Lebaran, Jalan Tol, dan Kesepian yang Tak Pernah Kita Akui
- account_circle Muhammad Kamal
- calendar_month Selasa, 24 Mar 2026
- visibility 292
- print Cetak

Ilustrasi suasana mudik Lebaran: perjalanan padat di jalan tol menuju desa kontras dengan hangatnya momen silaturahmi keluarga di kampung halaman.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Namun hubungan sosial tidak selalu bergerak mengikuti logika pembangunan fisik. Jalan bisa diperlebar, tetapi kedekatan antar manusia tidak otomatis ikut melebar. Justru dalam banyak kasus, percepatan hidup modern membuat interaksi sosial semakin tipis.
Mudik, yang dahulu identik dengan tinggal berhari-hari di kampung, kini sering berubah menjadi kunjungan singkat. Orang datang, bersalaman, makan bersama, lalu segera kembali ke kota karena pekerjaan menunggu. Silaturahmi tetap terjadi, tetapi waktunya semakin sempit.
Desa juga mengalami perubahan yang tidak kecil. Banyak desa yang kini dipoles menjadi destinasi wisata. Pemerintah daerah melihat potensi ekonomi dari pemandangan alam, tradisi lokal, atau kuliner khas. Homestay dibangun, spot foto dibuat, dan promosi wisata digencarkan.
Dari sisi ekonomi, perubahan ini jelas membawa manfaat. Lapangan kerja baru muncul, perputaran uang meningkat, dan desa menjadi lebih hidup. Tetapi perubahan itu juga membawa pertanyaan baru: ketika desa semakin sibuk melayani wisatawan, apakah ia masih menjadi ruang sosial yang akrab bagi warganya sendiri?
Wisata sering menawarkan kebahagiaan yang cepat. Orang datang, menikmati pemandangan, mengambil foto, lalu pergi. Dalam hitungan jam, pengalaman itu selesai. Sementara kebahagiaan yang dulu tumbuh di desa justru lahir dari ritme hidup yang lambat—dari obrolan panjang di beranda rumah, dari kebiasaan saling mampir tanpa janji, dari waktu yang tidak diburu-buru.
- Penulis: Muhammad Kamal

Saya teringat dengan sebuah istilah yang mungkin relevan dengan keadaan saat ini, bahwa semakin sebuah peradaban bergerak maju yang ditandai dengan pembangunan yang massif; gedung gedung tinggi dan sebagainya, maka semakin rendah pula kadar kemanusiaan yang akan di hasilkan.
24 Maret 2026 11:17Fenomena yang di gambarkan penulis memang nyata dan real adanya. Lebaran semakin hari telah jauh bergeser dari semangat azalinya. Bahkan pada taraf yang lebih mengenaskan, ketimbang untuk saling bersilaturahim secara langsung, tidak sedikit orang yang melakukannya dengan via online saja seperti zoom meeting, whatsapp grup dan sejenisnya.
Pada intinya urgensi silaturahim dewasa ini semakin mengalami “Dekadensi yang bersifat tontologis”, semakin jauh tercerabut dari khittahnya.
Tabik
Makasih insight tambahannya kakak Yusuf..
30 Maret 2026 14:51