Breaking News
light_mode
Trending Tags

Yahudi, Sanksi Sosial dan Migrasi

  • account_circle Redaksi Nulondalo
  • calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
  • visibility 108
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Saat ini, sedang ramai soal fenomena kekinian yang sedang menjadi perdebatan publik terkait dengan Goyang THR.

Ada yang berpendapat “ini kan cuma hiburan”, “bolo samua ngoni mo protes”, “kalo suka beken”, dan “ngga beda ini torang pe niat dengan goyang lo Yahudi yang ngoni tuduhkan”.

Ada juga sebagian kalangan berpendapat berbeda dan terkesan tidak menyetujui ; “so sama dengan goyang lo Yahudi eh”, “sapa yang ba iko goyang itu, sama dengan Yahudi no”, hingga “tidak boleh riya kalo mo ba kase-kase, apalagi ba goyang sama dg itu Yahudi pe ba goyang”.

Saya tidak ingin terjebak dalam dua pendapat tersebut, saya ingin membacanya dalam perspektif antropologis, bagaimana orang Gorontalo memaknai soal Yahudi. Terkait goyang THR, kita tentu menunggu “instruksi”, “fatwa” dan putusan dari para ustadz, kyai, ahli fikih terkait hal ini.

Dalam konteks Goyang THR, kecepatan adaptif para ahli agama cum fikih dalam merespon situasi sangat dibutuhkan, agar keterbelahan narasi publik hingga saling mencela bisa segera diatasi dan dicarikan jalan keluar. Sehingga, narasi-narasi fatwa, instruksi dan putusan ahli agama bisa menjernihkan persoalan dan menyejukkan situasi dengan cepat, apalagi momentum masih dalam suasana Idul Fitri.

Sebagai akademisi, tentu saya mencoba menambahkan perspektif dari sudut pandang antropologi. Bukan dalam “menginstruksikan” harus begini dan begitu, tapi pada konteks memberi informasi dan pemahaman mengenai sikap orang Gorontalo tentang Yahudi secara umum, hingga seperti apa sanksi sosial yang harus diterapkan.

Bagaimana Orang Gorontalo Memaknai Yahudi?

Di Gorontalo, kata “Yahudi” adalah bagian dari bahasa cacian, makian dan padanan kata “sifat” yang buruk..

Contohnya ; “Nde te Yahudi boti eh!” atau “Japotihutu madelo Yahudi yi’o botiye” atau “Bo Yahudi yi’o botiye am” atau “Jaomakeya teeya wuto’o lo Yahudi uti” dan “mahemo potolo Yahudi poli tingoli botiye am”. Bahkan ada istilah “mo mate Yahudi”.

Bagaimana seseorang atau sekelompok orang bisa dianggap atau disamakan seperti orang Yahudi di Gorontalo. Biasanya, orang atau sekelompok orang itu memiliki kebiasaan atau beraktivitas melanggar batas adab atau akhlak yang telah digariskan dalam adat-adat Gorontalo yang bersendikan Islam.

Jika orang Gorontalo telah menyamakan perilaku atau kebiasaan seseorang/sekelompok orang seperti Yahudi maka hal tersebut bisa disebut sebagai salah satu kemarahan yang level tinggi bagi orang Gorontalo. Bagi orang Gorontalo, marah yang sudah mencapai puncak disamakan dengan air yang sedang mendidih (ma lombu-lombula).

Bagaimana Sanksi Sosialnya?

Jadi, bagi orang Gorontalo, yang membuat “lombu-lombula” adalah sifat dan perilaku. Jika seseorang sudah dicap begitu, atau seperti Yahudi, maka sanksi sosialnya adalah harus dijauhi, dan dikucilkan dari pergaulan masyarakat.

Mengapa sanksinya harus dijauhi bahkan dikucilkan, sebab dianggap bisa “moombita”. Moombita atau berjangkit bukan saja untuk kategori penyakit, tapi juga perilaku yang dianggap negatif.

Karena jika levelnya telah “moombita, dikhawatirkan akan menjadi kebiasaan yang kolektif, dan dipercaya “lipu odungga lo bito” karena telah “ilo obitowa lo adati” atau “obitowa lo tadiya”.

Nah, bagi seseorang yang sudah dikucilkan dalam masyarakat sebagai akibat dari kemarahan kolektif tersebut, biasanya orang tersebut disarankan untuk “mobite” (berlayar/bepergian jauh).

Dari Sanksi hingga Migrasi

Mobite ada dua makna yakni mobite karena mopehu (bekerja) dan mobite karena ma ilo dungga lo wolito (sudah membuat malu keluarga). Pada makna mobite yang kedua, suasana hati dalam keadaan yang sedih.

Dalam mobite, jika seseorang pergi dalam suasana hati yang senang, maka yang berangkat tersebut akan “hepohiyonga liyo” dan keluarga ditinggal dalam “wolo-wololo” (sedih). Tetapi bagi yang mobite dalam konteks harus dijauhkan dari masyarakat, biasanya “tunu-tunuhu lo tadiya”.

Dalam konteks mobite, bagi yang mobite untuk mopehu, biasanya suatu saat akan kembali, apakah mudik lebaran atau jika keluarga ilo dungga lo pate (ada yang meninggal dalam keluarga). Tetapi bagi yang mobite karena wolito, maka orang tersebut biasanya sudah tidak akan kembali ke kampung halaman, karena selain dirinya sudah malu, juga sudah tidak diinginkan kembali oleh masyarakat.

Mengapa tidak diinginkan kembali lagi kembali ke kampung halaman? Karena dianggap bisa moombita, dan dikategorikan seperti virus penyakit.

Mobite berbeda dengan mopasiari, mondalengo, momentalo, tumete’o. Mondalengo, mopasiari, momentalo dan tumete’o itu masih dalam jarak yang terukur atau dekat. Kalau mobite, jaraknya pasti agak jauh.

Dalam tradisi migrasi Gorontalo, selain mobite, ada juga yang disebut moleleyangi atau bepergian jauh dalam rangka mencari kehidupan yang lebih layak (mo pehu). Biasanya, kalau orang yang moleleyangi, pasti akan kembali suatu saat dan dirindukan selalu oleh keluarga. Orang yang moleleyangi pun pasti turun dari rumah dengan senang hati. Bahkan, moleleyangi dibuatkan lagu tersendiri.

Jika misalnya kita banyak melihat banyak orang Gorontalo yang berada di daerah lain, bahkan hidup di sepanjang pantai Teluk Tomini hingga sampai ke Manado, Palu, Makassar, Maluku Utara, Papua, Kalimantan hingga ke Jawa, maka itu adalah bagian dari tradisi migrasi baik itu mobite maupun moleleyangi.

Pada momen Idul Fitri seperti ini menjadi waktu bagi kaum “diaspora” Gorontalo baik yang migrasi dengan jalur mobite untuk mopehu maupun moleleyangi, untuk kembali ke Gorontalo. Tapi bagi yang mobite dalam keadaan mayilolito/lo’olito, maka akan sulit untuk pulang kampung dalam situasi seperti Idul Fitri.

Oleh : Dr. Funco Tanipu, ST.,MA(Akademisi di Universitas Negeri Gorontalo)

  • Penulis: Redaksi Nulondalo

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pelecehan Seksual: Kuasa dan Keberanian Melawan Atas Nama Siri

    Pelecehan Seksual: Kuasa dan Keberanian Melawan Atas Nama Siri

    • calendar_month Jumat, 29 Agt 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 102
    • 0Komentar

    Akhir-akhir ini kita memang sering dikejutkan dengan berbagai berita mencengangkan. Dari pajak yang naik berlipat-lipat, hingga sewa tempat tinggal anggota dewan terhormat yang berjumlah 50 juta perbulan. Dan kita lagi lagi dikejutkan dengan viralnya berita seorang rektor perguruan tinggi ternama di Indonesia Timur yang diduga melakukan pelecehan seksual terhadap seorang perempuan bawahannya. Berita pelecehan seksual semacam […]

  • Dari Langit ke Bumi: Pesan Agung Salat Menggema di Masjid Nurul Jama’ah Taipa

    Dari Langit ke Bumi: Pesan Agung Salat Menggema di Masjid Nurul Jama’ah Taipa

    • calendar_month Minggu, 4 Jan 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 165
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — Peristiwa agung Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW kembali diperingati dengan penuh kekhusyukan oleh umat Islam di Dusun Taipa, Desa Majannang, Kecamatan Maros Baru, Kabupaten Maros. Peringatan yang berlangsung di Masjid Nurul Jama’ah Taipa, Minggu malam, 4 Januari 2026, menjadi momentum spiritual untuk menguatkan kembali komitmen umat dalam menjaga salat sebagai fondasi kehidupan […]

  • Perjumpaan 100 Tokoh, Bisikan Wali dan Masa Depan NU Gorontalo

    Perjumpaan 100 Tokoh, Bisikan Wali dan Masa Depan NU Gorontalo

    • calendar_month Jumat, 24 Jun 2022
    • account_circle Dr. Samsi Pomalingo, MA
    • visibility 28
    • 0Komentar

    Rumah besar berpenghuni banyak orang dengan banyak kamar besar serta halaman rumah yang luas, namun tak satupun orang-orang itu terlihat keluar dari rumahnya. Lampu halaman tak menyala, para tetangga tidak pernah disapa, bahkan para tetangga saja tidak mengenal setiap orang yang menghuni rumah besar itu. Karena mereka tak pernah terlihat bekerja menata lingkungan sekitar rumah. […]

  • GUSDURian Ternate Mendukung Perjuangan Perempuan Pada Moment International Women’s Day 2025

    GUSDURian Ternate Mendukung Perjuangan Perempuan Pada Moment International Women’s Day 2025

    • calendar_month Minggu, 16 Nov 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 88
    • 0Komentar

    Nulondalo – Hari Internasional Perempuan (International Women’s Day / IWD) yang diperingati setiap 8 Maret menjadi pengingat bahwa perjuangan hak perempuan masih panjang. Tahun ini, IWD 2025 mengusung tema “Aksi Akselerasi”, yang menekankan percepatan pencapaian kesetaraan gender, terutama dalam ranah politik. Suwarno Djabar, Koordinator Gusdurian Ternate, menilai bahwa sejak IWD pertama kali diperingati pada 1911, […]

  • Pemerintah Tegaskan Harga BBM Tetap, Isu Kenaikan 1 April 2026 Dipastikan Hoaks

    Pemerintah Tegaskan Harga BBM Tetap, Isu Kenaikan 1 April 2026 Dipastikan Hoaks

    • calendar_month Selasa, 31 Mar 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 101
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Jakarta — Pemerintah memastikan tidak ada kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), baik subsidi maupun nonsubsidi, per 1 April 2026. Kepastian ini disampaikan langsung oleh Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, menyusul beredarnya informasi yang menyesatkan di tengah masyarakat. Dalam keterangannya, Prasetyo menegaskan bahwa PT Pertamina (Persero) belum akan melakukan penyesuaian harga dalam waktu dekat. […]

  • Quraish Shihab Ingatkan: Jangan Sempitkan Makna Isra’ Mi’raj

    Quraish Shihab Ingatkan: Jangan Sempitkan Makna Isra’ Mi’raj

    • calendar_month Rabu, 14 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 196
    • 0Komentar

    nulondalo. com – Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW kerap dipahami sebatas peristiwa perjalanan malam yang diperingati setiap 27 Rajab. Namun Prof. Dr. M. Quraish Shihab mengingatkan, pemahaman seperti itu justru berpotensi menyempitkan makna Isra’ Mi’raj yang sesungguhnya. Dalam pengajian bertema Isra’ Mi’raj yang disampaikan melalui kanal YouTube, Quraish Shihab menegaskan bahwa para ulama sejak dahulu […]

expand_less