Saldo Akhir
- account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
- calendar_month 11 jam yang lalu
- visibility 65
- print Cetak

Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak/Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Dalam perspektif akuntansi humanistik, saldo akhir tidak hanya diukur secara kuantitatif, tetapi juga kualitatif. Seberapa dalam empati kita meningkat? Seberapa jujur kita dalam bekerja? Seberapa peduli kita terhadap lingkungan dan sesama? Ini semua adalah “akun-akun tak berwujud” yang justru memiliki nilai paling besar.
Akhirnya, saldo akhir kita bukan ditentukan oleh seberapa meriah Ramadhan kita, tapi seberapa konsisten kita setelahnya. Kalau Ramadhan hanya menjadi ritual tahunan tanpa perubahan perilaku, maka kita seperti akuntan yang rajin mencatat, tapi tidak pernah membaca laporan.
Maka, mari kita jadikan Syawal dan seterusnya sebagai periode pembuktian. Bukan lagi soal menahan lapar, tapi menahan diri dari kebiasaan buruk. Bukan lagi soal tarawih, tapi soal istiqamah. Karena pada akhirnya, saldo akhir kita bukan angka di kertas, melainkan jejak kebaikan yang benar-benar kita jalankan.
Dan kalau boleh sedikit bercanda ala NU: kalau saldo akhir kita masih minus, jangan panik. Selama “rekening amal” belum ditutup, kita masih punya kesempatan setor kebaikan. Tapi ingat, jangan sampai kita sibuk menghitung saldo, tapi lupa menambah isinya.
Penulis : Intelektual Muda Nahdlatul Ulama
- Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Saat ini belum ada komentar