Menolak “Ramadan-nya” Gorontalo
- account_circle Tarmizi Abbas
- calendar_month Jumat, 4 Mar 2022
- visibility 13
- print Cetak

ilustrasi
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jika ini benar, maka selain tidak relevan, intinya berbagai ucapan tersebut berhenti maknanya sebatas mendongkrak popularitas politik para elit saja dan karena itulah, “Ramadan-nya” Gorontalo itu mesti ditolak. Klaim ini butuh untuk diperjelas agar pembaca tidak salah kaprah. Saya tidak menolak “Ramadan” di Gorontalo. Saya justru menolak “Ramadan-nya” Gorontalo. Dua klaim ini memiliki distingsi yang sangat tipis, namun memiliki konsekuensi etis yang sangat tajam: klaim pertama berisi penolakan terhadap bulan suci Ramadan; sedang klaim kedua berisi penolakan terhadap “praktik-praktik” politis yang dilakukan oleh segelintir orang di bulan Ramadan. Dari sini, jelaslah: yang menjadi kritik adalah praktik-praktik politik pencitraan yang mereduksi esensi Ramadan.
Dari Pencitraan menuju Komodifikasi Agama
Menampilkan baliho para elit di bulan Ramadan semacam ini lazim dalam dunia politik, khususnya pada domain politik pencitraan (imagining politics). Tujuannya sederhana dan pragmatis: iklan-iklan itu tidak lain adalah untuk meneguhkan citra para elit untuk meneguhkan identitas keagamaan mereka. Sehingga, dengan mengucapkan “selamat menjalankan ibadah puasa Ramadan” ada semacam “kepuasan diri” di dalam sana, bahwa si A atau si B, dengan baliho-baliho Ramadan telah menjadi figur religius bahkan peduli untuk tampil dengan dalih representasi identitasnya sebagai Muslim.
Cara-cara semacam ini tentu lazim. Sejak dua dekade lalu, seturut menguatnya wacana media massa di Indonesia, iklan-iklan politik bertebaran di luar sana untuk kontestasi, saling rebut popularitas yang berimplikasi dalam menciptakan polarisasi di tengah-tengah masyarakat. Polarisasi ini kian akut disusul program-program berkedok agama. Para elit muncul layaknya super hero di tengah himpitan ekonomi masyarakat yang pusing harga barang yang naik, kelangkaan gas dan minyak goreng, dengan turun membagi-bagikan sembako. Tempat yang dipilih mereka pun tidak main-main: tiap-tiap masjid. Inti aktivitas ini sebenarnya mudah tertebak: kampanye dan perluasan mobilisasi masa. Namun yang membikin hal ini terlihat “baik-baik saja” karena dibungkus dengan klaim-klaim agama.
- Penulis: Tarmizi Abbas

Saat ini belum ada komentar