Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Menolak “Ramadan-nya” Gorontalo

  • account_circle Tarmizi Abbas
  • calendar_month Jumat, 4 Mar 2022
  • visibility 305
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Yang lebih parahnya, di saat memberikan sambutan, ada aksi saling hantam antar elit tidak tertangguhkan: “saya mendatangi masjid A, sedangkan dia, elit lainnya, tidak sehingga, ini membuktikan bahwa saya lebih peduli dari dia”. Cara-cara semacam ini persis dengan rujukan Marx ketika bicara tentang para kapitalis Protestan di Eropa abad 19 yang membuat agama menjadi opium untuk menggerakkan hasrat umat manusia ketika mereka berada dalam keadaan tidak punya apa-apa. Akibatnya, publik kita tertipu. Umat Islam menjadi pragmatis dan kehilangan kritisismenya terhadap pemimpin. Politik tereduksi, berhenti, bahkan mati maknanya pada sekadar pemenuhan hasrat setahun sekali.

Ramadan Sebagai Kritik Sosial

Saya pikir, absennya kritik terhadap fenomena sosial-politik yang mendominasi dalam beberapa tahun belakangan terjadi karena kita tidak pernah menempatkan Ramadan sebagai kritik sosial. Bulan yang mulia ini tidak diciptakan oleh Allah Swt., untuk sekadar memikirkan urusan pribadi, melainkan juga untuk kebermanfaatan seluas-luasnya. Salah satu ayat Al-Quran yang bagi saya representatif untuk mewakili argumen ini misalnya ditampakkan dalam Qs. Al-Maun (1-7) yang bicara tentang orang-orang yang lalai dalam ibadahnya ketika berbuat Riya ketika memberikan bantuan. Mereka tidak sedang merepresentasikan agamanya ketika berbuat demikian. Celakanya, ayat  ini justru menjadi landasan kritik terhadap pada para elit yang sebenarnya tidak pernah berjuang, namun justru berdusta atas nama agama!

Lebih dari itu, Ramadan sebagai kritik sosial juga semata menumbuhkan kepekaan sosial yang alhasil membuat masyarakat kita seolah terkasta-kasta. Sungguh, spirit Ramadan adalah spirit pembebasan kepada para mustadh’afin atau orang yang terpinggirkan. Problem semacam ini hanya bisa terselesaikan dengan menegakkan keadilan distributif. Kita tahu bahwa selama ini, para elit politik cenderung merepresentasikan apa yang diinginkan oleh partai politiknya alih-alih kebermanfaatan bersama. Namun kondisi hari ini tidak memungkinkan hal tersebut untuk terjadi. Kita sedang berada dalam berbagai macam ketimpangan sehingga, politik semestinya tidak menjadi instrumen memecah belah kelompok.

  • Penulis: Tarmizi Abbas

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gus Yaqut Bantah Nikmati Dana Korupsi Kuota Haji

    Gus Yaqut Bantah Nikmati Dana Korupsi Kuota Haji

    • calendar_month Kamis, 12 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 231
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas membantah tudingan bahwa dirinya menikmati dana dalam kasus dugaan korupsi kuota haji yang tengah ditangani oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Pernyataan tersebut disampaikan Yaqut kepada awak media setelah keluar dari ruang pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (12/3/2025). Saat itu, ia terlihat telah mengenakan rompi oranye khas […]

  • Perempuan dan Financial Freedom di Era Digital

    Perempuan dan Financial Freedom di Era Digital

    • calendar_month Jumat, 10 Jul 2026
    • account_circle Sutanti Idris
    • visibility 121
    • 0Komentar

    Indonesia sendiri menunjukkan perkembangan yang baik dalam inklusi keuangan digital. Semakin banyak masyarakat memanfaatkan layanan perbankan digital dan pembayaran elektronik. Namun, peningkatan akses tersebut harus diiringi dengan peningkatan literasi keuangan agar masyarakat tidak mudah terjebak dalam penipuan, investasi ilegal, maupun keputusan finansial yang merugikan. Pada akhirnya, financial freedom bukanlah tujuan yang hanya dapat dicapai oleh […]

  • Julaybib (Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #1)

    Julaybib (Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #1)

    • calendar_month Kamis, 19 Feb 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 325
    • 0Komentar

    Peristiwa itu menjadi bagian paling dikenal dari kisahnya. Di hadapan para sahabat, Nabi SAW bersabda, “Ia bagian dariku dan aku bagian darinya.” Tidak banyak yang tercatat tentang kehidupan Julaybib selain peristiwa ini. Ia bukan tokoh besar dalam sejarah, bukan pemimpin kabilah, dan bukan perawi hadis yang banyak meriwayatkan ilmu. Namun satu pernyataan Nabi SAW sudah […]

  • Alissa Wahid dan Kartini yang Tak Pernah Selesai

    Alissa Wahid dan Kartini yang Tak Pernah Selesai

    • calendar_month Selasa, 29 Apr 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 164
    • 0Komentar

    Setiap April, memori tentang Kartini akan menyeruak. Ia datang, dikenang, dirayakan, dan diabadikan. Di ruang kelas, anak-anak berseragam menggelar lomba busana adat. Di media sosial, ucapan selamat Hari Kartini berseliweran, disertai kutipan populer dan foto perempuan berkebaya. Sebuah ritual yang terasa akrab, bahkan otomatis. Tapi siapa Kartini yang sebenarnya sedang kita rayakan? Yang pasti bukan […]

  • Anggota DPR RI Fraksi NasDem Rachmat Gobel Meninggal Dunia, Dimakamkan di Gorontalo

    Anggota DPR RI Fraksi NasDem Rachmat Gobel Meninggal Dunia, Dimakamkan di Gorontalo

    • calendar_month Jumat, 10 Jul 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 163
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Kabar duka datang dari dunia politik Indonesia. Anggota DPR RI Fraksi Partai NasDem, H. Rachmat Gobel, meninggal dunia pada Jumat (10/7/2026) dini hari di Jakarta. Informasi wafatnya Rachmat Gobel dibenarkan oleh Ketua DPP Partai NasDem, Willy Aditya. Menurutnya, almarhum mengembuskan napas terakhir pada pukul 03.20 WIB. “Turut berduka cita. Innalillahi wa inna ilaihi […]

  • Modernisasi Sistem Keuangan Pesantren di Era Digital

    Modernisasi Sistem Keuangan Pesantren di Era Digital

    • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
    • account_circle Sutanti Idris, S.E., CMC
    • visibility 302
    • 0Komentar

    Sebagai mahasiswa akuntansi Universitas Indonesia, saya melihat bahwa akuntansi pesantren memiliki potensi besar untuk menjadi contoh tata kelola lembaga berbasis nilai yang modern, profesional, dan terpercaya. Pesantren tidak boleh dipandang sebagai lembaga yang tertinggal dalam perkembangan zaman. Justru pesantren memiliki peluang besar menjadi pelopor pengelolaan keuangan berbasis nilai spiritual dan integritas. Ke depan, pesantren yang […]

expand_less