Breaking News
light_mode
Trending Tags

Sang Imam Favorit di Musim Ramadhan

  • account_circle Dr. Momy Hunowu, M.Si
  • calendar_month Jumat, 7 Mar 2025
  • visibility 90
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Paci Haru tak muda lagi. Penglihatannya sudah mulai kabur (ma pula-pulawuwolo). Volume suaranya tak sekencang dulu (malo poyo’o). Meski usianya sudah sepuh, perannya di Masjid kampung itu setara dengan profesor emeritus di kampus terkenal. Paci Haru selalu berada di depan, memimpin jamaah masjid lintas generasi. Meski hanya alumni TPA Mokadamu, Dia dikukuhkan menjadi imam sejak usia muda, ketika masjid itu baru dibangun.

Musim Ramadhan ini, Paci Haru hanya bisa mengimami sholat Isya, selebihnya diserahkan kepada Aba Danggu, sang penerus. Aba Danggu menjadi favorit jamaah ketika memimpin sholat tarawih. Hanya hitungan detik, satu rakaat sudah dilampaui. “Gaass Dangguu” pekik suara jamaah dari arah belakang, memompa semangat Aba Danggu menyelesaikan 20 rakaat sholat taraweh tanpa tuma’ninah.

Paci Haru dan Aba Danggu adalah gambaran para imam kampung, yang mesti bacaan huruf-huruf ث(tsa), س (sin), ش (syin), ص (shod) disikat sama bunyinya, dan Lafadz huruf-huruf ج (jim), ز (zay), ذ (dzal), ظ (dzo) tak ada bedanya, mereka tetap dianggap terbaik memimpin sholat. Adapun anak-anak milenial, lulusan pesantren ternama, dengan hafalan dan tahsin lengkap 10 juz mumtaz, jangan berharap menjadi imam. Anak-anak belia ini tak recommended sebagai imam dengan dua alasan.

Alasan pertama datang dari kaum tua, “dipo mo’odelo”. Artinya meskipun bacaannya bagus, tetapi belum mampu menyesuaikan sikap dan perilaku sebagaimana layaknya seorang imam yang sudah dewasa. Bacaan bagus tak penting, yang lebih penting adalah adab. Inilah standar nilai adat Gorontalo, yang penerapannya tinggal tersisa di masjid-masjid kampung. Mestinya standar nilai ini dibawa ke ranah manajemen kepemimpinan modern.

Alasan kedua datang dari kaum milenial, “mo loloyota tiyo”. Artinya, sholat taraweh yang hanya 20 menit di tangan Aba Danggu, bisa selesai 1 jam di tangan santri bersuara merdu ini. Jadilah sholat taraweh hanya sebagai pencitraan. Yang penting diketahui orang sudah melaksanakan sholat taraweh. Tak penting sholatnya mengikuti tuma’ninah atau tidak. “Gass joo”. Demikian celetuk salah seorang jamaah musiman.

Demikianlah. Tarawih bukan lagi soal afdhol dan khusyu, melainkan pertimbangan efektif dan efisien, sebagaimana program efisiensi yang terpaksa, mencekik aparatur pemerintah dewasa ini. Imam muda dengan bacaan yang bagus, suara merdu yang bisa mengaduk-aduk emosi spiritual, justru tak disenangi jamaah musiman ini. Sementara imam sepuh dengan bacaan yang polos (rata bungango), walaupun suaranya terpaksa seperti jerit mobil tua di jalanan menanjak, justru dielu-elukan, diidolakan jamaahnya.

Fenomena ini mengingatkan kita pada perilaku rakyat Konoha. Mereka mengelu-elukan pucuk pimpinan negerinya yang berijazah palsu, bahkan penerusnya yang terlahir cacat demokrasi, di tengah menjamurnya calon pemimpin muda berkualitas, berkelas, berkarakter dan berintegritas.

Oleh: Dr. Momy Hunowu, M.Si (Dosen Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Agama Islam Negeri Gorontalo)

  • Penulis: Dr. Momy Hunowu, M.Si

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Eco-Nasionalisme: Merawat Tanah-Air, Merawat Indonesia

    Eco-Nasionalisme: Merawat Tanah-Air, Merawat Indonesia

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 91
    • 0Komentar

    Kita begitu fasih merayakan nasionalisme dalam bentuk seremoni dan simbol. Setiap tanggal 17 Agustus, kita berdiri tegap menyanyikan Indonesia Raya, mengibarkan bendera Merah Putih di halaman rumah, sekolah, dan kantor pemerintahan. Di media sosial, foto bendera yang dikibarkan di puncak gunung atau latar kemenangan atlet nasional menjadi penanda kebanggaan kolektif. Di ruang-ruang publik, nasionalisme dipentaskan lewat […]

  • Gus Aniq Kisahkan Sejarah Lahirnya NU yang Terinspirasi dari Kisah Nabi Musa AS Play Button

    Gus Aniq Kisahkan Sejarah Lahirnya NU yang Terinspirasi dari Kisah Nabi Musa AS

    • calendar_month Rabu, 28 Jan 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 251
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Di hadapan para Alumni PMII se-Gorontalo, Wakapolres Pohuwato, dan kader organisasi lainnya, KH. Abdullah Aniq Nawawi, MA atau Gus Aniq membuka ceramahnya dengan satu kisah yang jarang disinggung dalam diskursus keislaman kontemporer, yakni lahirnya Nahdlatul Ulama yang terinspirasi melalui kisah Nabi Musa AS. Kisah ini, menurutnya, bukan dongeng spiritual belaka, melainkan fondasi filosofis […]

  • Menari dalam Belantara Simulacra

    Menari dalam Belantara Simulacra

    • calendar_month Rabu, 26 Nov 2025
    • account_circle Pepi al-Bayqunie
    • visibility 88
    • 0Komentar

    Lebaran, seperti biasa, datang bukan hanya membawa ketupat dan peluk maaf. Ia datang membawa gelombang kegembiraan yang melompat-lompat dari dapur ibu sampai ke beranda digital. Di kampung-kampung kecil yang debunya masih hangat oleh langkah kaki anak-anak, hingga ke rumah-rumah mewah yang tak pernah tidur oleh lampu-lampu sorot interior—suasana keriangan tumpah ruah. Tahun ini, kegembiraan itu […]

  • Jejak Cengkeh, Luka Petani, dan Cahaya Gus Dur dari Masa Lalu

    Jejak Cengkeh, Luka Petani, dan Cahaya Gus Dur dari Masa Lalu

    • calendar_month Jumat, 5 Des 2025
    • account_circle Apriyanto Radjak
    • visibility 130
    • 0Komentar

    Penulis: Apriyanto Rajak –  (seorang petani, nelayan dan pemain sepak bola amatir) Di penghujung Agustus 2025, saya bersama Rizki memutuskan untuk bekerja sama menyelesaikan pekerjaan di kebun masing-masing. Kebetulan kebun milik kami berdua tidak terlalu berjauhan. Adapun jarak dari kampung bisa diasumsikan dengan waktu tempuh 15 menit menggunakan sepeda motor. Lokasinya berada di pegunungan Landaso, Kecamatan Bolaang […]

  • Work From Home sebagai Gerakan Nasionalisme

    Work From Home sebagai Gerakan Nasionalisme

    • calendar_month Kamis, 2 Apr 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 188
    • 0Komentar

    Pernahkah kita berpikir bahwa diam di rumah bisa menjadi tindakan patriotik? Bagi sebagian orang, terutama mereka yang memahami nasionalisme sebagai gerak—kerja keras, mobilisasi, dan kehadiran fisik di ruang publik—gagasan ini mungkin terasa aneh. Nasionalisme selama ini dibayangkan sebagai sesuatu yang tampak: tindakan yang bisa disaksikan, diukur, bahkan dirayakan. Dalam bayangan itu, diam justru sering diposisikan […]

  • Pergantian Tahun, Masyarakat Diimbau Waspadai Keamanan hingga Cuaca Ekstrem

    Pergantian Tahun, Masyarakat Diimbau Waspadai Keamanan hingga Cuaca Ekstrem

    • calendar_month Rabu, 31 Des 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 128
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Menjelang malam pergantian Tahun Masehi, masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai potensi risiko, mulai dari gangguan keamanan, kecelakaan lalu lintas, hingga cuaca ekstrem. Pengamat dan aparat keamanan menilai euforia perayaan tahun baru kerap dibarengi peningkatan kerawanan di ruang publik. Pengamat sosial dari Universitas Indonesia, Dr. Devie Rahmawati, menilai keramaian pada malam tahun baru […]

expand_less