Breaking News
light_mode
Trending Tags

Menolak “Ramadan-nya” Gorontalo

  • account_circle Tarmizi Abbas
  • calendar_month Jumat, 4 Mar 2022
  • visibility 191
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Jika ini benar, maka selain tidak relevan, intinya berbagai ucapan tersebut berhenti maknanya sebatas mendongkrak popularitas politik para elit saja dan karena itulah, “Ramadan-nya” Gorontalo itu mesti ditolak. Klaim ini butuh untuk diperjelas agar pembaca tidak salah kaprah. Saya tidak menolak “Ramadan” di Gorontalo. Saya justru menolak “Ramadan-nya” Gorontalo. Dua klaim ini memiliki distingsi yang sangat tipis, namun memiliki konsekuensi etis yang sangat tajam: klaim pertama berisi penolakan terhadap bulan suci Ramadan; sedang klaim kedua berisi penolakan terhadap “praktik-praktik” politis yang dilakukan oleh segelintir orang di bulan Ramadan. Dari sini, jelaslah: yang menjadi kritik adalah praktik-praktik politik pencitraan yang mereduksi esensi Ramadan.

Dari Pencitraan menuju Komodifikasi Agama

Menampilkan baliho para elit di bulan Ramadan semacam ini lazim dalam dunia politik, khususnya pada domain politik pencitraan (imagining politics). Tujuannya sederhana dan pragmatis: iklan-iklan itu tidak lain adalah untuk meneguhkan citra para elit untuk meneguhkan identitas keagamaan mereka. Sehingga, dengan mengucapkan “selamat menjalankan ibadah puasa Ramadan” ada semacam “kepuasan diri” di dalam sana, bahwa si A atau si B, dengan baliho-baliho Ramadan telah menjadi figur religius bahkan peduli untuk tampil dengan dalih representasi identitasnya sebagai Muslim.

Cara-cara semacam ini tentu lazim. Sejak dua dekade lalu, seturut menguatnya wacana media massa di Indonesia, iklan-iklan politik bertebaran di luar sana untuk kontestasi, saling rebut popularitas yang berimplikasi dalam menciptakan polarisasi di tengah-tengah masyarakat. Polarisasi ini kian akut disusul program-program berkedok agama. Para elit muncul layaknya super hero di tengah himpitan ekonomi masyarakat yang pusing harga barang yang naik, kelangkaan gas dan minyak goreng, dengan turun membagi-bagikan sembako. Tempat yang dipilih mereka pun tidak main-main: tiap-tiap masjid. Inti aktivitas ini sebenarnya mudah tertebak: kampanye dan perluasan mobilisasi masa. Namun yang membikin hal ini terlihat “baik-baik saja” karena dibungkus dengan klaim-klaim agama.

  • Penulis: Tarmizi Abbas

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Akbar Ramadhan Tegaskan Siap Kawal Pengisian Jabatan Kosong di Desa Majannang

    Akbar Ramadhan Tegaskan Siap Kawal Pengisian Jabatan Kosong di Desa Majannang

    • calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 174
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — Anggota Karang Taruna Desa Majannang, Akbar Ramadhan, menyampaikan komitmennya untuk mengawal proses pengisian sejumlah jabatan yang saat ini masih kosong di Desa Majannang. Menurutnya, kekosongan beberapa posisi penting di desa harus segera mendapat perhatian serius demi menjaga stabilitas pelayanan dan jalannya pemerintahan desa. Adapun posisi yang menjadi sorotan di antaranya jabatan Kepala […]

  • Puzzle Terakhir Demokrasi: Partisipasi Publik di Media Digital

    Puzzle Terakhir Demokrasi: Partisipasi Publik di Media Digital

    • calendar_month Minggu, 29 Jun 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 123
    • 0Komentar

    Indonesia sudah lama menerima demokrasi sebagai bentuk. bahkan sejak awal diproklamirkan, demokrasi diterima sebagai instrumen politik utama. Tetapi entah kenapa, selalu terasa ada yang kurang lengkap. Seolah ada satu puzzle yang hilang dan membuat demokrasi kita tak utuh. Yaitu partisipasi publik yang subtantif. Padahal, partisipasi publik adalah mandat utama demokrasi. Selama bertahun-tahun, partisipasi publik dalam […]

  • Demokrasi (Harus) Menjadi Kebudayaan

    Demokrasi (Harus) Menjadi Kebudayaan

    • calendar_month Jumat, 29 Agt 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 113
    • 0Komentar

    Refleksi Temu Nasional (TUNAS) Jaringan GUSDURian 2025 Oleh : Pepy Al-Bayqunie (Jamaah GUSDURian, tinggal di Sulawesi Selatan yang lahir dengan nama Saprillah) Di Indonesia, demokrasi kerap tampil meriah hanya saat pemilu. Angka, statistik, dan pesta politik menjadi hal yang paling mencolok. Namun, setelah hiruk pikuk itu usai, demokrasi sering kembali sepi. Ia menyusut menjadi prosedur […]

  • Pemkab Maros Mulai Bersihkan Material Jembatan Haji Bohari 2 Desember

    Pemkab Maros Mulai Bersihkan Material Jembatan Haji Bohari 2 Desember

    • calendar_month Senin, 1 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 183
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Maros– Pemerintah Kabupaten Maros memastikan proses pembersihan material Jembatan Haji Bohari di Dusun Pakere, Desa Bontotallasa, Kecamatan Simbang, akan dimulai pada 2 Desember 2025. Langkah ini ditempuh setelah struktur jembatan tersebut ambruk dan dinilai berpotensi membahayakan keselamatan warga yang masih beraktivitas di sekitar lokasi. Bupati Maros, Chaidir Syam, menegaskan bahwa pembersihan menjadi tahapan paling […]

  • 64 Pejabat Dilantik, Pemkab Maros Siap Gaspol Jalankan Program

    64 Pejabat Dilantik, Pemkab Maros Siap Gaspol Jalankan Program

    • calendar_month Senin, 5 Jan 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 222
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Maros – Pemerintah Kabupaten Maros kembali melakukan perombakan birokrasi melalui pengumuman dan pelantikan pejabat pimpinan tinggi pratama (eselon II) serta pejabat administrator, Senin, 5 Januari 2025. Prosesi pelantikan berlangsung khidmat di Lapangan Pallantikang, Kabupaten Maros. Sebanyak 10 jabatan eselon II resmi diisi melalui mekanisme lelang jabatan, menandai tuntasnya pengisian seluruh posisi strategis di lingkup […]

  • Abu Madhura; Muadzin Yang Semula Mengejek Azan (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #26)

    Abu Madhura; Muadzin Yang Semula Mengejek Azan (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #26)

    • calendar_month Senin, 16 Mar 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 237
    • 0Komentar

    Suatu hari, sekelompok pemuda Quraisy sedang berada di sekitar jalan yang dilalui rombongan Nabi sepulang dari Hunain. Dari kejauhan mereka mendengar suara azan yang dikumandangkan oleh muadzin Nabi. Para pemuda itu kemudian menirukan suara azan tersebut. Mereka mengulang-ulang lafaznya dengan nada bercanda, bahkan cenderung mengejek. Bagi mereka, itu hanya permainan suara di antara para pemuda. […]

expand_less