Bagaimana jika Ramadan Bukan Bulan yang Paling Istimewa?
- account_circle Tarmizi Abbas
- calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
- visibility 100
- print Cetak

Ilustrasi/pixabay
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Adagium bahwa Ramadan sebagai bulan yang paling agung dalam Islam merupakan klaim yang diyakini mayoritas umat Islam dunia, tak terkecuali di Indonesia. Diyakini sebagai bulan paling agung lantaran Ramadan adalah bulan wajib untuk berpuasa selama sebulan; diturunkannya Al-Quran (Syahr Ramadan); namanya diabadikan di dalam al-Quran (Qs. 2: 185); bahkan pada bulan ini ada peristiwa Laylahal-Qadr (Qs. 30: 97) yang malam-malamnya diibaratkan oleh Al-Quran lebih baik daripada seribu bulan. Namun bagaimana jika klaim ini ternyata keliru? Bagaimana jika Ramadan bukan bulan paling istimewa?
Ini pertanyaan mengguncang, namun penting dipikirkan guna menelusuri kembali kelahiran Islam secara historis. Dengan menyatakan kewajiban berpuasa di dalam bulan Ramadan juga tidak berarti bahwa bulan ini paling agung. Tradisi puasa itu ritus yang paralel dengan agama monoteis sebelum Islam, yakni Kristen dan Yahudi. Atau karena Ramadan adalah bulan al-Quran diturunkan atau di dalamnya ada Laylah al-Qadr, ini juga tidak secara gamblang membuktikan bahwa bulan ini paling agung!
Puasa Ramadan, Apa yang Berbeda?
Tradisi puasa Ramadan dalam Islam sebenarnya mengapropriasi ritus peribadatan sebelumnya yang dilakukan oleh Kristen dan Yahudi. Umat Kristiani di abad-abad awal, dijelaskan oleh At-Thabari di dalam tafsir Jami’ul Bayan fi Ta’wil Al-Quran, ketika menafsirkan kewajiban berpuasa pada Qs. Al-Baqarah 183, menyebut frase“orang-orang terdahulu” itu juga termasuk umat Kristen awal. Baginya, bahkan tepat pada bulan ini, ketika umat Kristiani melakukan puasa, mereka juga melanggengkan amal penting yang persis dengan Islam di zaman kiwari saat berpuasa: tidak makan-minum bahkan berhubungan badan selama Ramadan.
- Penulis: Tarmizi Abbas

Saat ini belum ada komentar