Lebaran, Jalan Tol, dan Kesepian yang Tak Pernah Kita Akui
- account_circle Muhammad Kamal
- calendar_month Selasa, 24 Mar 2026
- visibility 291
- print Cetak

Ilustrasi suasana mudik Lebaran: perjalanan padat di jalan tol menuju desa kontras dengan hangatnya momen silaturahmi keluarga di kampung halaman.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Di titik inilah kita melihat ironi kecil dari zaman modern. Kita memiliki lebih banyak tempat rekreasi, lebih banyak jalan untuk bepergian, tetapi tidak selalu memiliki lebih banyak waktu untuk benar-benar bersama.
Lebaran sebenarnya menawarkan sesuatu yang berbeda. Ia bukan sekadar hari raya yang dirayakan setahun sekali, melainkan momentum sosial yang langka. Pada hari itu, orang-orang yang lama terpisah kembali duduk di ruang yang sama. Mereka saling memaafkan, membuka percakapan lama, dan mencoba merawat kembali hubungan yang mungkin renggang.
Namun makna Idulfitri tidak berhenti pada ritual saling bersalaman. Dalam tradisi Islam, kata fitri merujuk pada keadaan kembali kepada kesucian atau fitrah. Artinya, yang diharapkan berubah bukan hanya suasana perayaan, tetapi juga sikap hidup manusia setelah menjalani Ramadan.
Pertanyaan yang patut diajukan setiap tahun sebenarnya sederhana: setelah semua perjalanan mudik itu, apa yang benar-benar berubah dalam diri kita?
Apakah kita menjadi lebih sabar, lebih peduli kepada orang lain, atau lebih mampu melihat kehidupan dengan jernih? Ataukah lebaran hanya menjadi jeda singkat sebelum kita kembali menjalani rutinitas yang sama seperti sebelumnya?
Infrastruktur boleh terus berkembang. Jalan tol akan semakin panjang, destinasi wisata akan semakin banyak, dan perjalanan mudik mungkin akan semakin cepat dari tahun ke tahun. Tetapi makna lebaran pada akhirnya tidak ditentukan oleh semua itu.
- Penulis: Muhammad Kamal

Saya teringat dengan sebuah istilah yang mungkin relevan dengan keadaan saat ini, bahwa semakin sebuah peradaban bergerak maju yang ditandai dengan pembangunan yang massif; gedung gedung tinggi dan sebagainya, maka semakin rendah pula kadar kemanusiaan yang akan di hasilkan.
24 Maret 2026 11:17Fenomena yang di gambarkan penulis memang nyata dan real adanya. Lebaran semakin hari telah jauh bergeser dari semangat azalinya. Bahkan pada taraf yang lebih mengenaskan, ketimbang untuk saling bersilaturahim secara langsung, tidak sedikit orang yang melakukannya dengan via online saja seperti zoom meeting, whatsapp grup dan sejenisnya.
Pada intinya urgensi silaturahim dewasa ini semakin mengalami “Dekadensi yang bersifat tontologis”, semakin jauh tercerabut dari khittahnya.
Tabik
Makasih insight tambahannya kakak Yusuf..
30 Maret 2026 14:51