Lebaran Dua Versi
- account_circle Redaksi Nulondalo
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 62
- print Cetak

Ilustrasi suasana silaturahmi Idul Fitri di rumah seorang kyai, saat para santri berkumpul, menikmati hidangan lebaran, dan berdiskusi santai tentang perbedaan penetapan hari raya dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
“Sepanjang metode yang digunakan berbeda, potensi berbeda pasti terjadi. Itu sudah terjadi dan akan terjadi. Kita juga sudah terbiasa menjalaninya. Jadi saya rasa sudah bukan masalah. Besok masing-masing kembali bekerja. Kita sudah lupa karena kembali ke kesibukan masing-masing,” jawab Kyai Saleh, menyeruput kopi dan meraih pisang goreng yang baru saja diantarkan oleh istri Sampara.
“Bulannya kan sama, masa beda metode beda hasil?” sela Ais.
“Yang bisa jawab ini mereka yang mengembangkan metode. Kita rakyat yang tidak punya pengetahuan tentang itu, sisa mengikuti saja.”
Para santri terdiam sejenak. Yusran berdiri, mengambil barongko dan menggigit perlahan. “Ada yang bilang, kiblat kita kan Arab Saudi. Kenapa berbeda? Saudi sudah memutuskan hari Jumat, kenapa Indonesia hari Sabtu?”
“Justru karena itu, Indonesia mengikuti Arab Saudi,” jawab Kyai Saleh.
“Maksudnya, Kyai?” Para santri saling berpandangan, tak sepenuhnya memahami jawaban sang Kyai.
“Pengumuman dan penetapan 1 Syawal di Arab Saudi dilakukan oleh pemerintah kerajaan. Sama kan di Indonesia, penetapan 1 Syawal ditetapkan oleh pemerintah. Jadi secara politik sama.”
“Tetapi kan secara keputusan berbeda, Kyai?”
- Penulis: Redaksi Nulondalo

Saat ini belum ada komentar