Breaking News
light_mode
Trending Tags

Lebaran, Jalan Tol, dan Kesepian yang Tak Pernah Kita Akui

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month Selasa, 24 Mar 2026
  • visibility 378
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ia ditentukan oleh sesuatu yang jauh lebih sederhana: apakah manusia yang merayakannya benar-benar kembali menjadi lebih manusiawi.

Jika tidak, kita mungkin hanya sedang mengulang tradisi yang sama setiap tahun—bergerak dari satu lebaran ke lebaran berikutnya, tanpa benar-benar memahami apa yang sebenarnya sedang kita rayakan.

makna lebaran tidak pernah ditentukan oleh panjangnya jalan yang kita bangun, Ia ditentukan oleh kedalaman hati manusia yang berjalan di atasnya.

Terus mengevalusi dengan bertanya jangan-jangan yang setiap tahun pulang ke kampung halaman bukan hati kita, melainkan hanya tubuh kita saja.

Dan jika itu yang terjadi, maka mungkin yang perlu kita perbaiki bukan sekadar jalan menuju desa—tetapi jalan pulang menuju diri kita sendiri.

Penulis : Alumni Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (2)

  • Muh yusuf

    Saya teringat dengan sebuah istilah yang mungkin relevan dengan keadaan saat ini, bahwa semakin sebuah peradaban bergerak maju yang ditandai dengan pembangunan yang massif; gedung gedung tinggi dan sebagainya, maka semakin rendah pula kadar kemanusiaan yang akan di hasilkan.
    Fenomena yang di gambarkan penulis memang nyata dan real adanya. Lebaran semakin hari telah jauh bergeser dari semangat azalinya. Bahkan pada taraf yang lebih mengenaskan, ketimbang untuk saling bersilaturahim secara langsung, tidak sedikit orang yang melakukannya dengan via online saja seperti zoom meeting, whatsapp grup dan sejenisnya.
    Pada intinya urgensi silaturahim dewasa ini semakin mengalami “Dekadensi yang bersifat tontologis”, semakin jauh tercerabut dari khittahnya.
    Tabik

    Balas24 Maret 2026 11:17
  • Kamal

    Makasih insight tambahannya kakak Yusuf..

    Balas30 Maret 2026 14:51

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Trilogi Patriotik : Spionase Saripa, Taktik Dua Belas, dan Wasiat Hijau Nani Wartabone yang Terlupakan

    Trilogi Patriotik : Spionase Saripa, Taktik Dua Belas, dan Wasiat Hijau Nani Wartabone yang Terlupakan

    • calendar_month Jumat, 23 Jan 2026
    • account_circle Sandy Syafrudin Nina
    • visibility 434
    • 0Komentar

    Refleksi 84 Tahun Hari Patriotik Gorontalo Beberapa hari yang lalu, sebelum tanggal yang diperingati sebagai hari patriotik Gorontalo, saya berziarah ke makam pahlawan Gorontalo, pak Nani. Saya berdoa untuk beliau, dan para pejuang yang ikut serta bersama beliau dalam membebaskan Gorontalo dari penjajahan. Lalu tepat hari ini, di tanggal 23 Januari 2026, saya ingin kita […]

  • Gus Men Kami: Kau Kecam, Kami Bela

    Gus Men Kami: Kau Kecam, Kami Bela

    • calendar_month Sabtu, 26 Mar 2022
    • account_circle Asrul G.H. Lasapa
    • visibility 72
    • 0Komentar

    Sahabat, karena kau berada di pihak pengecam, maka biarlah ku panggil kau dengan panggilan “Cam”. Assalamu ‘Alaikum Sahabat Cam, Begini Sahabat, Kementerian Agama itu adalah rumah besar bagi kami warga Kementerian Agama. Aku adalah bagian darinya. Di rumah ini aku mengabdi, berbakti sekaligus mengais rezki. He he. Oh ya Cam, perlu kau tahu bahwa kami […]

  • Kritik Pelindo atas Kemacetan Tanjung Priok, Wasekjen PII: Gagal dalam Manajemen Sistem Logistik

    Kritik Pelindo atas Kemacetan Tanjung Priok, Wasekjen PII: Gagal dalam Manajemen Sistem Logistik

    • calendar_month Senin, 28 Apr 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 163
    • 0Komentar

    Wakil Sekretaris Jenderal Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Panji Sukma Nugraha, menyampaikan kritik tajam terhadap manajemen PT Pelindo seiring kemacetan parah yang terjadi di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok beberapa hari terakhir. Menurutnya, insiden ini merupakan bentuk nyata dari kegagalan perencanaan dan pengendalian sistem logistik nasional yang semestinya dapat diantisipasi sejak awal. “Ini bukan sekadar kemacetan lalu […]

  • HAM & ASSOCIATES Lapor Hakim PN Sanana ke Komisi Yudisial dan Mahkamah Agung RI

    HAM & ASSOCIATES Lapor Hakim PN Sanana ke Komisi Yudisial dan Mahkamah Agung RI

    • calendar_month Rabu, 28 Mei 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 119
    • 0Komentar

    Advokat HAM & ASSOCIATES laporkan Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Sanana ke Komisi Yudisial (KY) dan Mahkamah Agung (MA) RI atas dugaan pelanggaran Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim. Laporan tertanggal 29 April 2025 tersebut dilayangkan pada hari, Jum’at (16/05/2025). Pasalnya, setelah membaca dan mempelajari seluruh berkas yang berkaitan dengan Perkara Nomor 3/Pdt.G/2024/PN.Snn yang diucapkan […]

  • Kasus Dugaan Penganiayaan Oleh Oknum Polisi Memasuki Babak Baru, LKBH Maros Kantongi Sejumlah Nama

    Kasus Dugaan Penganiayaan Oleh Oknum Polisi Memasuki Babak Baru, LKBH Maros Kantongi Sejumlah Nama

    • calendar_month Minggu, 4 Jan 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 246
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Maros— Penanganan kasus dugaan penganiayaan yang diduga dilakukan oleh oknum anggota Kepolisian Resor (Polres) Maros terhadap seorang warga kini memasuki babak baru. Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH) Maros selaku kuasa hukum korban menyatakan telah mengantongi sejumlah nama anggota kepolisian yang diduga turut mengambil bagian dalam peristiwa tersebut. Perkembangan penting dalam penanganan perkara ini […]

  • Antara Opini WTP dan Realitas Publik: Menguji Makna Akuntabilitas Negara

    Antara Opini WTP dan Realitas Publik: Menguji Makna Akuntabilitas Negara

    • calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
    • account_circle Nuruma banyal
    • visibility 245
    • 0Komentar

    Pada akhirnya, opini WTP memang penting, tetapi tidak cukup. Ia hanya menunjukkan bahwa laporan keuangan disusun dengan baik, bukan bahwa kebijakan berjalan dengan baik. Akuntabilitas yang sesungguhnya baru tercapai ketika anggaran negara benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat. Selama masih ada jarak antara laporan dan kenyataan, maka keberhasilan yang ditampilkan akan selalu menyisakan tanda tanya. Dan […]

expand_less