BINUS University Hadirkan Perpustakaan Digital Offline di Tiga Desa Sulawesi Selatan
- account_circle Sakti
- calendar_month Kamis, 6 Agt 2026
- visibility 113
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Nulondalo.com, MAROS — Keterbatasan akses internet masih menjadi tantangan bagi dunia pendidikan di sejumlah wilayah pelosok Indonesia. Ketika pembelajaran digital semakin berkembang di perkotaan, sebagian siswa di daerah terpencil masih menghadapi keterbatasan sumber belajar.
Menjawab tantangan tersebut, BINUS University menghadirkan PusGita (Perpustakaan Digital Offline) versi 6.0, sebuah inovasi yang memungkinkan ribuan sumber belajar digital diakses tanpa koneksi internet.
Program yang berlangsung pada 3–7 Agustus 2026 ini dilaksanakan di Sulawesi Selatan melalui kolaborasi dengan Yayasan Pendidikan Lontara Hijau sebagai mitra pelaksana di lapangan.
PusGita merupakan bagian dari Program Pemberdayaan Masyarakat BINUS University yang berfokus pada peningkatan kualitas pendidikan di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Program ini dirancang agar sekolah dengan infrastruktur digital terbatas tetap dapat memanfaatkan teknologi untuk mendukung kegiatan pembelajaran.
Perpustakaan digital tersebut menyediakan lebih dari 7.000 konten pembelajaran. Koleksinya mencakup buku elektronik (e-book), video edukasi, materi pembelajaran untuk jenjang SD hingga SMA, ensiklopedia pengetahuan umum, serta buku cerita yang mengajarkan nilai-nilai karakter dan budi pekerti.
Seluruh koleksi dapat diakses secara luring (offline), sehingga guru dan siswa tidak memerlukan kuota internet maupun jaringan seluler untuk memanfaatkan materi yang tersedia.
Di Sulawesi Selatan, implementasi PusGita menjangkau tiga desa yang menghadapi tantangan geografis dalam mengakses layanan pendidikan digital, yaitu:
- Desa Bonto Manurung, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros.
- Desa Nepo, Kecamatan Mallusetasi, Kabupaten Barru.
- Desa Lembang Mesakada, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang.
Bagi sekolah yang berada di kawasan kaki gunung, kehadiran PusGita diharapkan dapat memperluas akses terhadap sumber belajar. Melalui satu perangkat, siswa dapat membaca ribuan buku, mempelajari berbagai mata pelajaran, dan menyaksikan video edukasi tanpa bergantung pada koneksi internet.
PIC BINUS University, Olifia Rombot, mengatakan PusGita merupakan wujud komitmen institusinya untuk memperluas pemerataan akses pendidikan melalui inovasi yang dapat dimanfaatkan berbagai lapisan masyarakat.
“Pendidikan yang berkualitas seharusnya dapat diakses oleh setiap anak Indonesia, tanpa dibatasi oleh kondisi geografis maupun keterbatasan infrastruktur. Melalui PusGita, BINUS University ingin menghadirkan solusi yang sederhana, namun mampu memberikan dampak besar,” ujarnya.
Ia berharap perpustakaan digital tersebut dapat menjadi ruang belajar baru yang menumbuhkan minat baca, memperluas wawasan, serta membuka lebih banyak kesempatan bagi generasi muda untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Sementara itu, Direktur Yayasan Pendidikan Lontara Hijau, Yohanes Benediktus, menilai kehadiran PusGita membawa harapan baru bagi sekolah-sekolah di kawasan kaki gunung yang selama ini menghadapi keterbatasan akses terhadap sumber belajar digital.
“Anak-anak di sekolah kaki gunung memiliki semangat belajar yang luar biasa. Namun, mereka masih menghadapi keterbatasan akses internet yang membuat kesempatan memperoleh sumber belajar digital menjadi tidak mudah. Keunggulan utama PusGita adalah seluruh koleksi buku dan materi pembelajarannya dapat diakses tanpa internet,” tuturnya.
Menurut Yohanes, PusGita bukan sekadar perangkat teknologi, melainkan sarana yang menghubungkan anak-anak di wilayah pelosok dengan dunia pengetahuan.
Ia berharap fasilitas tersebut dapat membantu menciptakan kesempatan belajar yang lebih setara, sehingga kondisi geografis tempat anak-anak tumbuh tidak menjadi penghalang untuk meraih cita-cita.
Sejak dikembangkan, PusGita telah didistribusikan ke lebih dari 80 titik desa di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua. Program ini menjadi salah satu upaya memperluas akses pendidikan, terutama bagi masyarakat yang masih menghadapi keterbatasan infrastruktur digital.
Di Sulawesi Selatan, pendampingan pemanfaatan PusGita dilakukan bersama Yayasan Pendidikan Lontara Hijau. Pendampingan ini diharapkan membantu sekolah, guru, dan masyarakat mengoptimalkan penggunaan perpustakaan digital secara berkelanjutan.
Melalui kolaborasi tersebut, akses terhadap sumber belajar diharapkan semakin terbuka, budaya literasi terus berkembang, dan kebiasaan membaca semakin mengakar di kalangan generasi muda.
Kehadiran PusGita menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi tidak selalu harus bergantung pada koneksi internet. Dengan menyediakan ribuan sumber belajar yang dapat diakses secara luring, inovasi ini membuka peluang bagi siswa di wilayah dengan keterbatasan jaringan untuk belajar dan mengembangkan pengetahuan secara lebih luas.
- Penulis: Sakti
- Editor: Djemi Radji

Saat ini belum ada komentar