Bagaimana jika Ramadan Bukan Bulan yang Paling Istimewa?
- account_circle Tarmizi Abbas
- calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
- visibility 103
- print Cetak

Ilustrasi/pixabay
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Namun cara baca itu berusaha menampik fakta bahwa Islam adalah agama yang menyejarah. Disebut demikian lantaran ketika disebarkan ke berbagai tempat, para pemeluk Islam akan melakukan serangkaian reartikulasi dan apropriasi dengan kultur dan kebudayaan masyarakat saat itu, sebagaimana tradisi puasa juga ternyata memiliki paralelitas dengan agama-agama sebelum Islam. Di sinilah hal yang saya maksudkan bahwa agama, sekalipun ia merupakan risalah berisi doktrin dari Tuhan, namun juga tidak terlepas dari aktivitas sejarah, di mana proses kreasi, refleksi dan kontekstualisasi kebudayaan terus menerus terjadi—sebagaimana terjadi di Gorontalo yang melahirkan ragam tradisi dan kebudayaan.
Hanya saja, karena berbagai tradisi menyambut dan memeriahkan Ramadan di Gorontalo tersebut adalah tradisi, maka ia akan mengalami serangkaian kerentanan lantaran sifatnya tidak wajib, meskipun berkait-kelindan dengan hukum adat atau setidaknya memiliki kaitan dengannya. Konsekuensinya, hal-hal ini bisa saja tidak dipraktikkan lagi. Argumen lain misalnya: tradisi ini tidak dilestarikan lagi seturut meninggalnya para sesepuh yang memahami betul asal-usul praktik tersebut, hingga yang paling kiwari adalah modernisasi yang turut mempengaruhi komunalisme tradisional orang-orang Gorontalo. Tetapi penting untuk diketahui bahwa berbagai tradisi dan kebudayaan ini adalah bagian dari pada Islam yang, mau dilihat dari sisi manapun, merupakan domain pembentuk “keagungan Ramadan”.***
Penulis : Tarmizi Abbas, MA – (Alumni the Centre for Religious and Cross-cultural Studies, UGM, Yogyakarta)
- Penulis: Tarmizi Abbas

Saat ini belum ada komentar