Breaking News
light_mode
Trending Tags

Jangan Pintar Scroll, Tapi Bodoh Mikir

  • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak
  • calendar_month Sabtu, 17 Jan 2026
  • visibility 240
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Gus Dur pernah berseloroh, “Kalau kamu tidak bisa menjadi orang pintar, jadilah orang yang berguna.” Di era digital hari ini, kalimat itu perlu sedikit dimodifikasi: kalau kamu sudah punya internet cepat, jangan malah mikirnya lambat.

Mahasiswa zaman sekarang itu hebat. Jempolnya lincah, notifikasinya ramai, memorinya penuh—meski sering penuh oleh hal-hal yang tidak terlalu penting. Dalam satu menit, mahasiswa bisa tahu gosip selebritas Korea, drama politik Amerika, sampai teori konspirasi bahwa bumi itu gepeng. Tapi ketika ditanya: “Apa relevansi semua itu dengan masa depanmu?” jawabannya sering buffering.

Di sinilah revolusi digital diuji. Apakah teknologi benar-benar mencerdaskan, atau justru membuat kita semakin rajin scroll dan malas berpikir?

Sebagai orang Nahdliyin, saya teringat tradisi ngaji. Di pesantren, kitab kuning itu tidak dibaca sambil rebahan, apalagi sambil main HP. Dibaca pelan-pelan, dimaknai, didiskusikan. Gus Dur tumbuh dari tradisi itu. Beliau kritis, jenaka, dan cerdas—bukan karena Google, tapi karena kebiasaan berpikir mendalam.

Sekarang, mahasiswa sering merasa pintar hanya karena cepat mencari jawaban. Padahal, kata Gus Dur, “Pintar itu belum tentu benar, tapi benar itu biasanya sederhana.” Sayangnya, di era digital, yang sederhana sering kalah viral dengan yang sensasional.

Revolusi digital seharusnya membuat mahasiswa semakin produktif. Tapi yang terjadi kadang sebaliknya: tugas diketik cepat, dibaca tidak tuntas, dipresentasikan tanpa paham. Kalau dosen bertanya, jawabannya muter-muter, mirip sinyal Wi-Fi yang penuh tapi tidak tersambung.

Di sinilah pentingnya nalar kritis. Teknologi itu netral. Laptop bisa dipakai menulis skripsi, bisa juga dipakai nonton drama sampai subuh. AI bisa membantu riset, bisa juga dipakai menipu diri sendiri. Seperti kata orang pesantren: alat itu tergantung niat. Bedanya, kalau niatnya salah, dosanya sekarang bisa online.

Gus Dur sering menertawakan kekuasaan, bukan karena beliau anti-kekuasaan, tapi karena beliau tahu: yang tidak bisa ditertawakan biasanya sedang berbahaya. Di era digital, mahasiswa justru sering takut berbeda pendapat. Takut tidak sejalan dengan timeline. Takut dibully. Takut tidak viral.

Padahal, mahasiswa itu sejak dulu adalah kelompok yang tugasnya resah. Kalau mahasiswa terlalu nyaman, itu tanda bahaya. Mahasiswa harus gelisah melihat ketimpangan, gelisah melihat kebodohan yang dipoles teknologi, dan gelisah melihat ilmu hanya dijadikan alat cari kerja, bukan alat memuliakan kehidupan.

Humor NU mengajarkan satu hal penting: jangan terlalu serius sampai lupa berpikir, tapi juga jangan bercanda sampai lupa arah. Gus Dur bisa tertawa sambil berpikir keras. Kita sekarang sering tertawa tanpa tahu kenapa.

Revolusi digital juga membuka peluang besar. Mahasiswa bisa meneliti tanpa harus ke perpustakaan besar, bisa berdiskusi lintas negara, bahkan bisa berwirausaha sejak kuliah. Tapi peluang itu hanya milik mereka yang mau belajar sungguh-sungguh. Yang mau repot. Yang mau berpikir.

Mahasiswa NU dulu dikenal ndableg tapi tahan banting. Tidak cepat menyerah. Tidak gampang silau. Nilai ini penting di era digital. Jangan mudah kagum pada teknologi, tapi kuasai ia. Jangan jadi budak algoritma, tapi jadilah tuan atas pikiran sendiri.

Gus Dur pernah berkata, “Kita ini bangsa besar, tapi sering lupa berpikir besar.” Hari ini, kita bangsa digital, tapi sering lupa berpikir dalam. Mahasiswa jangan hanya bangga jadi generasi digital native, tapi harus naik kelas menjadi generasi digital beradab.

Akhirnya, revolusi digital bukan soal seberapa canggih gawai kita, tapi seberapa jujur kita pada diri sendiri: apakah teknologi membuat kita lebih manusiawi, atau justru menjauhkan kita dari akal sehat?

Kalau Gus Dur masih ada, mungkin beliau akan tersenyum sambil berkata, “Teknologinya boleh maju, tapi mikirnya jangan ketinggalan zaman.”

Penulis : Intelektual Muda Nahdlatul Ulama

  • Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak
  • Editor: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Zero Terorisme di Indonesia, Densus 88 Amankan 51 Tersangka Sepanjang 2025

    Zero Terorisme di Indonesia, Densus 88 Amankan 51 Tersangka Sepanjang 2025

    • calendar_month Selasa, 30 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 131
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri mencatat telah mengamankan 51 tersangka kasus tindak pidana terorisme sepanjang tahun 2025. Hal itu diungkapkan dalam konferensi pers rilis akhir tahun Polri di Gedung Rupatama, Jakarta Selatan, Selasa (30/12/2025). “Kami mencatat sepanjang 2025, jumlah tersangka yang diamankan sebanyak 51 orang,” ujar Kabareskrim Polri, Komjen Syahardiantono, saat memaparkan […]

  • Beragama di Era Algoritma: Cepat Yakin, Lambat Memahami

    Beragama di Era Algoritma: Cepat Yakin, Lambat Memahami

    • calendar_month Minggu, 15 Feb 2026
    • account_circle Alam Khaerul Hidayat
    • visibility 285
    • 0Komentar

    Lewat beberapa perbincangan santai ala tongkrongan dengan teman, saya menemukan satu celah pembahasan yang menarik sekaligus perlu diluruskan. Kami memang tumbuh dari latar belakang yang tidak sepenuhnya sama. Bahkan, jika dilihat dari kecenderungan wacananya, mereka hampir mendekati kelompok yang hendak saya bahas. Namun beruntungnya, keduanya tetap berada pada posisi yang moderat dan terbuka untuk berdialog. […]

  • Antara Opini WTP dan Realitas Publik: Menguji Makna Akuntabilitas Negara

    Antara Opini WTP dan Realitas Publik: Menguji Makna Akuntabilitas Negara

    • calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
    • account_circle Nuruma banyal
    • visibility 214
    • 0Komentar

    Selama hampir satu dekade terakhir, pemerintah Indonesia konsisten meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat. Capaian ini sering dijadikan simbol keberhasilan pengelolaan keuangan negara. Ketepatan waktu penyampaian laporan pun semakin memperkuat kesan bahwa akuntabilitas fiskal berjalan dengan baik. Namun, di balik capaian tersebut, berbagai kritik terhadap kebijakan anggaran tetap bermunculan—mulai dari […]

  • Nasionalisme: Etalase Kekuasaan dan Imajinasi yang Terbajak

    Nasionalisme: Etalase Kekuasaan dan Imajinasi yang Terbajak

    • calendar_month Selasa, 27 Jan 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 376
    • 0Komentar

    Nasionalisme berangkat dari pertanyaan paling mendasar tentang manusia: siapa saya dan di mana posisi saya. Jawaban atas identitas inilah yang kemudian membimbing cara hidup, pilihan moral, dan tindakan politik. Dalam kerangka ini, bangsa diposisikan sebagai komunitas utama yang membentuk kewajiban normatif individu. Pemikiran ini sejalan dengan antropolog Benedict Anderson yang menegaskan bahwa nasionalisme adalah sebuah […]

  • Aleg PKB Gorontalo Berharap Program Cek Kesehatan Gratis Prabowo Tidak Menyulitkan Warga

    Aleg PKB Gorontalo Berharap Program Cek Kesehatan Gratis Prabowo Tidak Menyulitkan Warga

    • calendar_month Rabu, 26 Mar 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 106
    • 0Komentar

    Program Kesehatan Gratis Pemerintahan Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka untuk warga akan segera dijalankan mulai Senin 10 Februari 2025. Hal tersebut merupakan salah satu program yang ditunggu-tunggu masyarakat Indonesia, khususnya di Gorontalo. Anggota Komisi IV DPRD Muhammad Dzikyan mengingatkan agar program tersebut dijalankan dengan mudah dan tidak menyulitkan warga masyarakat. Mengingat pendaftaran […]

  • Gelar Pengukuhan, Indonesia Menuju Pusat Ulama Dunia melalui PKUMI

    Gelar Pengukuhan, Indonesia Menuju Pusat Ulama Dunia melalui PKUMI

    • calendar_month Jumat, 7 Nov 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 110
    • 0Komentar

    Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKUMI) kembali mencatat sejarah penting dalam mencetak generasi ulama berwawasan global. Pada momentum penuh khidmat ini, PKUMI secara resmi mengukuhkan para kader ulama yang terdiri dari 18 mahasiswa program S3, 32 mahasiswa program S2, serta 32 mahasiswa program S2 PKUP. Para peserta berasal dari berbagai penjuru Nusantara, mencerminkan kekayaan budaya, […]

expand_less