Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Ironi Serambi Madinah, Dua Dekade Provinsi Berdiri Tanpa Masjid Raya

  • account_circle Hafiz Aqmal Djibran, S.Ikom
  • calendar_month Rabu, 30 Apr 2025
  • visibility 170
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Jika Aceh dikenal dengan “Serambi Mekkah”, maka Gorontalo dikenal dengan “Serambi Madinah”. Julukan tersebut sudah lama dikenal khususnya bagi masyarakat Gorontalo, termasuk penulis. Barangkali telah menjadi identitas daerah Gorontalo yang bisa diketahui oleh banyak orang. Tentunya julukan ini tidak serta merta turun dari langit dan dipersembahkan untuk daerah Gorontalo.

Jika digali dari sejarah lokal dan kultural masyarakat Gorontalo, daerah ini layak menyandang julukan tersebut. Indeks kependudukan menyatakan bahwa 98% masyarakat daerah Gorontalo menganut agama islam (BPS, 2021). Selain itu, secara historis daerah ini dulunya menjadi pusat peradaban islam tertua yang ada di Indonesia Timur.

Dari tahun ke tahun, jumlah masjid di Gorontalo mengalami peningkatan yang cukup signfikan. Bayangkan saja, di tahun 2021 jumlah masjid di provinsi Gorontalo secara keseluruhan berjumlah 2.569 masjid. Tiga tahun berselang, jumlah masjid di tahun 2024 meningkat menjadi 2.777 masjid. Selang tiga tahun, masjid di provinsi Gorontalo bertambah lebih dari 200 masjid.

Sebagai bagian dari masyarakat Gorontalo yang hampir 20 tahun hidup di daerah ini, penulis begitu menikmati kehidupan yang terbangun dengan baik. Kehidupan beragama yang begitu kental, adat istiadat yang masih terjaga, serta kerukunan antar budaya yang sarat akan toleransi antar masyarakat.

Dibalik kecintaan terhadap kehidupan religius di Gorontalo, satu hal tersirat di benak penulis tentang bangunan representatif daerah, dalam hal ini adanya masjid raya. Lebih dari dua dekade provinsi Gorontalo berdiri tanpa hadirnya Masjid Raya. Apakah julukan “Serambi Madinah” hanya sekedar retorika saja?

Sebenarnya ada dan tidaknya Masjid Raya dalam sebuah provinsi merupakan hal yang sah-sah saja. Tetapi jika provinsi tersebut memiliki latar sejarah peradaban agama dan telah mendapat julukan yang begitu fenomenal sebagai “Serambi Madinah” eksistensi masjid raya adalah sesuatu yang mutlak perlu.

Mengapa Masjid Raya Penting bagi Gorontalo?

Sejak resmi berdiri sebagai provinsi lebih dari dua dekade yang lalu, tidak adanya Masjid Raya di Gorontalo mencerminkan kurangnya prioritas pemerintah daerah dalam membangun Gorontalo sebagai “serambi Madinah”. Padahal sebagai provinsi yang memiliki warisan Sejarah islam yang kuat, hadirnya Masjid Raya bisa memperkuat identitas daerah dan nilai – nilai islam yang selama ini dibanggakan oleh masyarakat Gorontalo.

Sebenarnya pembangunan Masjid Raya telah direncanakan oleh pemerintah provinsi sejak tahun 2015. Namun sampai saat ini nasib pembangunan tersebut entah sudah sampai dimana(?).

Wacana pembangunan Masjid Raya juga datang dari pemerintah Kabupaten Gorontalo. Pada tahun 2023, Nelson Pomalingo sebagai bupati saat itu menggalakan dukungan terhadap pembangunan Islamic center dan Masjid Raya di Kabupaten Gorontalo. Kembali lagi nasib pembangunan tersebut hingga penulis membuat tulisan ini entah sudah sampai dimana(?). Nelson Pomalingo yang dulunya sebagai salah satu penggerak pembentukan Provinsi Gorontalo turut merasakan hal yang sama, tidak adanya wajah Gorontalo sebagai “serambi Madinah”.

Masjid Raya Sebagai Kawasan Wisata Halal

Sebagai daerah yang melekat dengan nilai – nilai sejarah Islam di kawasan Indonesia Timur, wisata halal di Gorontalo sudah seharusnya dimaksimalkan. Salah satu bentuknya dengan adanya masjid raya. Di beberapa kota besar di pulau Jawa, masjid raya tidak hanya difungsikan sebagai tempat beribadah. Masjid raya menjadi multi fungsi selain sebagai tempat peribadahan kaum muslim, bisa juga sebagai tempat wisata.

Wisata halal menjadi potensi yang cukup menjanjikan jika dikembangkan. Contoh Masjid Raya yang dijadikan wisata halal seperti Masjid Al-Jabbar di Bandung, Baiturrahman di Aceh, dan Istiqlal di Jakarta.

Terdapat pilihan alternatif dalam hal ini. Misalnya, Masjid Hunto Sultan Amai yang ada di Kota Gorontalo bisa dikembangkan sebagai Masjid Raya. Bukan tanpa alasan, Masjid Hunto yang terkenal sebagai Masjid bersejarah di Gorontalo ini bisa diintegrasikan sebagai alternatif untuk dijadikan Masjid Raya. Tentunya dengan adanya infrastruktur pendukung seperti fasilitas yang memenuhi standar sebagai Masjid Raya, pengelolaan yang professional, dan kenyamanan bagi para pengunjung masjid. Bisa dipastikan hal ini tidaklah mudah, butuh komitmen dan dukungan dari pemerintah untuk menjadikan Masjid Hunto Sultan Amai sebagai solusi alternatif pembangunan Masjid Raya di Gorontalo. Dan yang paling penting, bisa menggerakkan ekonomi lokal serta pendapatan daerah.

Pembangunan Masjid Raya di Gorontalo memiliki potensi besar sebagai identitas daerah dan destinasi wisata halal yang menarik wisatawan berkunjung. Masjid Raya bukan hanya sekedar bangunan ibadah umat islam, tapi sebagai identitas Gorontalo sebagai “serambi Madinah” yang selama ini digaungkan oleh berbagai kalangan. Setelah lebih dari dua dekade Provinsi Gorontalo berdiri, patut kita nantikan rencana pemerintah dalam membangun Masjid Raya agar “Serambi Madinah” tidak hanya retorika belaka, melainkan hadir dalam wujud nyata.

Penulis : Anggota PB HPMIG periode 2024 – 2026

  • Penulis: Hafiz Aqmal Djibran, S.Ikom

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Inilah Tuntutan Demo Aliansi Merah Maron

    Inilah Tuntutan Demo Aliansi Merah Maron

    • calendar_month Senin, 29 Sep 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 167
    • 0Komentar

    Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail bersama Wakil Gubernur Idah Syahidah Rusli Habibie, Kapolda Gorontalo Irjen Pol. Widodo, dan Ketua DPRD Provinsi Gorontalo Idrus M. Thomas Mopili, menemui aksi demonstrasi mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG) di Bundaran Tugu Saronde, Senin (1/9/2025). Mahasiswa UNG yang tergabung dalam Aliansi Merah Maron menyampaikan sejumlah tuntutan kepada Pemerintah Provinsi Gorontalo, DPRD, […]

  • Masyarakat Adat Halmahera Timur Murka, Ultimatum Amin Bahrun Segera Buka Inaport dan EPNBP

    Masyarakat Adat Halmahera Timur Murka, Ultimatum Amin Bahrun Segera Buka Inaport dan EPNBP

    • calendar_month Jumat, 29 Agt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 270
    • 0Komentar

    Kemarahan masyarakat adat Maba, Halmahera Timur mencapai puncaknya. Mereka menuding Amin Bahrun, yang hanya berstatus Pjs KTT PT ANI, bertindak semena-mena dengan menjadikan laut Maba sebagai lokasi parkir tongkang berminggu-minggu. Hal ini sengaja tongkang tersebut telah di Sandra oleh saudara Amin Bahrun sangat berbahaya terhadap pencemaran laut dan akan menghancurkan mata pencaharian nelayan tradisional. ” […]

  • Halal Bi Halal: Silaturrahmi Yang Membentuk “Kita”

    Halal Bi Halal: Silaturrahmi Yang Membentuk “Kita”

    • calendar_month Rabu, 26 Nov 2025
    • account_circle Pepi al-Bayqunie
    • visibility 193
    • 0Komentar

    Setiap lebaran tiba, ada satu momen yang selalu kita tunggu dengan antusias: Halal Bi Halal. Di banyak keluarga muslim Indonesia, tradisi ini berarti keliling dari rumah ke rumah, bersalaman, dan menyantap hidangan yang sensasi rasanya tak pernah gagal. Tapi lebih dari itu, ada suasana hangat yang selalu hadir: perasaan diterima kembali, (setelah) apapun yang terjadi […]

  • Falaqiah, Tradisi Penentuan 1 Ramadhan di Desa Bobawa

    Falaqiah, Tradisi Penentuan 1 Ramadhan di Desa Bobawa

    • calendar_month Rabu, 26 Feb 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 165
    • 0Komentar

    Sebelum adanya kemudahan akses informasi seperti sekarang, masyarakat Desa Bobawa, kec. makian barat, kab. Halmahera Selatan, Maluku Utara, memiliki cara tersendiri secara tradisional dalam menentukan awal Ramadhan. Bapak Haji Said Ahmad selaku Imam desa bobawa menyampaikan ada dua metode utama yang digunakan di masa lalu yakni perhitungan falaqiah dan pengamatan pasang surut air laut. Menurut […]

  • Gerakan Demonstrasi Mei Berlawan di Kota Ternate, Wagub Malut Temui Massa Aksi Bicarakan Personal Buruh dan Pendidikan 

    Gerakan Demonstrasi Mei Berlawan di Kota Ternate, Wagub Malut Temui Massa Aksi Bicarakan Personal Buruh dan Pendidikan 

    • calendar_month Senin, 28 Apr 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 182
    • 0Komentar

    Peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) di Kota Ternate diwarnai dengan aksi demonstrasi yang digelar oleh sejumlah elemen gerakan dalam Aliansi Mei Berlawan, Rabu (1/5/2025). Aksi ini menyuarakan persoalan ketenagakerjaan dan akses pendidikan, serta mengecam dominasi oligarki tambang di Maluku Utara. Massa aksi memulai long march dari titik kumpul menuju kediaman Gubernur Maluku Utara, sebelum […]

  • Matoduwolo Kiyai, Mari Kiyai, Silahkan Kiyai

    Matoduwolo Kiyai, Mari Kiyai, Silahkan Kiyai

    • calendar_month Minggu, 13 Nov 2022
    • account_circle Asrul G.H. Lasapa
    • visibility 169
    • 0Komentar

    Di mana-mana, sering kita mendengar panggilan “kiyai” kepada seseorang. Panggilan ini disampaikan dalam berbagai kesempatan, khususnya pada momen-momen keagamaan. Tak peduli apakah seseorang yang dipanggil kiyai tersebut pantas menyandang gelar sakral ini atau tidak. Entah parameter apa yang dipakai sehingga begitu mudahnya sebutan kiyai dialamatkan kepada seseorang..  Apakah setiap penceramah, ustadz atau guru agama, bisa […]

expand_less