Breaking News
light_mode
Trending Tags

Geliat Ekonomi GP Ansor di Tangan Addin Jauharudin

  • account_circle Djemi Radji
  • calendar_month Sabtu, 5 Jul 2025
  • visibility 81
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) telah lama menjadi garda depan pemuda Nahdlatul Ulama (NU) dalam menegakkan nilai-nilai keislaman yang moderat, menjaga keutuhan bangsa, dan memperkuat identitas kebangsaan. Namun, satu aspek yang selama ini belum tergarap secara maksimal adalah penguatan ekonomi kader dan organisasi. Di bawah kepemimpinan Addin Jauharudin, wajah GP Ansor mulai menunjukkan arah baru: membangun kemandirian ekonomi organisasi berbasis kader.

Hal itu dibuktikan ketika Addin menjadi pembicara utama dalam Halaqah Ekonomi Ansor yang digagas Ansor Gorontalo pada Sabtu, 19 Juli 2025, siang. Dalam Halaqah Ekonomi tersebut, Addin Jauharudin menegaskan pentingnya mendorong kader Ansor untuk menjadi lebih produktif secara ekonomi. Ia menyampaikan bahwa gerakan ekonomi yang dilakukan oleh kader-kader Ansor harus berdiri di atas fondasi sejarah panjang perjuangan ekonomi Nahdlatul Ulama, khususnya semangat Nahdlatut Tujjar—gerakan kebangkitan saudagar pribumi yang diinisiasi oleh para pendiri NU sebelum organisasi ini lahir secara resmi pada 1926.

Addin menjadi pembicara utama dalam Halaqah Ekonomi Ansor Gorontalo, betempat di Aula PWNU Gorontalo, Sabtu 19 Juli 2025, siang/ Dok. GP Ansor Gorontalo

“Semangat Nahdlatut Tujjar adalah warisan penting para muassis NU. Di dalamnya ada tafsir ekonomi yang luar biasa, bahwa kita tidak hanya diperintahkan untuk berdakwah secara lisan, tetapi juga secara sosial dan ekonomi. Ini yang harus kita hidupkan kembali,” ungkap Addin di hadapan para peserta halaqah.

GP Ansor Menjadi Pusat Inkubasi Sosial-Ekonomi

Addin juga menggarisbawahi bahwa kemandirian ekonomi bukan semata-mata soal menciptakan lapangan usaha, tetapi bagaimana organisasi mampu melahirkan generasi yang berdaya saing dan berpendidikan unggul.

Sekolah Unggulan NU sebagai Pusat Inkubasi Sosial-Ekonomi Salah satu strategi jangka panjang yang ia sampaikan dalam forum tersebut adalah pentingnya pendirian sekolah-sekolah unggulan NU di setiap provinsi. Sekolah-sekolah ini tidak hanya menjadi pusat pendidikan formal, tetapi juga inkubator nilai dan keterampilan ekonomi bagi generasi muda NU.

Addin membayangkan sekolah-sekolah unggulan NU sebagai tempat kaderisasi ideologis dan profesional: di mana para siswa tidak hanya dibekali dengan ilmu keislaman dan kebangsaan, tetapi juga keterampilan kewirausahaan, teknologi digital, dan ekonomi kreatif.

“Kalau kita punya sekolah unggulan di setiap provinsi, maka masa depan NU dan Ansor bisa kita pegang dari sekarang. Kita siapkan pemimpin dan pelaku ekonomi sejak mereka masih di bangku pendidikan,” tegas Addin.

Dengan demikian, transformasi ekonomi yang digagas oleh Addin tidak terhenti pada ranah usaha atau UMKM semata, tetapi bergerak menuju ekosistem kaderisasi ekonomi jangka panjang, dimulai dari pendidikan, berlanjut ke pelatihan, dan bermuara pada pemberdayaan komunitas.

Transformasi ini tidak hanya menjadi respons atas tantangan zaman, tetapi juga merupakan langkah strategis dalam menjawab krisis kemandirian yang selama ini melingkupi banyak organisasi sosial keagamaan.

Kemandiran Ekonomi Fondasi Utama GP Ansor

Addin yang juga Penulis buku “Menggerakan Nahdlatut Tujjar”, adalah sosok muda NU yang akrab dengan dunia aktivisme dan kewirausahaan. Ia nampak membawa semangat baru dalam memimpin GP Ansor. Ia percaya bahwa kemandirian ekonomi adalah fondasi utama organisasi yang kuat dan berpengaruh. Tanpa itu, organisasi cenderung bergantung pada sponsor, donor, atau bahkan kepentingan politik jangka pendek.

Dalam berbagai kesempatan, Addin mengungkapkan bahwa ideologi yang kokoh, kaderisasi yang mapan, dan ekonomi yang mandiri adalah tiga pilar utama gerakan pemuda masa kini. Ketiganya harus berjalan beriringan agar organisasi mampu bertahan dan berkembang dalam jangka panjang.

“Kita harus mulai membiasakan kader untuk berpikir tidak hanya dalam kerangka pengabdian dan ideologi, tetapi juga dalam kerangka ekonomi dan kemandirian. Organisasi ini tidak bisa besar kalau ekonominya lemah,” ujar Addin saat membuka Pelatihan Ekonomi Kader GP Ansor di Jakarta.

Di tangan Addin, GP Ansor tidak hanya berhenti pada wacana. Sejumlah langkah konkret telah digulirkan untuk membangun ekosistem ekonomi kader. Hal itu dilihat dari Pembentukan Koperasi Kader Ansor. Koperasi menjadi salah satu instrumen utama untuk membangun solidaritas ekonomi. Di berbagai daerah, GP Ansor mulai mendorong pembentukan Koperasi Kader Ansor yang dikelola oleh para alumni pelatihan kewirausahaan dan kaderisasi. Koperasi ini tidak hanya berfungsi sebagai alat simpan pinjam, tetapi juga menjadi inkubator bisnis mikro dan komunitas perdagangan lokal.

Koperasi-koperasi ini diarahkan untuk mengelola potensi lokal—baik itu hasil pertanian, produk UMKM, jasa logistik, hingga sektor digital—agar bisa menopang kegiatan organisasi sekaligus meningkatkan kesejahteraan anggota.

Membangun Jejaring dan Kolaborasi

Selain itu, jika ditelusuri, GP Ansor di tangan Addin telah mendorong adanya Literasi Finansial dan Digitalisasi UMKM. Melalui kemitraan dengan lembaga keuangan syariah, startup fintech, dan pemerintah daerah, GP Ansor menyelenggarakan pelatihan rutin untuk meningkatkan literasi keuangan dan digital para kader.

Dengan pelatihan ini, Addin berharap agar para kader tidak hanya menjadi penggerak dakwah sosial, tetapi juga pelaku ekonomi yang tangguh dan adaptif terhadap perubahan teknologi.

Foto bersama Addin dan Pelaku UMKM Gorontalo yang telah sukses membuka beberapa outlet, yakni outlet Pia Yango dan Sagala Sagela/Dok. GP Ansor Gorontalo

GP Ansor di tangan Addin pun telah menciptakan Program Inkubasi Bisnis Kader Muda NU. Salah satu program unggulan Addin adalah menciptakan inkubator bisnis kader muda NU, di mana para alumni pesantren atau kader muda yang memiliki ide bisnis diberi pendampingan intensif selama 6 bulan hingga 1 tahun. Dalam fase ini, mereka mendapatkan mentoring, pelatihan bisnis, dan akses modal awal.

Program ini sudah dirintis di beberapa kota besar seperti Surabaya, Yogyakarta, dan Bandung, dengan fokus pada sektor-sektor strategis seperti: Kuliner berbasis halal, Ekonomi kreatif dan konten digital, jasa logistik dan transportasi berbasis komunitas dan pertanian terpadu berbasis pesantren

Keberhasilan program ekonomi GP Ansor juga ditentukan oleh kemampuan menjalin jejaring dan kolaborasi. GP Ansor di tangan Addin mengambil langkah strategis dengan membangun kemitraan antara GP Ansor dan berbagai aktor ekonomi. Addin bisa dibilang telah menciptakan ekosistem, yakni Sinergi dengan BUMN dan Swasta.

Ketua Umum Addin Jauharudin bersama Sekjend PP GP Ansor Rifqi Al-Mubarok meresmikan Warung dan Gallery Badan Usaha Milik Ansor (BUMA), Komplek Kantor PWNU Gorontalo di Jalan Sam Ratulangi, Sabtu 19 Juli 2025/Dok. GP Ansor Gorontalo

Melalui pendekatan proaktif, Addin berhasil menjalin kemitraan dengan sejumlah BUMN dan perusahaan swasta untuk membuka ruang partisipasi ekonomi bagi kader Ansor, seperti: Program waralaba bersama BUMN logistik dan pangan, distribusi produk UMKM kader ke toko-toko ritel modern, dukungan modal ventura untuk startup kader muda.

Di Gorontalo, Addin telah meresmikan Warung dan Gallery Badan Usaha Milik Ansor (BUMA), sebuah langkah awal kemandirian ekonomi GP Ansor di Gorontalo.

Patriot Ketahanan Pangan: Strategi GP Ansor Merespon Krisis Pangan Global

Addin sepertinya cermat membaca ketidakpastian global. Misalnya krisis pangan yang menjadi ancaman nyata dan memerlukan respons serius dari berbagai elemen bangsa. Bagi Addin Jauharudin, ketahanan pangan bukan sekadar isu teknis pertanian, tetapi sebuah arena perjuangan strategis—dan kader Ansor harus berdiri di garis depan sebagai patriot ketahanan pangan.

“Kalau pemuda tidak menggarap tanahnya sendiri, bangsa ini akan tergantung pada pangan luar. Kita harus melahirkan patriot-patriot pangan dari barisan kader Ansor,” tegas Addin dalam beberapa forum GP Ansor.

Di Kabupaten Bonebolango, Addin mencanangkan Patriot Ketahanan Pangan yang dihadiri Forkopimda dan ratusan kader GP Ansor Gorontalo yang ditandai dengan penanaman jagung/ Dok. GP Ansor Gorontalo

Di Gorontalo, Addin menyampaikan bahwa Patriot Ketahanan Pangan yang digagas GP Ansor ini merupakan bukti bahwa GP Ansor dapat mendukung program pemerintah terutama dalam bidang ketahanan pangan.

“Diharapkan kegiatan ini dapat mendukung program pemerintah dan juga meningkatkan potensi ketahanan pangan khususnya di Gorontalo,” kata Addin saat mencanangkan Patriot Ketahanan Pangan GP Ansor Gorontalo.

Ia berharap, bahwa pelaksanaan serta inisiasi dari kegiatan ini bisa menumbuhkan sikap keberagamaan bagi para pemuda Ansor terutama di Gorontalo serta meningkatkan semangat persatuan untuk generasi emas 2045.

Transformasi ekonomi yang dilakukan oleh Addin Jauharudin mencerminkan arah baru GP Ansor sebagai organisasi kader yang tidak hanya memperjuangkan nilai, tetapi juga kesejahteraan. Organisasi ini mulai menyadari bahwa keberlanjutan gerakan sosial harus didukung oleh kemandirian finansial dan kedaulatan ekonomi.

Dalam konteks global yang makin kompetitif dan digital, GP Ansor memiliki potensi luar biasa untuk menjadi pelopor gerakan ekonomi berbasis komunitas. Dengan jutaan kader yang tersebar dari kota hingga desa, serta jaringan pesantren dan masjid yang kuat, GP Ansor dapat menjadi ekuator baru dalam peta ekonomi umat Islam Indonesia.

Apa yang dilakukan Addin Jauharudin bisa jadi bukan sekadar inovasi organisasi, tetapi juga pergeseran paradigma. GP Ansor tidak lagi hanya dipandang sebagai lembaga pengkaderan, tetapi juga mesin ekonomi umat, tempat lahirnya pelaku usaha, penggerak ekonomi lokal, dan pelopor kemandirian umat.

Dengan semangat ini, Addin memberi contoh bahwa gerakan pemuda Islam tidak boleh sekadar idealis, tetapi juga harus realistis, solutif, dan berani membangun ekosistem ekonomi yang menyejahterakan. Geliat ekonomi GP Ansor di bawah kepemimpinannya bisa menjadi model inspiratif bagi organisasi pemuda lain dalam membangun masa depan yang lebih cerah—dengan pondasi spiritual, sosial, dan ekonomi yang kokoh.

  • Penulis: Djemi Radji
  • Editor: Djemi Radji

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Begal Tusuk Warga di Semarang Timur, Satu Pelaku Ditangkap Polisi

    Begal Tusuk Warga di Semarang Timur, Satu Pelaku Ditangkap Polisi

    • calendar_month Selasa, 7 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 144
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Aksi begal disertai kekerasan terjadi di Jalan Halmahera Raya, Kelurahan Karangtempel, Kecamatan Semarang Timur, Kota Semarang, Minggu (6/4/2026) pagi. Seorang korban mengalami luka akibat serangan senjata tajam dalam kejadian tersebut. Kapolsek Semarang Timur, Andy Susanto, mengatakan peristiwa terjadi sekitar pukul 06.45 WIB saat korban berinisial ACH (31) tengah menjemput rekannya, Yovita Haryanto, untuk […]

  • Abdul Kadir Diko/FOTO: Istimewa Play Button photo_camera 14

    Gorontalo Green School: Langkah Kecil Menahan Krisis Lingkungan

    • calendar_month Kamis, 18 Des 2025
    • account_circle Abdullah K. Diko
    • visibility 171
    • 0Komentar

    Kerusakan lingkungan tidak pernah hadir sebagai peristiwa tunggal. Ia tumbuh perlahan—dari tanah yang kehilangan kesuburan, sungai yang kian tercemar, hingga bencana alam yang makin sering dan sulit diprediksi. Dalam banyak kasus, respons kita justru terjebak pada solusi jangka pendek: proyek cepat, jargon hijau, dan seremoni tanam pohon. Padahal, di balik krisis itu terdapat persoalan yang […]

  • Falaqiah, Tradisi Penentuan 1 Ramadhan di Desa Bobawa

    Falaqiah, Tradisi Penentuan 1 Ramadhan di Desa Bobawa

    • calendar_month Rabu, 26 Feb 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 81
    • 0Komentar

    Sebelum adanya kemudahan akses informasi seperti sekarang, masyarakat Desa Bobawa, kec. makian barat, kab. Halmahera Selatan, Maluku Utara, memiliki cara tersendiri secara tradisional dalam menentukan awal Ramadhan. Bapak Haji Said Ahmad selaku Imam desa bobawa menyampaikan ada dua metode utama yang digunakan di masa lalu yakni perhitungan falaqiah dan pengamatan pasang surut air laut. Menurut […]

  • Resmi! Inilah Nama-Nama Komisioner KPID Gorontalo 2026–2029, Siapa Saja?

    Resmi! Inilah Nama-Nama Komisioner KPID Gorontalo 2026–2029, Siapa Saja?

    • calendar_month Selasa, 30 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 222
    • 0Komentar

    nulondalo.com – DPRD Provinsi Gorontalo resmi menetapkan calon terpilih dan calon cadangan Anggota Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Provinsi Gorontalo untuk periode 2026–2029. Penetapan ini dilakukan dalam Rapat Paripurna ke-68 yang digelar Senin (29/12/2025). Tujuh nama ditetapkan sebagai komisioner terpilih KPID 2026–2029, yakni: Suci Priyanti Kartika Sari Abdulrazak Babuntai Hasanuddin Djadin Jitro Paputungan Fahrudin F. […]

  • Longsor di Bandung Barat, Delapan Orang Tewas dan 82 Masih Dicari

    Longsor di Bandung Barat, Delapan Orang Tewas dan 82 Masih Dicari

    • calendar_month Minggu, 25 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 183
    • 0Komentar

    nulondalo.com  – Tanah longsor terjadi di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, pada Sabtu (24/1) dini hari. Peristiwa tersebut mengakibatkan delapan orang meninggal dunia, sementara 82 orang masih dalam proses pencarian hingga pukul 15.00 WIB. Longsor terjadi sekitar pukul 02.30 WIB di Kecamatan Cisarua, tepatnya di Desa Pasir Langu, Kampung Babakan Cibudah. Bencana dipicu hujan dengan […]

  • Bapsae: Kritik Gap Generasi ala BTS

    Bapsae: Kritik Gap Generasi ala BTS

    • calendar_month Senin, 26 Jan 2026
    • account_circle Pepi al-Bayqunie
    • visibility 248
    • 0Komentar

    Terus terang, saya tidak pernah menaruh ekspektasi apa pun pada BTS selain sebagai band pop yang rapi dan menyenangkan. Dalam bayangan saya, K-Pop—termasuk BTS—adalah industri yang sangat efisien menjual visual, koreografi, dan kemasan. Musiknya menghibur, energik, dan selesai di situ. Pure entertainment. Tidak lebih. Pandangan saya mulai terkoreksi ketika, dalam satu diskusi tentang masa depan NU […]

expand_less