Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Menolak “Ramadan-nya” Gorontalo

  • account_circle Tarmizi Abbas
  • calendar_month Jumat, 4 Mar 2022
  • visibility 394
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Yang lebih parahnya, di saat memberikan sambutan, ada aksi saling hantam antar elit tidak tertangguhkan: “saya mendatangi masjid A, sedangkan dia, elit lainnya, tidak sehingga, ini membuktikan bahwa saya lebih peduli dari dia”. Cara-cara semacam ini persis dengan rujukan Marx ketika bicara tentang para kapitalis Protestan di Eropa abad 19 yang membuat agama menjadi opium untuk menggerakkan hasrat umat manusia ketika mereka berada dalam keadaan tidak punya apa-apa. Akibatnya, publik kita tertipu. Umat Islam menjadi pragmatis dan kehilangan kritisismenya terhadap pemimpin. Politik tereduksi, berhenti, bahkan mati maknanya pada sekadar pemenuhan hasrat setahun sekali.

Ramadan Sebagai Kritik Sosial

Saya pikir, absennya kritik terhadap fenomena sosial-politik yang mendominasi dalam beberapa tahun belakangan terjadi karena kita tidak pernah menempatkan Ramadan sebagai kritik sosial. Bulan yang mulia ini tidak diciptakan oleh Allah Swt., untuk sekadar memikirkan urusan pribadi, melainkan juga untuk kebermanfaatan seluas-luasnya. Salah satu ayat Al-Quran yang bagi saya representatif untuk mewakili argumen ini misalnya ditampakkan dalam Qs. Al-Maun (1-7) yang bicara tentang orang-orang yang lalai dalam ibadahnya ketika berbuat Riya ketika memberikan bantuan. Mereka tidak sedang merepresentasikan agamanya ketika berbuat demikian. Celakanya, ayat  ini justru menjadi landasan kritik terhadap pada para elit yang sebenarnya tidak pernah berjuang, namun justru berdusta atas nama agama!

Lebih dari itu, Ramadan sebagai kritik sosial juga semata menumbuhkan kepekaan sosial yang alhasil membuat masyarakat kita seolah terkasta-kasta. Sungguh, spirit Ramadan adalah spirit pembebasan kepada para mustadh’afin atau orang yang terpinggirkan. Problem semacam ini hanya bisa terselesaikan dengan menegakkan keadilan distributif. Kita tahu bahwa selama ini, para elit politik cenderung merepresentasikan apa yang diinginkan oleh partai politiknya alih-alih kebermanfaatan bersama. Namun kondisi hari ini tidak memungkinkan hal tersebut untuk terjadi. Kita sedang berada dalam berbagai macam ketimpangan sehingga, politik semestinya tidak menjadi instrumen memecah belah kelompok.

  • Penulis: Tarmizi Abbas

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • KH Zulfa Mustofa: NU Sedang Menata Diri, Bukan Berkonflik

    KH Zulfa Mustofa: NU Sedang Menata Diri, Bukan Berkonflik

    • calendar_month Jumat, 12 Des 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 213
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Di tengah riuhnya perbincangan di media sosial mengenai kondisi internal Nahdlatul Ulama (NU), Penjabat Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) hasil Rapat Pleno PBNU kelompok Sultan, KH Zulfa Mustofa, memilih untuk meluruskan keadaan dengan nada yang menyejukkan. Ia menegaskan bahwa NU tidak sedang berada dalam pusaran konflik, melainkan tengah menjalani proses penegakan […]

  • DPW GENINUSA Jawa Tengah Resmi Dilantik dan Rekerwil Bahas Pengembangan Santriprenuer

    DPW GENINUSA Jawa Tengah Resmi Dilantik dan Rekerwil Bahas Pengembangan Santriprenuer

    • calendar_month Sabtu, 28 Jun 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 169
    • 0Komentar

    Dewan pimpinan Daerah Gerakan Santriprenuer Nusantara Jawa Tengah (DPW-GENINUSA Jateng) masa khidmat 2025-2030 melaksanakan pelantikan dan rapat kerja wilayah/rakerwil yang berlokasi di aula kantor DPD RI Jawa Tengah, jalan imam bonjol kota Semarang, 23 Juni 2025. Sejumlah 38 pengurus sesuai SK DPP GENINUSA pengurus jawa tengah dilantik mengambil sumpah janji jabatan. dalam kesempatan ini ketua […]

  • Proyek Pemeliharaan Irigasi Maros Baru Disorot, Tanah Hasil Kerukan Diduga Diangkut ke Perumahan Swasta

    Proyek Pemeliharaan Irigasi Maros Baru Disorot, Tanah Hasil Kerukan Diduga Diangkut ke Perumahan Swasta

    • calendar_month Sabtu, 3 Okt 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 161
    • 0Komentar

      Nulondalo.com, MAROS — Proyek pemeliharaan berkala jaringan irigasi Saluran Sekunder D.1 Bantimurung, tepatnya di Saluran Sekunder Tekolabbua, Kecamatan Maros Baru, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, menjadi sorotan. Sorotan tersebut muncul menyusul dugaan pemanfaatan tanah hasil pengerukan saluran irigasi untuk kebutuhan penimbunan di salah satu kawasan perumahan swasta yang berada tidak jauh dari lokasi pekerjaan. Proyek […]

  • Penerapan Prinsip Pembangunan Hijau dalam Kebijakan Pangan dan Energi Nasional

    Penerapan Prinsip Pembangunan Hijau dalam Kebijakan Pangan dan Energi Nasional

    • calendar_month Sabtu, 29 Nov 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 199
    • 0Komentar

    Pemerintahan Presiden Prabowo telah menetapkan Misi lima tahun pembangunan dalam masa pemerintahannya yang dikenal dengan Asta Cita. Berlandaskan pada Prinsip Ekonomi Pancasila, Asta Cita menempatkan ideologi Pancasila, demokrasi dan hak asasi manusia sebagai pilar utama pembangunan berlandaskan religiositas kehidupan berbangsa dan persatuan nasional yang kuat. Cita kedua adalah memantapkan sistem pertahanan keamanan negara dan mendorong […]

  • Rajab dan Kepulangan yang Sunyi: Bayi, Pohon, dan Rahmat Tuhan Play Button

    Rajab dan Kepulangan yang Sunyi: Bayi, Pohon, dan Rahmat Tuhan

    • calendar_month Minggu, 4 Jan 2026
    • account_circle Afidatul Asmar
    • visibility 289
    • 0Komentar

    Rajab selalu datang dengan sunyi yang disengaja. Ia tidak meminta sorak, hanya ruang untuk merenung. Di bulan inilah sebuah budaya tentang kematian bayi di Toraja yang belum tumbuh gigi dan “dipulangkan” ke pohon mengajak kita menimbang ulang makna hidup, iman, dan kemanusiaan. Rajab adalah bulan yang tidak riuh. Ia berdiri tenang di antara kalender hijriah, […]

  • Menakar Kembali Jalan Ziarah Menuju Lapeo: Tradisi yang Bertahan, Iman yang Dipertanyakan

    Menakar Kembali Jalan Ziarah Menuju Lapeo: Tradisi yang Bertahan, Iman yang Dipertanyakan

    • calendar_month Senin, 30 Mar 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 608
    • 0Komentar

    Padahal kisah hidup para ulama yang diziarahi menyimpan banyak pelajaran. Mereka tidak hanya dikenang karena kesalehan pribadi, tetapi juga karena cara mereka hidup di tengah masyarakat—sederhana, berani bersikap, dan dekat dengan persoalan umat. Di situlah ziarah sebenarnya bisa dibaca ulang. Perjalanan menuju Lapeo bukan hanya soal datang ke sebuah makam, tetapi juga kesempatan untuk mengingat […]

expand_less