Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Jangan Pintar Scroll, Tapi Bodoh Mikir

  • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak
  • calendar_month Sabtu, 17 Jan 2026
  • visibility 277
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Gus Dur pernah berseloroh, “Kalau kamu tidak bisa menjadi orang pintar, jadilah orang yang berguna.” Di era digital hari ini, kalimat itu perlu sedikit dimodifikasi: kalau kamu sudah punya internet cepat, jangan malah mikirnya lambat.

Mahasiswa zaman sekarang itu hebat. Jempolnya lincah, notifikasinya ramai, memorinya penuh—meski sering penuh oleh hal-hal yang tidak terlalu penting. Dalam satu menit, mahasiswa bisa tahu gosip selebritas Korea, drama politik Amerika, sampai teori konspirasi bahwa bumi itu gepeng. Tapi ketika ditanya: “Apa relevansi semua itu dengan masa depanmu?” jawabannya sering buffering.

Di sinilah revolusi digital diuji. Apakah teknologi benar-benar mencerdaskan, atau justru membuat kita semakin rajin scroll dan malas berpikir?

Sebagai orang Nahdliyin, saya teringat tradisi ngaji. Di pesantren, kitab kuning itu tidak dibaca sambil rebahan, apalagi sambil main HP. Dibaca pelan-pelan, dimaknai, didiskusikan. Gus Dur tumbuh dari tradisi itu. Beliau kritis, jenaka, dan cerdas—bukan karena Google, tapi karena kebiasaan berpikir mendalam.

Sekarang, mahasiswa sering merasa pintar hanya karena cepat mencari jawaban. Padahal, kata Gus Dur, “Pintar itu belum tentu benar, tapi benar itu biasanya sederhana.” Sayangnya, di era digital, yang sederhana sering kalah viral dengan yang sensasional.

Revolusi digital seharusnya membuat mahasiswa semakin produktif. Tapi yang terjadi kadang sebaliknya: tugas diketik cepat, dibaca tidak tuntas, dipresentasikan tanpa paham. Kalau dosen bertanya, jawabannya muter-muter, mirip sinyal Wi-Fi yang penuh tapi tidak tersambung.

Di sinilah pentingnya nalar kritis. Teknologi itu netral. Laptop bisa dipakai menulis skripsi, bisa juga dipakai nonton drama sampai subuh. AI bisa membantu riset, bisa juga dipakai menipu diri sendiri. Seperti kata orang pesantren: alat itu tergantung niat. Bedanya, kalau niatnya salah, dosanya sekarang bisa online.

Gus Dur sering menertawakan kekuasaan, bukan karena beliau anti-kekuasaan, tapi karena beliau tahu: yang tidak bisa ditertawakan biasanya sedang berbahaya. Di era digital, mahasiswa justru sering takut berbeda pendapat. Takut tidak sejalan dengan timeline. Takut dibully. Takut tidak viral.

Padahal, mahasiswa itu sejak dulu adalah kelompok yang tugasnya resah. Kalau mahasiswa terlalu nyaman, itu tanda bahaya. Mahasiswa harus gelisah melihat ketimpangan, gelisah melihat kebodohan yang dipoles teknologi, dan gelisah melihat ilmu hanya dijadikan alat cari kerja, bukan alat memuliakan kehidupan.

Humor NU mengajarkan satu hal penting: jangan terlalu serius sampai lupa berpikir, tapi juga jangan bercanda sampai lupa arah. Gus Dur bisa tertawa sambil berpikir keras. Kita sekarang sering tertawa tanpa tahu kenapa.

Revolusi digital juga membuka peluang besar. Mahasiswa bisa meneliti tanpa harus ke perpustakaan besar, bisa berdiskusi lintas negara, bahkan bisa berwirausaha sejak kuliah. Tapi peluang itu hanya milik mereka yang mau belajar sungguh-sungguh. Yang mau repot. Yang mau berpikir.

Mahasiswa NU dulu dikenal ndableg tapi tahan banting. Tidak cepat menyerah. Tidak gampang silau. Nilai ini penting di era digital. Jangan mudah kagum pada teknologi, tapi kuasai ia. Jangan jadi budak algoritma, tapi jadilah tuan atas pikiran sendiri.

Gus Dur pernah berkata, “Kita ini bangsa besar, tapi sering lupa berpikir besar.” Hari ini, kita bangsa digital, tapi sering lupa berpikir dalam. Mahasiswa jangan hanya bangga jadi generasi digital native, tapi harus naik kelas menjadi generasi digital beradab.

Akhirnya, revolusi digital bukan soal seberapa canggih gawai kita, tapi seberapa jujur kita pada diri sendiri: apakah teknologi membuat kita lebih manusiawi, atau justru menjauhkan kita dari akal sehat?

Kalau Gus Dur masih ada, mungkin beliau akan tersenyum sambil berkata, “Teknologinya boleh maju, tapi mikirnya jangan ketinggalan zaman.”

Penulis : Intelektual Muda Nahdlatul Ulama

  • Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak
  • Editor: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bulan Mei Transportasi Angkutan Udara Gorontalo Lesu

    Bulan Mei Transportasi Angkutan Udara Gorontalo Lesu

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 140
    • 0Komentar

    Jumlah pesawat yang berangkat dari Bandara Djalaluddin dan Bandara Panua Pohuwato pada Mei 2025 sebanyak 163 penerbangan atau menurun 9,94 persen jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sebanyak 181 penerbangan. Jumlah pesawat yang datang di kedua bandara tersebut pada Mei 2025 sebanyak 163 penerbangan, atau menurun 9,94 persen dibanding pada April 2025 yang tercatat sebanyak […]

  • Maros Konsisten 9 Tahun, Duta Anti Narkoba 2025 Resmi Dinobatkan

    Maros Konsisten 9 Tahun, Duta Anti Narkoba 2025 Resmi Dinobatkan

    • calendar_month Minggu, 14 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 146
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — Grand Final Pemilihan Duta Anti Narkoba Kabupaten Maros 2025 sukses digelar di Gedung Serbaguna Pemerintah Kabupaten Maros, Sabtu (13/12/2025). Ajang bergengsi ini dibuka langsung oleh Wakil Bupati Maros, Andi Muetazim Mansyur, dan berlangsung meriah sejak pukul 14.00 Wita hingga 23.00 Wita. Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi Gerakan Nasional Anti Narkotika (Granat) Maros, Ikatan […]

  • Pemkab Maros Berlakukan WFA Terbatas bagi ASN Selama Libur Nataru 2025

    Pemkab Maros Berlakukan WFA Terbatas bagi ASN Selama Libur Nataru 2025

    • calendar_month Sabtu, 20 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 133
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Maros – Pemerintah Kabupaten Maros memberikan kebijakan Work From Anywhere (WFA) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025. Kebijakan ini berlaku selama tiga hari, mulai 29 hingga 31 Desember 2025, dengan catatan penerapannya bersifat selektif dan tidak mengganggu pelayanan publik. Bupati Maros, Chaidir Syam, menegaskan bahwa tidak seluruh […]

  • Polemik NU Gorontalo Kembali Mencuat, Dugaan Pemalsuan Tanda Tangan Mengemuka

    Polemik NU Gorontalo Kembali Mencuat, Dugaan Pemalsuan Tanda Tangan Mengemuka

    • calendar_month Rabu, 5 Okt 2022
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 85
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Polemik di tubuh Nahdlatul Ulama Gorontalo tampaknya belum juga mereda. Dari catatan yang dihimpun redaksi, sejumlah persoalan internal terus bermunculan di organisasi para ulama di ujung utara Pulau Sulawesi tersebut. Beberapa polemik yang sempat mencuat di antaranya pelaksanaan Konferensi Cabang (Konfercab) yang disebut-sebut berlangsung secara “diam-diam” di Kota Gorontalo, Konfercab di Kabupaten Boalemo […]

  • Cerdas Dan Tasamuh

    Cerdas Dan Tasamuh

    • calendar_month Selasa, 17 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 162
    • 0Komentar

    Seandainya Nabi masih hidup, mungkin kita akan langsung bertanya kepada Beliau mana yang benar puasa hari rabu atau puasa hari kamis, dan tentu akan selesai persoalan dan tidak ada lagi yang saling menyalahkan, nah hari ini terjadi lagi perbedaan. Apakah pada zaman Nabi pernah terjadi perbedaan dikalangan para sahabat?, tentu sering terjadi perbedaan, Dan Nabi […]

  • Kalau Punya Empat Orang Tua, Siapa yang Harus Dibakti? Begini Jawaban Menyejukkan Gus Aniq Play Button

    Kalau Punya Empat Orang Tua, Siapa yang Harus Dibakti? Begini Jawaban Menyejukkan Gus Aniq

    • calendar_month Minggu, 21 Des 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 302
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Ketika keluarga berubah bentuk, orang tua bercerai, lalu masing-masing menikah lagi yang sering kebingungan bukan hanya orang dewasa, tetapi juga anak. Mereka tumbuh dengan ayah kandung, ibu kandung, sekaligus ayah tiri dan ibu tiri. Lalu pertanyaan muncul: bagaimana cara berbakti dalam keluarga seperti itu? Pertanyaan itulah yang dibahas KH. Abdullah Aniq Nawawi, MA […]

expand_less