Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Bagaimana jika Ramadan Bukan Bulan yang Paling Istimewa?

  • account_circle Tarmizi Abbas
  • calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
  • visibility 520
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kesinambungan ini bahkan merentang hingga ke dalam praktik agama Yahudi. Dalam hal ini, hari Asyura, di 10 Muharram, menjadi cikal-bakal munculnya tradisi puasa di bulan Ramadan. Mun’im Sirry, di dalam Islam Revisionis (2018), menyebut hal ini dengan dua alasan kunci: 1) Nabi memerintahkan puasa pada hari tersebut (hadist); 2) karena puasa Asyura sudah rutin dilakukan oleh kaum Quraisy. Dua alasan ini, jika di beber jantungnya, berdaras pada peristiwa Hari Pengampunan (YomKippur), ketika umat Yahudi terbebas dari keangkuhan Fir’aun di Mesir sekaligus awal Eksodus Nabi Musa. Hanya saja, setelah perintah puasa Ramadan ini turun, status puasa Asyura turun menjadi sunnah dan puasa Ramadan menjadi wajib dilakukan bagi umat Islam. Lantas apa yang distingtif sekaligus membuat puasa Ramadan menjadi begitu istimewa dan agung, selain dari paralelitas ini?

Tentu saja, lanjut Sirry (2018) karena pertama, ada ayat al-Quran yang memerintahkan; kedua, karena hal ini berkaitan dengan keagungan-keagungan yang terjadi selama Ramadan: suhuf Ibrahim diturunkan pada 1 Ramadan, Taurat diturunkan pada Nabi Musa As., pada 6 Ramadan, Injil diturunkan pada Nabi Isa As., pada 13 Ramadan, Zabur diturunkan pada Dawud pada 11 Ramadan, dan Al-Quran diturunkan pada Nabi Muhammad Saw., pada 24 Ramadan. Berbagai domain-domain “agung” inilah yang sebenarnya membentuk persepsi eskatologis mengapa Ramadan menjadi bulan yang paling agung. Dengan demikian, Ramadan tidak akan menjadi istimewa jika fenomena-fenomena ini tidak terjadi.

Perkembangan Tradisi Muslim

Berbagai fenomena di atas adalah domain-domain pembentuk mengapa Ramadan disebut bulan paling agung. Namun demikian, menarik untuk melihat bagaimana melihat keagungan Ramadan ini semakin pusparagam ditafsirkan oleh masyarakat Muslim pasca Kenabian Nabi Muhammad Saw. Interpretasi ini merujuk pada berbagai fenomena sosiokultural dan keagamaan yang lahir dari bagaimana umat Islam lantas menyambut Ramadan sesuai dengan konteks geografis di mana mereka tinggal.

  • Penulis: Tarmizi Abbas

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Saro-Saro Ternate Diakui KIK, Tradisi Gotong Royong Pecahkan Rekor di Busua

    Saro-Saro Ternate Diakui KIK, Tradisi Gotong Royong Pecahkan Rekor di Busua

    • calendar_month Senin, 30 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 560
    • 0Komentar

    Dalam praktiknya, Saro-Saro dilaksanakan oleh para perempuan keluarga yang disebut yaya se goa. Mereka menyuguhkan berbagai makanan simbolik seperti srikaya, nanas, dan kobo, yang masing-masing mengandung makna budi pekerti, kesetiaan, dan tanggung jawab dalam rumah tangga. Selain itu, terdapat aturan adat yang ketat, seperti hanya satu imam yang membagi makanan, sementara lainnya mengambil secukupnya sebagai […]

  • Akademisi Unusia: Olahraga Harus Jadi Investasi Strategis Menuju Indonesia Emas 2045

    Akademisi Unusia: Olahraga Harus Jadi Investasi Strategis Menuju Indonesia Emas 2045

    • calendar_month Jumat, 27 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 343
    • 0Komentar

    Akademisi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia), Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak, menegaskan bahwa olahraga harus diposisikan sebagai investasi strategis dalam pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045. Hal itu disampaikannya dalam Rapat Penyusunan Kurikulum dan Desain Besar Karakter Pemuda Indonesia yang digelar Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora), 27 Februari 2026, di Jakarta. Forum tersebut […]

  • Video Pembuangan Miras ke Laut Viral, Oknum Bhabinkamtibmas Polsek Ternate Utara Diperiksa Propam

    Video Pembuangan Miras ke Laut Viral, Oknum Bhabinkamtibmas Polsek Ternate Utara Diperiksa Propam

    • calendar_month Kamis, 22 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 296
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Polres Ternate, Maluku Utara, melakukan pemeriksaan internal terhadap seorang oknum anggota Bhabinkamtibmas Polsek Ternate Utara setelah video aksi pembuangan minuman keras (miras) ke laut di kawasan Pelabuhan Dufa-Dufa viral di media sosial. Kasi Humas Polres Ternate, IPDA Sudirjo, membenarkan bahwa Satuan Profesi dan Pengamanan (Propam) saat ini sedang mendalami kasus tersebut untuk memastikan […]

  • Tak Ada Yang Integratif Dari “Epistemologi Integratif” dalam Paradigma Makuta Ilmu: Itu Kesesatannya

    Tak Ada Yang Integratif Dari “Epistemologi Integratif” dalam Paradigma Makuta Ilmu: Itu Kesesatannya

    • calendar_month Sabtu, 10 Jan 2026
    • account_circle Tarmizi Abbas
    • visibility 1.087
    • 0Komentar

    Kekuatan Historiografi dalam Paradigma Ketika Donald menyimpulkan bahwa argumen historis tidak cukup menunjukkan relevansinya terhadap “simbolisasi makuta dalam paradigma epistemologi Makuta Ilmu”, maka di titik itu ia telah mengingkari argumen kuncinya sendiri yang menjadi basis dari paradigma Makuta Ilmu. Di tulisan awal, Donald menulis dengan gamblang: “makuta adalah cerminan dari nilai-nilai luhur yang telah mengakar […]

  • Janji Tinggal Janji! Sertifikat Tak Kunjung Diserahkan, Mediasi Berulang Kali Diundur, Dugaan Pungutan Rp1 Juta Muncul di Desa Lassang, Takalar

    Janji Tinggal Janji! Sertifikat Tak Kunjung Diserahkan, Mediasi Berulang Kali Diundur, Dugaan Pungutan Rp1 Juta Muncul di Desa Lassang, Takalar

    • calendar_month Kamis, 30 Jul 2026
    • account_circle Hardiansyah
    • visibility 179
    • 0Komentar

    NULONDALO.COM,TAKALAR – Polemik penyerahan sertifikat tanah sawah di Dusun Biring Ta’bing, Desa Lassang, Kecamatan Polongbangkeng Utara, Kabupaten Takalar, kembali menjadi sorotan. Seorang penggarap sawah bernama Sanawati mengaku hingga kini belum menerima sertifikat tanah yang disebut sebagai haknya, meski telah berulang kali mendatangi Kantor Desa Lassang untuk memperoleh kepastian. Perjuangan Sanawati mencari kejelasan disebut telah berlangsung cukup […]

  • Dekan Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam IAI DDI Maros, Dr. Haeruddin HR, S.H.I., M.H., Jadi Narasumber Rakor MUI Kabupaten Maros

    Dekan Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam IAI DDI Maros, Dr. Haeruddin HR, S.H.I., M.H., Jadi Narasumber Rakor MUI Kabupaten Maros

    • calendar_month Rabu, 9 Sep 2026
    • account_circle Hardiansyah
    • visibility 164
    • 0Komentar

    MAROS, NULONDALO.COM – Dekan Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam Institut Agama Islam (IAI) DDI Maros, Dr. Haeruddin HR, S.H.I., M.H., menjadi narasumber dalam kegiatan Rapat Koordinasi (Rakor) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Maros yang digelar di Desa Borikamase, Kecamatan Maros Baru, Kabupaten Maros, Selasa, 8 September 2026. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi […]

expand_less