Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Abd al-Rahman bin Abu Bakr Anak Yang Pernah Berhadapan dengan Sang Ayah di Medan Perang

  • account_circle Pepi Al-Bayqunie
  • calendar_month Senin, 9 Mar 2026
  • visibility 365
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Abu Bakar al-Siddiq r.a adalah salah satu sahabat utama dan pemimpin Islam pertama setelah wafatnya Nabi Muhammad. Kedekatannya dengan Nabi bukan hanya dalam perjuangan dakwah, tetapi juga dalam kehidupan keluarganya.

Abu Bakar memiliki enam orang putra-putri: Abdullah bin Abu Bakar, Abdurrahman bin Abu Bakar, Muhammad bin Abu Bakar, Asma binti Abu Bakar, Aisyah binti Abu Bakar, dan Umm Kulsum binti Abu Bakar. Hampir seluruh anak Abu Bakar segera mengikuti jejak ayah mereka memeluk Islam dan menjadi bagian dari lingkaran awal kaum Muslim. Bahkan Aisyah kemudian menjadi istri Nabi dan dikenal sebagai salah satu perawi hadis paling penting dalam sejarah Islam.

Namun di antara anak-anak Abu Bakar, ada satu orang yang memilih jalan berbeda pada masa awal dakwah, yaitu Abdurrahman bin Abu Bakar.

Pada masa ketika Islam masih menghadapi penentangan keras dari Quraisy di Mekah, Abdurrahman tetap mempertahankan kepercayaan lama kaumnya, meski seluruh keluarganya telah memilih Islam. Ia bergabung bersama para pemuka Quraisy yang menentang dakwah Nabi Muhammad. Pilihan ini menempatkannya pada posisi yang kontras dengan ayahnya sendiri, yang justru berdiri di barisan paling depan dalam membela Nabi. Ketika pecah Perang Badar, Abdurrahman berada di pihak Quraisy yang berhadapan langsung dengan kaum Muslim. Di medan perang itu, ayah dan anak berdiri di dua kubu yang saling berlawanan.

Dalam beberapa riwayat sirah disebutkan bahwa Abdurrahman dikenal sebagai pemanah yang terampil. Pada suatu saat dalam pertempuran Badar, ia melihat Abu Bakar berada dalam jangkauan panahnya. Kesempatan itu sebenarnya cukup terbuka untuk menyerang. Namun entah karena dorongan nurani atau rasa hormat sebagai seorang anak, ia memilih berpaling. Ia tidak melepaskan panah ke arah ayahnya. Keputusan kecil di tengah hiruk-pikuk pertempuran itu menjadi isyarat bahwa hubungan darah masih menyisakan ruang di tengah konflik keyakinan yang keras.

  • Penulis: Pepi Al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Libur Lebaran Bingung Mau ke Mana? Ini 7 Destinasi “Hidden Gem” Kaltim yang Wajib Kamu Coba!

    Libur Lebaran Bingung Mau ke Mana? Ini 7 Destinasi “Hidden Gem” Kaltim yang Wajib Kamu Coba!

    • calendar_month Minggu, 22 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 387
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Dinas Pariwisata (Dispar) Kalimantan Timur (Kaltim) merekomendasikan sejumlah destinasi wisata menarik bagi masyarakat untuk mengisi libur Idul Fitri 1446 Hijriah. Beragam pilihan wisata mulai dari pantai, alam, hingga budaya disiapkan untuk memberikan pengalaman liburan yang berkesan. Kepala Dispar Kaltim, Ririn Sari Dewi, menyampaikan bahwa Kaltim memiliki potensi wisata yang sangat beragam dan siap […]

  • Alissa Wahid: Gen Z Harus Jadi Penggerak Perubahan

    Alissa Wahid: Gen Z Harus Jadi Penggerak Perubahan

    • calendar_month Jumat, 30 Jan 2026
    • account_circle Suaib PR
    • visibility 268
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Makassar– Direktur Nasional Jaringan GUSDURian Indonesia, Alissa Wahid, menegaskan bahwa Generasi Z perlu diakomodasi secara serius karena mereka kini menjadi aktor utama dalam berbagai gelombang perubahan sosial. Hal itu ia sampaikan dalam kegiatan Kelas Penggerak GUSDURian (KPG) yang digelar oleh Komunitas Gusdurian Makassar di Kantor PCNU Kabupaten Gowa, 25 Juni 2026. Putri sulung KH. […]

  • Budaya Konsumtif dan Pemanasan Global: Tanpa Sadar Kita Sedang Merusak Bumi

    Budaya Konsumtif dan Pemanasan Global: Tanpa Sadar Kita Sedang Merusak Bumi

    • calendar_month Senin, 9 Feb 2026
    • account_circle  Fadli Bina
    • visibility 267
    • 0Komentar

    Mengonsumsi bukan lagi soal pemenuhan kebutuhan melainkan hanya soal hasrat agar tetap eksis. Dewasa ini mengonsumsi sepertinya merupakan hal yang mesti dilakukan agar kita dianggap tetap ada. Karena dalam budaya konsumtif nilai seseorang tidak diukur lagi dari kualitas pengetahuannya melainkan dari apa yang ia konsumsi. Hal ini juga terjadi dalam mengkonsumsi makananan. Meski kita tidak […]

  • Ketika Karamah dan Budaya Menyatu: Menelusuri Jejak Spiritualitas Islam Gorontalo Lewat Sosok Bapu Paci Nurjana

    Ketika Karamah dan Budaya Menyatu: Menelusuri Jejak Spiritualitas Islam Gorontalo Lewat Sosok Bapu Paci Nurjana

    • calendar_month Jumat, 5 Des 2025
    • account_circle M. Fadhil Hadju
    • visibility 272
    • 0Komentar

    Di tanah Gorontalo, Islam tidak hanya dipeluk dalam syariat, tetapi juga dirawat dalam budaya. Dalam ritus seperti modikili, tahlilan, maulidan, dan doa arwah, agama dan adat saling menyatu. Di antara masyarakat yang memegang teguh warisan ini, terdapat satu nama yang tetap harum hingga hari ini: KH Yahya Podungge, atau yang lebih dikenal dengan Bapu Paci […]

  • Refleksi HUT RI 81, Membaca Kepemimpinan Nasional

    Refleksi HUT RI 81, Membaca Kepemimpinan Nasional

    • calendar_month Selasa, 18 Agt 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 97
    • 0Komentar

    Penulis Ahmad Takbir Abadi Setiap momentum Hari Ulang Tahun Republik Indonesia semestinya bukan sekadar ritual tahunan dengan upacara, bendera, dan pidato tentang keberhasilan. Ia adalah jeda untuk bercermin, sudah sejauh mana republik ini menunaikan janji kemerdekaannya? Sejak Proklamasi 17 Agustus 1945, Indonesia telah melewati pergantian rezim, pergantian presiden, pergolakan politik, krisis ekonomi, hingga Reformasi. Pemimpin […]

  • Lubdaka, Sang Pemburu Yang Mendapat Berkah di Siwa Ratri

    Lubdaka, Sang Pemburu Yang Mendapat Berkah di Siwa Ratri

    • calendar_month Sabtu, 17 Jan 2026
    • account_circle Pepi al-Bayqunie
    • visibility 283
    • 0Komentar

    Saya belum genap sebulan tinggal di Bali. Tugas negara menuntut saya menetap di sini dalam waktu yang tidak sebentar, memberi kesempatan untuk merasakan ritme kehidupan yang berbeda dari tempat asal saya. Setiap hari menghadirkan pengalaman baru: jalan-jalan yang ramai dengan upacara adat, aroma dupa dan bunga yang menghiasi pura, hingga langit yang memunculkan panorama yang […]

expand_less