Akuntan Langit
- account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 20
- print Cetak

Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak./ Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Humor ala pesantren sering menjawab pertanyaan serius dengan cara ringan. Ada cerita tentang seorang santri yang bertanya kepada kiai, “Kiai, kalau pahala dilipatgandakan di bulan Ramadhan, apakah dosa juga ikut diskon?”
Kiai itu tersenyum lalu menjawab, “Nak, pahala memang sedang promo. Tapi dosa tidak pernah clearance sale.”
Jawaban sederhana itu sebenarnya mengandung filosofi mendalam. Ramadhan bukan sekadar menambah angka pahala, tetapi memperbaiki kualitas hidup. Dalam bahasa akuntansi, bukan hanya menambah transaksi, tetapi memperbaiki sistem pengendalian internal dalam diri manusia.
Karena sejatinya, masalah terbesar manusia bukan kekurangan pengetahuan tentang kebaikan. Kita semua tahu mana yang benar. Yang sering bermasalah adalah sistem kontrol internal: godaan, ego, dan kebiasaan buruk.
Seorang kiai NU pernah berseloroh, “Manusia itu kadang seperti perusahaan yang rajin membuat laporan CSR, tapi lupa membayar utang.”
Kalimat ini membuat jamaah tertawa, tetapi juga merenung. Dalam kehidupan sosial, kita sering menonjolkan kebaikan yang terlihat publik, sementara tanggung jawab pribadi justru terabaikan. Ramadhan mengajarkan keseimbangan itu. Ia mengajarkan bahwa ibadah bukan sekadar ritual, tetapi juga integritas.
- Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Saat ini belum ada komentar