Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Menolak “Ramadan-nya” Gorontalo

  • account_circle Tarmizi Abbas
  • calendar_month Jumat, 4 Mar 2022
  • visibility 253
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Yang lebih parahnya, di saat memberikan sambutan, ada aksi saling hantam antar elit tidak tertangguhkan: “saya mendatangi masjid A, sedangkan dia, elit lainnya, tidak sehingga, ini membuktikan bahwa saya lebih peduli dari dia”. Cara-cara semacam ini persis dengan rujukan Marx ketika bicara tentang para kapitalis Protestan di Eropa abad 19 yang membuat agama menjadi opium untuk menggerakkan hasrat umat manusia ketika mereka berada dalam keadaan tidak punya apa-apa. Akibatnya, publik kita tertipu. Umat Islam menjadi pragmatis dan kehilangan kritisismenya terhadap pemimpin. Politik tereduksi, berhenti, bahkan mati maknanya pada sekadar pemenuhan hasrat setahun sekali.

Ramadan Sebagai Kritik Sosial

Saya pikir, absennya kritik terhadap fenomena sosial-politik yang mendominasi dalam beberapa tahun belakangan terjadi karena kita tidak pernah menempatkan Ramadan sebagai kritik sosial. Bulan yang mulia ini tidak diciptakan oleh Allah Swt., untuk sekadar memikirkan urusan pribadi, melainkan juga untuk kebermanfaatan seluas-luasnya. Salah satu ayat Al-Quran yang bagi saya representatif untuk mewakili argumen ini misalnya ditampakkan dalam Qs. Al-Maun (1-7) yang bicara tentang orang-orang yang lalai dalam ibadahnya ketika berbuat Riya ketika memberikan bantuan. Mereka tidak sedang merepresentasikan agamanya ketika berbuat demikian. Celakanya, ayat  ini justru menjadi landasan kritik terhadap pada para elit yang sebenarnya tidak pernah berjuang, namun justru berdusta atas nama agama!

Lebih dari itu, Ramadan sebagai kritik sosial juga semata menumbuhkan kepekaan sosial yang alhasil membuat masyarakat kita seolah terkasta-kasta. Sungguh, spirit Ramadan adalah spirit pembebasan kepada para mustadh’afin atau orang yang terpinggirkan. Problem semacam ini hanya bisa terselesaikan dengan menegakkan keadilan distributif. Kita tahu bahwa selama ini, para elit politik cenderung merepresentasikan apa yang diinginkan oleh partai politiknya alih-alih kebermanfaatan bersama. Namun kondisi hari ini tidak memungkinkan hal tersebut untuk terjadi. Kita sedang berada dalam berbagai macam ketimpangan sehingga, politik semestinya tidak menjadi instrumen memecah belah kelompok.

  • Penulis: Tarmizi Abbas

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Wacana Pilkada Lewat DPRD Dinilai Bertentangan dengan Putusan MK

    Wacana Pilkada Lewat DPRD Dinilai Bertentangan dengan Putusan MK

    • calendar_month Sabtu, 3 Jan 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 339
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Wacana sejumlah partai politik besar untuk mengembalikan mekanisme pemilihan kepala daerah (pilkada) melalui DPRD dinilai bertentangan dengan konstitusi dan putusan Mahkamah Konstitusi (MK). Putusan MK Nomor 110/PUU-XXII/2025 secara tegas menempatkan pilkada sebagai bagian dari rezim pemilu yang harus dilaksanakan secara langsung oleh rakyat. Pengajar Politik IAIN Sultan Amai Gorontalo, Eka Putra B. Santoso, […]

  • Mengapa Iran Jadi Tujuan Dunia untuk Operasi Perubahan Gender?

    Mengapa Iran Jadi Tujuan Dunia untuk Operasi Perubahan Gender?

    • calendar_month Kamis, 2 Jul 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 168
    • 0Komentar

    Perhatian internasional kemudian semakin besar setelah film dokumenter Just a Woman karya sutradara Iran, Mitra Farahani, mengangkat kisah seorang transgender Iran. Film tersebut mendapat perhatian dalam berbagai festival internasional dan membuka mata publik global mengenai realitas kehidupan transgender di Iran. Setelah itu, media dunia mulai menyoroti fenomena yang dianggap tidak biasa. Salah satu laporan internasional […]

  • Alissa Wahid: Merawat Indonesia Tidak Cukup Hanya dengan Kata-kata

    Alissa Wahid: Merawat Indonesia Tidak Cukup Hanya dengan Kata-kata

    • calendar_month Selasa, 29 Apr 2025
    • account_circle Suaib Pr
    • visibility 139
    • 0Komentar

    Yogyakarta- Direktur Jaringan GUSDURian, Alissa Wahid, menyampaikan bahwa merawat Indonesia tidak cukup hanya dengan kata-kata, tetapi juga membutuhkan kerja nyata yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Menurut Alissa, menjaga dan merawat Indonesia bukanlah pekerjaan mudah seperti menyampaikan pidato di depan umum. Merawat Indonesia berarti harus hadir secara nyata dalam memelihara keberagaman dan kebersamaan di antara […]

  • Petuah yang Disangka Mantra

    Petuah yang Disangka Mantra

    • calendar_month Senin, 30 Mar 2026
    • account_circle Suaib Prawono
    • visibility 474
    • 0Komentar

    Pandangan serupa juga ditemukan pada masyarakat Kajang, yang memaknai tanah sebagai angrongta (Ibu). Bagi mereka, tanah adalah asal muasal manusia, sehingga harus dikelola dengan penuh kearifan. Cara pandang ini dikenal sebagai relational epistemology: melihat alam bukan sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai sahabat atau teman hidup yang harus dihormati. Esensi petuah leluhur Mandar di atas jelas […]

  • DPR Buka Suara: Lemahnya Propam Jadi Biang Turunnya Kepercayaan Publik

    DPR Buka Suara: Lemahnya Propam Jadi Biang Turunnya Kepercayaan Publik

    • calendar_month Jumat, 9 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 158
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI menyoroti serius lemahnya pengawasan internal di tubuh Kepolisian Republik Indonesia (Polri). Anggota Komisi III DPR RI, Martin Tumbelaka, menilai ketidaktegasan Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) menjadi salah satu faktor utama menurunnya kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian. Pernyataan tersebut disampaikan Martin dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Panitia Kerja […]

  • Hari Ibu Nasional: Momentum Memperkuat Solidaritas Perempuan, Bukan Seremonial Belaka

    Hari Ibu Nasional: Momentum Memperkuat Solidaritas Perempuan, Bukan Seremonial Belaka

    • calendar_month Kamis, 26 Des 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 120
    • 0Komentar

    Kabar Perempuan – Setiap tanggal 22 Desember adalah hari bersejarah buat kaum Ibu atau perempuan di Indonesia. Momentum tersebut diperingati setiap tahunnya. Namun sejauh mana pemaknaan orang-orang terhadap peringatan Hari Ibu Nasional 2024? Akankah perempuan sudah berdaya dan seperti apa problem perempuan hari ini? Redaksi mengulas khusus peringatan Hari Ibu Nasional 2024. Peringatan Hari Ibu Nasional […]

expand_less