususnya pada domain politik pencitraan (imagining politics). Tujuannya sederhana dan pragmatis: iklan-iklan itu tidak lain adalah untuk meneguhkan citra para elit untuk meneguhkan identitas keagamaan mereka. Sehingga, dengan mengucapkan “selamat menjalankan ibadah puasa Ramadan” ada semacam “kepuasan diri” di dalam sana, bahwa si A atau si B, dengan baliho-baliho Ramadan telah menjadi figur religius bahkan peduli untuk tampil dengan dalih representasi identitasnya sebagai Muslim.

Cara-cara semacam ini tentu lazim. Sejak dua dekade lalu, seturut menguatnya wacana media massa di Indonesia, iklan-iklan politik bertebaran di luar sana untuk kontestasi, saling rebut popularitas yang berimplikasi dalam menciptakan polarisasi di tengah-tengah masyarakat. Polarisasi ini kian akut disusul program-program berkedok agama. Para elit muncul layaknya super hero di tengah himpitan ekonomi masyarakat yang pusing harga barang yang naik, kelangkaan gas dan minyak goreng, dengan turun membagi-bagikan sembako. Tempat yang dipilih mereka pun tidak main-main: tiap-tiap masjid. Inti aktivitas ini sebenarnya mudah tertebak: kampanye dan perluasan mobilisasi masa. Namun yang membikin hal ini terlihat “baik-baik saja” karena dibungkus dengan klaim-klaim agama.

  • Penulis: Tarmizi Abbas

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Atalia Praratya Soroti Maraknya Kekerasan Seksual di Kampus, Minta Tidak Dinormalisasi

    Atalia Praratya Soroti Maraknya Kekerasan Seksual di Kampus, Minta Tidak Dinormalisasi

    • calendar_month Rabu, 22 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 296
    • 0Komentar

    “Kita tidak boleh menormalisasi kekerasan seksual, apalagi dengan alasan bercanda. Bahkan catcalling pun itu adalah hal yang salah,” tegas politisi dari Partai Golkar tersebut. Ia juga mengapresiasi meningkatnya kesadaran masyarakat, khususnya kalangan mahasiswa, yang mulai menunjukkan sikap tegas terhadap pelaku kekerasan seksual. Menurutnya, reaksi publik yang tidak mentoleransi tindakan tersebut menjadi langkah positif dalam menciptakan […]

  • Inilah Tuntutan Demo Aliansi Merah Maron

    Inilah Tuntutan Demo Aliansi Merah Maron

    • calendar_month Senin, 29 Sep 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 146
    • 0Komentar

    Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail bersama Wakil Gubernur Idah Syahidah Rusli Habibie, Kapolda Gorontalo Irjen Pol. Widodo, dan Ketua DPRD Provinsi Gorontalo Idrus M. Thomas Mopili, menemui aksi demonstrasi mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG) di Bundaran Tugu Saronde, Senin (1/9/2025). Mahasiswa UNG yang tergabung dalam Aliansi Merah Maron menyampaikan sejumlah tuntutan kepada Pemerintah Provinsi Gorontalo, DPRD, […]

  • Menyambut Tahun Baru Masehi dengan Dzikir Sunyi, Pesan KH. Abdul Ghofur Nawawi Sebelum Wafat Play Button

    Menyambut Tahun Baru Masehi dengan Dzikir Sunyi, Pesan KH. Abdul Ghofur Nawawi Sebelum Wafat

    • calendar_month Selasa, 30 Des 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 339
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pergantian tahun Masehi kerap identik dengan hiruk-pikuk perayaan, kembang api, dan berbagai euforia yang melibatkan keramaian. Namun, dalam sebuah pengajian penuh makna, almaghfurlah KH. Abdul Ghofur Nawawi justru mengajak jamaah untuk menyambut pergantian tahun dengan cara yang berbeda: dzikir sederhana, sunyi, dan penuh kesadaran spiritual. Kiai Ghofur mengisahkan bahwa amalan ini merupakan ijazah […]

  • Zakat Salah Catat

    Zakat Salah Catat

    • calendar_month Minggu, 22 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 390
    • 0Komentar

    Di sinilah akuntansi berperan. Zakat profesi, zakat perdagangan, zakat pertanian semuanya punya basis penghitungan. Nisabnya jelas, tarifnya jelas. Tapi yang sering tidak jelas adalah niat dan pencatatannya. Banyak entitas usaha yang mengakui zakat sebagai “biaya lain-lain”. Seolah-olah zakat itu gangguan kecil dalam laporan laba rugi. Padahal dalam perspektif maqashid syariah, zakat adalah mekanisme keadilan distributif. […]

  • Dari Langit ke Bumi: Pesan Agung Salat Menggema di Masjid Nurul Jama’ah Taipa

    Dari Langit ke Bumi: Pesan Agung Salat Menggema di Masjid Nurul Jama’ah Taipa

    • calendar_month Minggu, 4 Jan 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 293
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — Peristiwa agung Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW kembali diperingati dengan penuh kekhusyukan oleh umat Islam di Dusun Taipa, Desa Majannang, Kecamatan Maros Baru, Kabupaten Maros. Peringatan yang berlangsung di Masjid Nurul Jama’ah Taipa, Minggu malam, 4 Januari 2026, menjadi momentum spiritual untuk menguatkan kembali komitmen umat dalam menjaga salat sebagai fondasi kehidupan […]

  • Syuriyah dan Wibawa Kepemimpinan di Nahdlatul Ulama

    Syuriyah dan Wibawa Kepemimpinan di Nahdlatul Ulama

    • calendar_month Kamis, 6 Okt 2022
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 107
    • 0Komentar

    Dalam struktur kepemimpinan Nahdlatul Ulama (NU), Syuriyah merupakan pimpinan tertinggi organisasi. Lembaga ini memiliki tugas utama membina, mengarahkan, serta mengawasi pelaksanaan setiap keputusan yang akan maupun sedang dijalankan oleh organisasi. Kedudukan Syuriah berada di posisi tertinggi karena di dalamnya berhimpun para ulama sepuh yang memiliki basis keilmuan agama yang kuat. Hal ini sejalan dengan karakter […]

expand_less