Lebaran, Jalan Tol, dan Kesepian yang Tak Pernah Kita Akui
- account_circle Muhammad Kamal
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 71
- print Cetak

Ilustrasi suasana mudik Lebaran: perjalanan padat di jalan tol menuju desa kontras dengan hangatnya momen silaturahmi keluarga di kampung halaman.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Di titik inilah kita melihat ironi kecil dari zaman modern. Kita memiliki lebih banyak tempat rekreasi, lebih banyak jalan untuk bepergian, tetapi tidak selalu memiliki lebih banyak waktu untuk benar-benar bersama.
Lebaran sebenarnya menawarkan sesuatu yang berbeda. Ia bukan sekadar hari raya yang dirayakan setahun sekali, melainkan momentum sosial yang langka. Pada hari itu, orang-orang yang lama terpisah kembali duduk di ruang yang sama. Mereka saling memaafkan, membuka percakapan lama, dan mencoba merawat kembali hubungan yang mungkin renggang.
Namun makna Idulfitri tidak berhenti pada ritual saling bersalaman. Dalam tradisi Islam, kata fitri merujuk pada keadaan kembali kepada kesucian atau fitrah. Artinya, yang diharapkan berubah bukan hanya suasana perayaan, tetapi juga sikap hidup manusia setelah menjalani Ramadan.
Pertanyaan yang patut diajukan setiap tahun sebenarnya sederhana: setelah semua perjalanan mudik itu, apa yang benar-benar berubah dalam diri kita?
Apakah kita menjadi lebih sabar, lebih peduli kepada orang lain, atau lebih mampu melihat kehidupan dengan jernih? Ataukah lebaran hanya menjadi jeda singkat sebelum kita kembali menjalani rutinitas yang sama seperti sebelumnya?
Infrastruktur boleh terus berkembang. Jalan tol akan semakin panjang, destinasi wisata akan semakin banyak, dan perjalanan mudik mungkin akan semakin cepat dari tahun ke tahun. Tetapi makna lebaran pada akhirnya tidak ditentukan oleh semua itu.
- Penulis: Muhammad Kamal

Saat ini belum ada komentar