Breaking News
light_mode
Trending Tags

Idul Fitri, Pakarena, dan Harmoni Jiwa: Ketika Tradisi Menari Mengajarkan Kesucian Hati

  • account_circle Afidatul Asmar
  • calendar_month 4 jam yang lalu
  • visibility 70
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Seni tradisional seperti Pakarena tidak hanya penting sebagai warisan estetika, tetapi juga sebagai sarana pendidikan karakter. Dalam setiap gerakannya tersimpan nilai kesabaran, ketekunan, dan penghormatan terhadap harmoni sosial. Nilai-nilai ini sangat relevan dengan pesan Idul Fitri yang mengajak manusia untuk kembali kepada kesucian hati dan memperbaiki hubungan dengan sesama.

Idul Fitri sendiri sering disebut sebagai hari kembali kepada fitrah. Dalam hadis Nabi disebutkan bahwa setiap manusia dilahirkan dalam keadaan suci, sebagaimana dijelaskan dalam riwayat yang populer dalam literatur hadis. Fitrah ini adalah potensi dasar manusia untuk mengenal kebaikan dan hidup dalam harmoni dengan sesama. Namun dalam perjalanan hidup, manusia sering terjebak dalam berbagai konflik, egoisme, dan kepentingan duniawi yang menjauhkan dirinya dari kesucian tersebut.

Idul Fitri menjadi sangat penting. Hari raya ini bukan sekadar perayaan setelah puasa, tetapi juga kesempatan untuk memulai kembali kehidupan dengan hati yang lebih bersih. Tradisi saling memaafkan yang dilakukan masyarakat Indonesia mencerminkan kesadaran kolektif bahwa hubungan sosial harus dibangun di atas fondasi keikhlasan dan persaudaraan.

Nilai ini dibaca bersama dengan pesan simbolik dalam tradisi budaya seperti Pakarena, kita menemukan satu benang merah yang menarik. Baik dalam ajaran agama maupun dalam kebudayaan lokal, manusia diajarkan untuk hidup dalam keseimbangan. Harmoni antara tubuh dan jiwa, antara individu dan masyarakat, serta antara manusia dan Tuhan menjadi tujuan yang selalu diupayakan.

Merayakan Idul Fitri tidak cukup hanya dengan kegembiraan lahiriah. Kemenangan sejati justru terletak pada kemampuan manusia menjaga kesucian hati setelah Ramadhan berlalu. Seperti seorang penari yang terus menjaga keseimbangan geraknya, manusia juga harus menjaga keseimbangan hidupnya antara ibadah dan pekerjaan, antara kepentingan pribadi dan kepedulian sosial.

Dunia yang semakin cepat dan kompetitif, pesan semacam ini menjadi semakin relevan. Modernitas sering mendorong manusia hidup dalam ritme yang terburu-buru, mengejar produktivitas tanpa sempat merenungkan makna kehidupan. Padahal kebahagiaan sejati tidak selalu lahir dari kecepatan, melainkan dari kemampuan menjaga keseimbangan hidup.

Akhirnya, Idul Fitri mengingatkan kita bahwa perjalanan spiritual manusia tidak berhenti setelah Ramadhan berakhir. Justru setelah bulan suci itu berlalu, manusia diuji apakah nilai-nilai yang dipelajarinya selama puasa benar-benar menjadi bagian dari kehidupannya. Jika kesabaran, empati, dan kerendahan hati tetap terjaga, maka Idul Fitri benar-benar menjadi titik awal bagi kehidupan yang lebih bermakna.

Budaya lokal seperti Pakarena dapat dibaca sebagai pengingat simbolik tentang pentingnya harmoni dalam kehidupan manusia. Melalui gerakan yang lembut namun penuh makna, tradisi ini seakan mengajarkan bahwa kehidupan yang indah bukanlah kehidupan yang penuh kegaduhan, melainkan kehidupan yang mampu menjaga keseimbangan antara jiwa, tubuh, dan nilai-nilai kemanusiaan.

Pesan terdalam Idul Fitri: bahwa kemenangan sejati adalah ketika manusia mampu kembali menjadi dirinya yang paling jernih tenang, bersih, dan hidup dalam harmoni dengan dunia di sekitarnya.

Penulis : Dosen & Peneliti Bidang Antropologi Dakwah Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Parepare/ Alumni PPNK LEMHANNAS RI

  • Penulis: Afidatul Asmar

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ketua CMMI Gorontalo: Ketua BKAD Popayato Sampaikan Informasi Hoax Terkait Status Badan Hukum Bumdesma

    Ketua CMMI Gorontalo: Ketua BKAD Popayato Sampaikan Informasi Hoax Terkait Status Badan Hukum Bumdesma

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 74
    • 0Komentar

    Ketua Cendekia Muda Muslim Indonesia (CMMI) Provinsi Gorontalo, Amar, menyoroti pernyataan Ketua Badan Kerjasama Antar Desa (BKAD) Kecamatan Popayato yang dinilai telah menyampaikan informasi tidak benar (hoax) dalam Musyawarah Antar Desa (MAD) pada hari ini ,  minggu (19/10/2025). Dalam forum tersebut, Ketua BKAD disebut menyampaikan bahwa Badan Usaha Milik Desa Bersama (Bumdesma) Kecamatan Popayato telah […]

  • Menag Larang ASN Kemenag Gunakan Kendaraan Dinas untuk Mudik Lebaran

    Menag Larang ASN Kemenag Gunakan Kendaraan Dinas untuk Mudik Lebaran

    • calendar_month Kamis, 12 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 110
    • 0Komentar

    “Sebagian ASN Kemenag juga ada yang bertugas di momen Lebaran, misalnya untuk mengawal program Rumah Ibadah Ramah Pemudik. Selama menjalankan tugas, bisa gunakan fasilitas yang ada,” ujarnya. Larangan ini sejalan dengan ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 94 Tahun 2021 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil yang melarang pegawai negeri sipil menyalahgunakan wewenang dan fasilitas jabatan untuk […]

  • Kasus HIV/AIDS di Maros Terus Meningkat, Pemkab Perkuat Pencegahan hingga Tingkat Desa

    Kasus HIV/AIDS di Maros Terus Meningkat, Pemkab Perkuat Pencegahan hingga Tingkat Desa

    • calendar_month Senin, 1 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 132
    • 0Komentar

    nulondalon.com, Maros– Kasus HIV/AIDS di Kabupaten Maros menunjukkan tren peningkatan signifikan dalam lima tahun terakhir. Data Dinas Kesehatan Maros mencatat sebanyak 165 Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) menjalani terapi antiretroviral (ARV) sejak 2021 hingga November 2025. Peningkatan ini terlihat dari laporan tahunan. Pada 2021 terdapat 23 kasus, naik menjadi 32 kasus pada 2022. Tren terus berlanjut […]

  • Sang Imam Favorit di Musim Ramadhan

    Sang Imam Favorit di Musim Ramadhan

    • calendar_month Jumat, 7 Mar 2025
    • account_circle Dr. Momy Hunowu, M.Si
    • visibility 76
    • 0Komentar

    Paci Haru tak muda lagi. Penglihatannya sudah mulai kabur (ma pula-pulawuwolo). Volume suaranya tak sekencang dulu (malo poyo’o). Meski usianya sudah sepuh, perannya di Masjid kampung itu setara dengan profesor emeritus di kampus terkenal. Paci Haru selalu berada di depan, memimpin jamaah masjid lintas generasi. Meski hanya alumni TPA Mokadamu, Dia dikukuhkan menjadi imam sejak […]

  • Abaikan Undangan Mahasiswa, Sekretaris IKPM-HT Yogyakarta Beri Peringatan ke Pemda dan Komisi II DPRD Haltim

    Abaikan Undangan Mahasiswa, Sekretaris IKPM-HT Yogyakarta Beri Peringatan ke Pemda dan Komisi II DPRD Haltim

    • calendar_month Kamis, 15 Jan 2026
    • account_circle Risman Lutfi
    • visibility 186
    • 0Komentar

    Nulondalo.com – Sikap tidak kooperatif ditunjukkan oleh Pemerintah Daerah (Pemda) dan Komisi II DPRD Halmahera Timur (Haltim) dalam merespons undangan dialog terkait kepentingan masyarakat. Hal ini memicu kritik pedas dari Ikatan Komunikasi Pelajar Mahasiswa Halmahera Timur (IKPM-HT) Yogyakarta. Sekretaris IKPM-HT Yogyakarta, Yudis Kamah, menyampaikan kekecewaan mendalam atas absennya perwakilan pemerintah dalam forum dialog yang membicarakan […]

  • DPP Geninusa Bidang pendidikan dan ekonomi Soroti Uang komite/SPP Di SMA Negeri Sumatra Utara

    DPP Geninusa Bidang pendidikan dan ekonomi Soroti Uang komite/SPP Di SMA Negeri Sumatra Utara

    • calendar_month Rabu, 28 Mei 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 70
    • 0Komentar

    Dugaan pungutan liar (pungli) di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) di Sumatera Utara kembali mencuat. Hal ini disampaikan oleh Nirwan Pumah Siregar, pengurus Dewan Pimpinan Pusat (DPP) GENINUSA bidang pendidikan dan ekonomi, yang menyoroti praktik pungutan yang berkedok sukarela namun bersifat wajib. “Pendidikan gratis di sekolah negeri sudah diatur dalam Peraturan Daerah dan Peraturan Gubernur, […]

expand_less