Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Jangan Pintar Scroll, Tapi Bodoh Mikir

  • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak
  • calendar_month Sabtu, 17 Jan 2026
  • visibility 300
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Gus Dur pernah berseloroh, “Kalau kamu tidak bisa menjadi orang pintar, jadilah orang yang berguna.” Di era digital hari ini, kalimat itu perlu sedikit dimodifikasi: kalau kamu sudah punya internet cepat, jangan malah mikirnya lambat.

Mahasiswa zaman sekarang itu hebat. Jempolnya lincah, notifikasinya ramai, memorinya penuh—meski sering penuh oleh hal-hal yang tidak terlalu penting. Dalam satu menit, mahasiswa bisa tahu gosip selebritas Korea, drama politik Amerika, sampai teori konspirasi bahwa bumi itu gepeng. Tapi ketika ditanya: “Apa relevansi semua itu dengan masa depanmu?” jawabannya sering buffering.

Di sinilah revolusi digital diuji. Apakah teknologi benar-benar mencerdaskan, atau justru membuat kita semakin rajin scroll dan malas berpikir?

Sebagai orang Nahdliyin, saya teringat tradisi ngaji. Di pesantren, kitab kuning itu tidak dibaca sambil rebahan, apalagi sambil main HP. Dibaca pelan-pelan, dimaknai, didiskusikan. Gus Dur tumbuh dari tradisi itu. Beliau kritis, jenaka, dan cerdas—bukan karena Google, tapi karena kebiasaan berpikir mendalam.

Sekarang, mahasiswa sering merasa pintar hanya karena cepat mencari jawaban. Padahal, kata Gus Dur, “Pintar itu belum tentu benar, tapi benar itu biasanya sederhana.” Sayangnya, di era digital, yang sederhana sering kalah viral dengan yang sensasional.

Revolusi digital seharusnya membuat mahasiswa semakin produktif. Tapi yang terjadi kadang sebaliknya: tugas diketik cepat, dibaca tidak tuntas, dipresentasikan tanpa paham. Kalau dosen bertanya, jawabannya muter-muter, mirip sinyal Wi-Fi yang penuh tapi tidak tersambung.

Di sinilah pentingnya nalar kritis. Teknologi itu netral. Laptop bisa dipakai menulis skripsi, bisa juga dipakai nonton drama sampai subuh. AI bisa membantu riset, bisa juga dipakai menipu diri sendiri. Seperti kata orang pesantren: alat itu tergantung niat. Bedanya, kalau niatnya salah, dosanya sekarang bisa online.

Gus Dur sering menertawakan kekuasaan, bukan karena beliau anti-kekuasaan, tapi karena beliau tahu: yang tidak bisa ditertawakan biasanya sedang berbahaya. Di era digital, mahasiswa justru sering takut berbeda pendapat. Takut tidak sejalan dengan timeline. Takut dibully. Takut tidak viral.

Padahal, mahasiswa itu sejak dulu adalah kelompok yang tugasnya resah. Kalau mahasiswa terlalu nyaman, itu tanda bahaya. Mahasiswa harus gelisah melihat ketimpangan, gelisah melihat kebodohan yang dipoles teknologi, dan gelisah melihat ilmu hanya dijadikan alat cari kerja, bukan alat memuliakan kehidupan.

Humor NU mengajarkan satu hal penting: jangan terlalu serius sampai lupa berpikir, tapi juga jangan bercanda sampai lupa arah. Gus Dur bisa tertawa sambil berpikir keras. Kita sekarang sering tertawa tanpa tahu kenapa.

Revolusi digital juga membuka peluang besar. Mahasiswa bisa meneliti tanpa harus ke perpustakaan besar, bisa berdiskusi lintas negara, bahkan bisa berwirausaha sejak kuliah. Tapi peluang itu hanya milik mereka yang mau belajar sungguh-sungguh. Yang mau repot. Yang mau berpikir.

Mahasiswa NU dulu dikenal ndableg tapi tahan banting. Tidak cepat menyerah. Tidak gampang silau. Nilai ini penting di era digital. Jangan mudah kagum pada teknologi, tapi kuasai ia. Jangan jadi budak algoritma, tapi jadilah tuan atas pikiran sendiri.

Gus Dur pernah berkata, “Kita ini bangsa besar, tapi sering lupa berpikir besar.” Hari ini, kita bangsa digital, tapi sering lupa berpikir dalam. Mahasiswa jangan hanya bangga jadi generasi digital native, tapi harus naik kelas menjadi generasi digital beradab.

Akhirnya, revolusi digital bukan soal seberapa canggih gawai kita, tapi seberapa jujur kita pada diri sendiri: apakah teknologi membuat kita lebih manusiawi, atau justru menjauhkan kita dari akal sehat?

Kalau Gus Dur masih ada, mungkin beliau akan tersenyum sambil berkata, “Teknologinya boleh maju, tapi mikirnya jangan ketinggalan zaman.”

Penulis : Intelektual Muda Nahdlatul Ulama

  • Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak
  • Editor: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCINU Jerman Tetapkan 1 Ramadhan 1447 H Jatuh pada 19 Februari 2026

    PCINU Jerman Tetapkan 1 Ramadhan 1447 H Jatuh pada 19 Februari 2026

    • calendar_month Selasa, 17 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 203
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Jerman menetapkan 1 Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Dengan demikian, ibadah puasa dimulai pada hari tersebut dan salat Tarawih pertama dilaksanakan Rabu malam, 18 Februari 2026. Pengumuman itu disampaikan melalui akun Instagram resmi PCINU Jerman dan dikutip nulondalo.com, Selasa (17/2/2026). Ketua PCINU Jerman, Miftah […]

  • Studi Ungkap “Jam Kematian Sel”: Ukuran Nukleolus Bisa Prediksi Penuaan

    Studi Ungkap “Jam Kematian Sel”: Ukuran Nukleolus Bisa Prediksi Penuaan

    • calendar_month Sabtu, 14 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 401
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Sebuah studi terbaru mengungkap mekanisme baru yang mengatur proses penuaan pada tingkat sel. Para ilmuwan menemukan bahwa ukuran nukleolus, struktur kecil di dalam inti sel, dapat menjadi indikator kapan sebuah sel mendekati akhir masa hidupnya. Penelitian yang dilakukan oleh tim dari Weill Cornell Medicine menunjukkan bahwa perubahan ukuran nukleolus dapat memengaruhi stabilitas bagian […]

  • MUI Gorontalo Dikukuhkan, Prof. Amani Lubis: Jadikan MUI Garda Moderasi Beragama

    MUI Gorontalo Dikukuhkan, Prof. Amani Lubis: Jadikan MUI Garda Moderasi Beragama

    • calendar_month Sabtu, 2 Agt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 172
    • 0Komentar

    Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Gorontalo resmi mengukuhkan kepengurusan baru masa khidmat 2025–2030. Prosesi pelantikan berlangsung di Auditorium Rektorat IAIN Sultan Amai Gorontalo, Sabtu (23/8/2025), dengan dihadiri tokoh agama, pejabat pemerintah, dan perwakilan ormas Islam se-Gorontalo. Pengukuhan dipimpin Ketua MUI Pusat, Prof. Dr. Hj. Amani Lubis, MA. Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya MUI sebagai mitra […]

  • Diduga Terlibat Tambang Ilegal PT. Smart Marsindo di Pulau gebe, KIBAR Desak DPP PDIP Pecat Shanty Alda Nathalia

    Diduga Terlibat Tambang Ilegal PT. Smart Marsindo di Pulau gebe, KIBAR Desak DPP PDIP Pecat Shanty Alda Nathalia

    • calendar_month Jumat, 6 Mar 2026
    • account_circle Risman Lutfi
    • visibility 213
    • 0Komentar

    JAKARTA – Gelombang unjuk rasa besar menyambangi Kantor DPP PDI Perjuangan di Jalan Pangeran Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, pada hari ini, Jumat, 6 Maret 2026. Massa yang tergabung dalam Koalisi Independen Bersama Rakyat (KIBAR) menuntut tindakan tegas dan pemecatan terhadap Shanty Alda Nathalia, yang menjabat sebagai anggota Komisi XII DPR RI dari Fraksi PDI-P sekaligus […]

  • Di Hadapan Ketua DPC Terpilih, Faisol Riza Sampaikan Pesan Khusus Gus Muhaimin untuk PKB Gorontalo

    Di Hadapan Ketua DPC Terpilih, Faisol Riza Sampaikan Pesan Khusus Gus Muhaimin untuk PKB Gorontalo

    • calendar_month Selasa, 16 Jun 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 307
    • 0Komentar

    nulondalo.com -Wakil Ketua Umum DPP PKB sekaligus Wakil Menteri Perindustrian Republik Indonesia, H. Faisol Riza, menyampaikan pesan khusus Ketua Umum DPP PKB, H. A. Muhaimin Iskandar (Gus Muhaimin), kepada jajaran pengurus dan kader PKB Gorontalo saat memimpin Rapat Formatur Pembentukan dan Penetapan Kepengurusan Dewan Pengurus Cabang (DPC) PKB se-Provinsi Gorontalo Masa Bhakti 2026–2031 di Grand […]

  • Kunjungan Mendadak Prabowo Subianto di Senen, Tangis Haru Warga Pecah di Bantaran Rel

    Kunjungan Mendadak Prabowo Subianto di Senen, Tangis Haru Warga Pecah di Bantaran Rel

    • calendar_month Jumat, 27 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 388
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Warga Kelurahan Kramat, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat, dikejutkan dengan kehadiran mendadak Presiden Prabowo Subianto, Kamis (26/03/2026) sore. Kunjungan tersebut sontak mengundang antusiasme sekaligus haru dari masyarakat yang tinggal di kawasan padat, termasuk di bantaran rel. Dalam kunjungannya, Presiden Prabowo tampak menyapa warga secara langsung dan mendengarkan berbagai aspirasi yang disampaikan. Momen tersebut berlangsung […]

expand_less