Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Jangan Pintar Scroll, Tapi Bodoh Mikir

  • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak
  • calendar_month Sabtu, 17 Jan 2026
  • visibility 257
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Gus Dur pernah berseloroh, “Kalau kamu tidak bisa menjadi orang pintar, jadilah orang yang berguna.” Di era digital hari ini, kalimat itu perlu sedikit dimodifikasi: kalau kamu sudah punya internet cepat, jangan malah mikirnya lambat.

Mahasiswa zaman sekarang itu hebat. Jempolnya lincah, notifikasinya ramai, memorinya penuh—meski sering penuh oleh hal-hal yang tidak terlalu penting. Dalam satu menit, mahasiswa bisa tahu gosip selebritas Korea, drama politik Amerika, sampai teori konspirasi bahwa bumi itu gepeng. Tapi ketika ditanya: “Apa relevansi semua itu dengan masa depanmu?” jawabannya sering buffering.

Di sinilah revolusi digital diuji. Apakah teknologi benar-benar mencerdaskan, atau justru membuat kita semakin rajin scroll dan malas berpikir?

Sebagai orang Nahdliyin, saya teringat tradisi ngaji. Di pesantren, kitab kuning itu tidak dibaca sambil rebahan, apalagi sambil main HP. Dibaca pelan-pelan, dimaknai, didiskusikan. Gus Dur tumbuh dari tradisi itu. Beliau kritis, jenaka, dan cerdas—bukan karena Google, tapi karena kebiasaan berpikir mendalam.

Sekarang, mahasiswa sering merasa pintar hanya karena cepat mencari jawaban. Padahal, kata Gus Dur, “Pintar itu belum tentu benar, tapi benar itu biasanya sederhana.” Sayangnya, di era digital, yang sederhana sering kalah viral dengan yang sensasional.

Revolusi digital seharusnya membuat mahasiswa semakin produktif. Tapi yang terjadi kadang sebaliknya: tugas diketik cepat, dibaca tidak tuntas, dipresentasikan tanpa paham. Kalau dosen bertanya, jawabannya muter-muter, mirip sinyal Wi-Fi yang penuh tapi tidak tersambung.

Di sinilah pentingnya nalar kritis. Teknologi itu netral. Laptop bisa dipakai menulis skripsi, bisa juga dipakai nonton drama sampai subuh. AI bisa membantu riset, bisa juga dipakai menipu diri sendiri. Seperti kata orang pesantren: alat itu tergantung niat. Bedanya, kalau niatnya salah, dosanya sekarang bisa online.

Gus Dur sering menertawakan kekuasaan, bukan karena beliau anti-kekuasaan, tapi karena beliau tahu: yang tidak bisa ditertawakan biasanya sedang berbahaya. Di era digital, mahasiswa justru sering takut berbeda pendapat. Takut tidak sejalan dengan timeline. Takut dibully. Takut tidak viral.

Padahal, mahasiswa itu sejak dulu adalah kelompok yang tugasnya resah. Kalau mahasiswa terlalu nyaman, itu tanda bahaya. Mahasiswa harus gelisah melihat ketimpangan, gelisah melihat kebodohan yang dipoles teknologi, dan gelisah melihat ilmu hanya dijadikan alat cari kerja, bukan alat memuliakan kehidupan.

Humor NU mengajarkan satu hal penting: jangan terlalu serius sampai lupa berpikir, tapi juga jangan bercanda sampai lupa arah. Gus Dur bisa tertawa sambil berpikir keras. Kita sekarang sering tertawa tanpa tahu kenapa.

Revolusi digital juga membuka peluang besar. Mahasiswa bisa meneliti tanpa harus ke perpustakaan besar, bisa berdiskusi lintas negara, bahkan bisa berwirausaha sejak kuliah. Tapi peluang itu hanya milik mereka yang mau belajar sungguh-sungguh. Yang mau repot. Yang mau berpikir.

Mahasiswa NU dulu dikenal ndableg tapi tahan banting. Tidak cepat menyerah. Tidak gampang silau. Nilai ini penting di era digital. Jangan mudah kagum pada teknologi, tapi kuasai ia. Jangan jadi budak algoritma, tapi jadilah tuan atas pikiran sendiri.

Gus Dur pernah berkata, “Kita ini bangsa besar, tapi sering lupa berpikir besar.” Hari ini, kita bangsa digital, tapi sering lupa berpikir dalam. Mahasiswa jangan hanya bangga jadi generasi digital native, tapi harus naik kelas menjadi generasi digital beradab.

Akhirnya, revolusi digital bukan soal seberapa canggih gawai kita, tapi seberapa jujur kita pada diri sendiri: apakah teknologi membuat kita lebih manusiawi, atau justru menjauhkan kita dari akal sehat?

Kalau Gus Dur masih ada, mungkin beliau akan tersenyum sambil berkata, “Teknologinya boleh maju, tapi mikirnya jangan ketinggalan zaman.”

Penulis : Intelektual Muda Nahdlatul Ulama

  • Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak
  • Editor: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dari Safe House hingga Nominee: Wajah Baru Skema Korupsi Terungkap

    Dari Safe House hingga Nominee: Wajah Baru Skema Korupsi Terungkap

    • calendar_month Jumat, 24 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 249
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkap perkembangan terbaru pola tindak pidana korupsi yang kini semakin kompleks dan terorganisir. Tidak lagi dilakukan secara sederhana, praktik korupsi kini melibatkan berbagai lapisan aktor dengan skema berlapis, mulai dari penggunaan safe house hingga pemanfaatan nominee sebagai penyamaran aliran dana. Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, menyatakan bahwa lembaganya menemukan […]

  • Bulan Ramadhan, Bulan Penghematan atau Pemborosan?

    Bulan Ramadhan, Bulan Penghematan atau Pemborosan?

    • calendar_month Jumat, 7 Mar 2025
    • account_circle Dr. Momy Hunowu, M.Si
    • visibility 154
    • 0Komentar

    Secara matematis, living cost pada bulan Ramadhan berkurang 30-50% lantaran seharian tidak berurusan dengan meja makan. Faktanya berkata lain, pengeluaran justru berlipat-lipat.  Lihat saja, meja makan saat berbuka penuh sesak dengan berbagai menu. Ada nasi dan lauknya. Lauknya ada yang berkuah, goreng dan bakar. Belum lagi sayurnya. Tak sampai di situ. Ada bubur ayam dan […]

  • NU Gorontalo dan Kotak Macis

    NU Gorontalo dan Kotak Macis

    • calendar_month Senin, 13 Sep 2021
    • account_circle Asrul G.H. Lasapa
    • visibility 77
    • 0Komentar

    NU memang terlalu seksi bagi kalangan internal maupun eksternal atau bagi siapa saja yang memandangnya. Apalagi jika dipandang dari luar bangunan ke-NU-an dengan menggunakan frame subjektif, sosial dan politik. Dalam konteks ini, NU tidak hanya sekedar seksi tapi ternyata juga begitu mempesona. Maka tidak heran jika perebutan tampuk kepemimpinan di NU menjadi sesuatu yang sangat […]

  • Koalisi Desak Presiden Hentikan Proyek Jalan 135 Km di Merauke, Diduga Langgar AMDAL dan HAM

    Koalisi Desak Presiden Hentikan Proyek Jalan 135 Km di Merauke, Diduga Langgar AMDAL dan HAM

    • calendar_month Kamis, 19 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 389
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Koalisi Penegak Hukum dan Hak Asasi Manusia Papua mendesak Presiden Republik Indonesia dan Menteri Pertahanan untuk segera menghentikan pembangunan jalan akses sepanjang 135 kilometer di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan. Desakan ini disampaikan menyusul dugaan bahwa proyek sarana prasarana ketahanan pangan tersebut dijalankan tanpa memenuhi ketentuan lingkungan hidup serta berpotensi melanggar hak masyarakat […]

  • PBB Maros Capai 84 Persen, Camba Tertinggi; Moncongloe Terendah Akibat Kendala Sertifikat

    PBB Maros Capai 84 Persen, Camba Tertinggi; Moncongloe Terendah Akibat Kendala Sertifikat

    • calendar_month Selasa, 2 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 140
    • 0Komentar

    nulondilon.com, Maros – Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Maros menggelar rapat evaluasi penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) per 26 November 2025. Rapat yang dipimpin Wakil Bupati Maros, Muetazim Mansyur, digelar di ruang rapatnya, Senin (1/12/2025), dan memaparkan capaian terkini realisasi PBB-P2 di 14 kecamatan. Hingga akhir November, realisasi penerimaan PBB-P2 Maros […]

  • Pasca Kebakaran di Sipatana, Pemkot Gorontalo Salurkan Bantuan untuk Korban photo_camera 2

    Pasca Kebakaran di Sipatana, Pemkot Gorontalo Salurkan Bantuan untuk Korban

    • calendar_month Minggu, 15 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 327
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pemerintah Kota Gorontalo bergerak cepat membantu warga yang terdampak musibah kebakaran di Kelurahan Bulotadaa Barat, Kecamatan Sipatana, Ahad (15/3/2026). Bantuan tersebut disalurkan melalui sejumlah instansi sebagai bentuk kepedulian pemerintah daerah terhadap masyarakat yang tengah mengalami musibah. Penyaluran bantuan dilakukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat (Dinsos PM), serta […]

expand_less