Transparansi APBN di Era Digital: Menyeimbangkan Keterbukaan Data dan Literasi Publik
- account_circle Isla Aulia'i Wasi Suhada
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 57
- print Cetak

Isla Aulia’i Wasi Suhada, mahasiswi Akuntansi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) semester 4, penulis artikel tentang transparansi APBN dan literasi publik di era digital.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Di era digital yang kini mendominasi kehidupan sehari-hari, transparansi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) menjadi fondasi utama bagi kepercayaan publik terhadap pemerintahan. Pemerintah Indonesia telah menunjukkan komitmen serius melalui berbagai inisiatif digital, seperti portal Open Data APBN di situs Kementerian Keuangan dan aplikasi mobile yang menyediakan akses langsung ke rincian anggaran. Data ini mencakup proyeksi pendapatan dari pajak dan hibah, alokasi belanja untuk sektor pendidikan, kesehatan, serta infrastruktur, hingga laporan realisasi triwulanan. Keterbukaan semacam ini memungkinkan masyarakat, termasuk aktivis dan jurnalis warga, untuk memverifikasi penggunaan dana publik secara mandiri. Manfaatnya jelas: mengurangi risiko korupsi, meningkatkan akuntabilitas pejabat, dan mendorong partisipasi demokratis yang lebih inklusif.
Meskipun demikian, keterbukaan data belum sepenuhnya optimal karena hambatan literasi publik yang masih menjadi isu krusial. Sebagian besar masyarakat, khususnya di daerah pedesaan atau kalangan dengan pendidikan rendah, kesulitan menafsirkan data APBN yang sarat dengan istilah rumit seperti “belanja modal”, “defisit primer”, atau “rasio utang publik terhadap PDB”. Padahal, menurut survei literasi keuangan nasional tahun 2024, hanya sekitar 40% responden yang memahami konsep dasar anggaran negara. Akibatnya, informasi transparan justru rentan dimanipulasi di media sosial, memunculkan hoaks seperti tuduhan pemborosan anggaran infrastruktur atau dugaan kolusi dalam pengadaan barang. Contoh nyata terlihat pada kontroversi anggaran bansos selama pandemi, di mana data terbuka disalahartikan menjadi narasi politik yang memecah belah.
Tantangan ini semakin kompleks di era digital, di mana volume data meledak sementara kemampuan analisis publik terbatas. Tanpa literasi yang memadai, keterbukaan data berisiko menjadi bumerang: bukan memberdayakan, malah menimbulkan ketidakpercayaan. Oleh karena itu, strategi holistik diperlukan untuk menyatukan kedua elemen ini. Pertama, pemerintah harus menyederhanakan penyajian data melalui infografis interaktif, video animasi, dan dashboard ramah pengguna yang menjelaskan dampak anggaran terhadap kehidupan sehari-hari—misalnya, bagaimana alokasi pendidikan memengaruhi biaya sekolah anak. Kedua, intensifkan program literasi melalui kerjasama dengan Kementerian Pendidikan, platform seperti TikTok dan YouTube untuk konten pendek, serta pelatihan komunitas di tingkat desa.
- Penulis: Isla Aulia'i Wasi Suhada

Saat ini belum ada komentar