Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Idul Fitri, Pakarena, dan Harmoni Jiwa: Ketika Tradisi Menari Mengajarkan Kesucian Hati

  • account_circle Afidatul Asmar
  • calendar_month Senin, 23 Mar 2026
  • visibility 522
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Seni tradisional seperti Pakarena tidak hanya penting sebagai warisan estetika, tetapi juga sebagai sarana pendidikan karakter. Dalam setiap gerakannya tersimpan nilai kesabaran, ketekunan, dan penghormatan terhadap harmoni sosial. Nilai-nilai ini sangat relevan dengan pesan Idul Fitri yang mengajak manusia untuk kembali kepada kesucian hati dan memperbaiki hubungan dengan sesama.

Idul Fitri sendiri sering disebut sebagai hari kembali kepada fitrah. Dalam hadis Nabi disebutkan bahwa setiap manusia dilahirkan dalam keadaan suci, sebagaimana dijelaskan dalam riwayat yang populer dalam literatur hadis. Fitrah ini adalah potensi dasar manusia untuk mengenal kebaikan dan hidup dalam harmoni dengan sesama. Namun dalam perjalanan hidup, manusia sering terjebak dalam berbagai konflik, egoisme, dan kepentingan duniawi yang menjauhkan dirinya dari kesucian tersebut.

Idul Fitri menjadi sangat penting. Hari raya ini bukan sekadar perayaan setelah puasa, tetapi juga kesempatan untuk memulai kembali kehidupan dengan hati yang lebih bersih. Tradisi saling memaafkan yang dilakukan masyarakat Indonesia mencerminkan kesadaran kolektif bahwa hubungan sosial harus dibangun di atas fondasi keikhlasan dan persaudaraan.

Nilai ini dibaca bersama dengan pesan simbolik dalam tradisi budaya seperti Pakarena, kita menemukan satu benang merah yang menarik. Baik dalam ajaran agama maupun dalam kebudayaan lokal, manusia diajarkan untuk hidup dalam keseimbangan. Harmoni antara tubuh dan jiwa, antara individu dan masyarakat, serta antara manusia dan Tuhan menjadi tujuan yang selalu diupayakan.

Merayakan Idul Fitri tidak cukup hanya dengan kegembiraan lahiriah. Kemenangan sejati justru terletak pada kemampuan manusia menjaga kesucian hati setelah Ramadhan berlalu. Seperti seorang penari yang terus menjaga keseimbangan geraknya, manusia juga harus menjaga keseimbangan hidupnya antara ibadah dan pekerjaan, antara kepentingan pribadi dan kepedulian sosial.

Dunia yang semakin cepat dan kompetitif, pesan semacam ini menjadi semakin relevan. Modernitas sering mendorong manusia hidup dalam ritme yang terburu-buru, mengejar produktivitas tanpa sempat merenungkan makna kehidupan. Padahal kebahagiaan sejati tidak selalu lahir dari kecepatan, melainkan dari kemampuan menjaga keseimbangan hidup.

Akhirnya, Idul Fitri mengingatkan kita bahwa perjalanan spiritual manusia tidak berhenti setelah Ramadhan berakhir. Justru setelah bulan suci itu berlalu, manusia diuji apakah nilai-nilai yang dipelajarinya selama puasa benar-benar menjadi bagian dari kehidupannya. Jika kesabaran, empati, dan kerendahan hati tetap terjaga, maka Idul Fitri benar-benar menjadi titik awal bagi kehidupan yang lebih bermakna.

Budaya lokal seperti Pakarena dapat dibaca sebagai pengingat simbolik tentang pentingnya harmoni dalam kehidupan manusia. Melalui gerakan yang lembut namun penuh makna, tradisi ini seakan mengajarkan bahwa kehidupan yang indah bukanlah kehidupan yang penuh kegaduhan, melainkan kehidupan yang mampu menjaga keseimbangan antara jiwa, tubuh, dan nilai-nilai kemanusiaan.

Pesan terdalam Idul Fitri: bahwa kemenangan sejati adalah ketika manusia mampu kembali menjadi dirinya yang paling jernih tenang, bersih, dan hidup dalam harmoni dengan dunia di sekitarnya.

Penulis : Dosen & Peneliti Bidang Antropologi Dakwah Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Parepare/ Alumni PPNK LEMHANNAS RI

  • Penulis: Afidatul Asmar

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pacaran Anak di Bawah Umur dan Bawa Kabur Kini Bisa Dipenjara, Ini Aturan KUHP Baru

    Pacaran Anak di Bawah Umur dan Bawa Kabur Kini Bisa Dipenjara, Ini Aturan KUHP Baru

    • calendar_month Senin, 5 Jan 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 643
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Praktik pacaran anak di bawah umur yang berujung pada tindakan membawa pergi tanpa restu orang tua kini berisiko pidana. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) baru menegaskan bahwa persetujuan anak tidak menghapus pelanggaran hukum atas hak pengasuhan orang tua yang sah. Ketentuan tersebut diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP berlaku penuh […]

  • Breaking News! Kebakaran Rumah di Kompleks Asrama Haji Gorontalo, Petugas Damkar Sigap Padamkan Api

    Breaking News! Kebakaran Rumah di Kompleks Asrama Haji Gorontalo, Petugas Damkar Sigap Padamkan Api

    • calendar_month Sabtu, 14 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 282
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Kebakaran melanda sejumlah rumah di Kelurahan Bulotadaa Barat, Kecamatan Sipatana, Kota Gorontalo pada Minggu (15/3/2026) dini hari sekitar pukul 01.00 WITA. Peristiwa tersebut terjadi di Perumahan Wahana Ceria atau kawasan kompleks Asrama Haji Gorontalo dan sempat menghebohkan warga sekitar. Berdasarkan informasi yang dihimpun di lokasi kejadian, api terlihat membakar sejumlah rumah warga di […]

  • Cegah Perkawinan Anak, Wagub Gorontalo Dorong Generasi Sehat dan Bebas Stunting

    Cegah Perkawinan Anak, Wagub Gorontalo Dorong Generasi Sehat dan Bebas Stunting

    • calendar_month Jumat, 19 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 164
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Upaya menekan angka stunting di Provinsi Gorontalo tidak bisa dilepaskan dari persoalan perkawinan anak. Hal itu ditegaskan Wakil Gubernur Gorontalo, Idah Syahidah Rusli Habibie, saat membuka Focus Group Discussion (FGD) Pencegahan Perkawinan Anak dan Penurunan Stunting yang digelar di Aula Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Provinsi Gorontalo, Kamis (18/12/2025). Dalam sambutannya, […]

  • Reses di Boalemo, Aleg DPRD Gorontalo Muhammad Dzikyan Serap Aspirasi Soal Bantuan Sosial hingga Lapangan Kerja Pemuda

    Reses di Boalemo, Aleg DPRD Gorontalo Muhammad Dzikyan Serap Aspirasi Soal Bantuan Sosial hingga Lapangan Kerja Pemuda

    • calendar_month Sabtu, 7 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 291
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Anggota DPRD Provinsi Gorontalo Daerah Pemilihan (Dapil) Pohuwato–Boalemo, Muhammad Dzikyan, menggelar kegiatan reses di Desa Bongo Dua, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo untuk menyerap berbagai aspirasi masyarakat, Jumat (6/2/2026). Dalam pertemuan tersebut, warga menyampaikan sejumlah persoalan mulai dari perubahan data bantuan sosial, kerusakan infrastruktur desa, hingga minimnya program pemberdayaan pemuda. Dzikyan yang juga Ketua […]

  • Marhaban Ya Ramadhan

    Marhaban Ya Ramadhan

    • calendar_month Senin, 16 Feb 2026
    • account_circle Ilham Sopu 
    • visibility 117
    • 0Komentar

    Dalam salah satu bukunya yang masuk kategori best seller yakni Lentera Al-Qur’an, kisah dan hikmah kehidupan, salah satu tema yang dikupas Prof Quraish adalah menyangkut ramadhan. Ada dua kata yang digunakan untuk menyambut tamu yang datang, yakni marhaban dan ahlan wa sahlan, keduanya berarti selamat datang, tapi beda dalam penggunaan kalimat tersebut. Menurut Prof Quraish, […]

  • MOTIVATAWA Resmi Diluncurkan: Platform Edutainment Profesional Indonesia Hadir untuk Negeri

    MOTIVATAWA Resmi Diluncurkan: Platform Edutainment Profesional Indonesia Hadir untuk Negeri

    • calendar_month Jumat, 7 Nov 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 167
    • 0Komentar

    MOTIVATAWA, sebuah platform edutainment profesional pertama di Indonesia, resmi melakukan soft launching di Jakarta, Minggu (23/11/2025). kegiatan ini  dimulai pukul 16.00 WIB dan dibuka langsung oleh CEO MOTIVATAWA, Platform Edutainment. Mengusung konsep perpaduan edukasi dan hiburan, MOTIVATAWA hadir sebagai wadah baru bagi masyarakat Indonesia untuk belajar dengan cara yang menyenangkan. “Kami ingin menghadirkan proses belajar […]

expand_less