Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Yahudi, Sanksi Sosial dan Migrasi

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
  • visibility 201
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Saat ini, sedang ramai soal fenomena kekinian yang sedang menjadi perdebatan publik terkait dengan Goyang THR.

Ada yang berpendapat “ini kan cuma hiburan”, “bolo samua ngoni mo protes”, “kalo suka beken”, dan “ngga beda ini torang pe niat dengan goyang lo Yahudi yang ngoni tuduhkan”.

Ada juga sebagian kalangan berpendapat berbeda dan terkesan tidak menyetujui ; “so sama dengan goyang lo Yahudi eh”, “sapa yang ba iko goyang itu, sama dengan Yahudi no”, hingga “tidak boleh riya kalo mo ba kase-kase, apalagi ba goyang sama dg itu Yahudi pe ba goyang”.

Saya tidak ingin terjebak dalam dua pendapat tersebut, saya ingin membacanya dalam perspektif antropologis, bagaimana orang Gorontalo memaknai soal Yahudi. Terkait goyang THR, kita tentu menunggu “instruksi”, “fatwa” dan putusan dari para ustadz, kyai, ahli fikih terkait hal ini.

Dalam konteks Goyang THR, kecepatan adaptif para ahli agama cum fikih dalam merespon situasi sangat dibutuhkan, agar keterbelahan narasi publik hingga saling mencela bisa segera diatasi dan dicarikan jalan keluar. Sehingga, narasi-narasi fatwa, instruksi dan putusan ahli agama bisa menjernihkan persoalan dan menyejukkan situasi dengan cepat, apalagi momentum masih dalam suasana Idul Fitri.

Sebagai akademisi, tentu saya mencoba menambahkan perspektif dari sudut pandang antropologi. Bukan dalam “menginstruksikan” harus begini dan begitu, tapi pada konteks memberi informasi dan pemahaman mengenai sikap orang Gorontalo tentang Yahudi secara umum, hingga seperti apa sanksi sosial yang harus diterapkan.

Bagaimana Orang Gorontalo Memaknai Yahudi?

Di Gorontalo, kata “Yahudi” adalah bagian dari bahasa cacian, makian dan padanan kata “sifat” yang buruk..

Contohnya ; “Nde te Yahudi boti eh!” atau “Japotihutu madelo Yahudi yi’o botiye” atau “Bo Yahudi yi’o botiye am” atau “Jaomakeya teeya wuto’o lo Yahudi uti” dan “mahemo potolo Yahudi poli tingoli botiye am”. Bahkan ada istilah “mo mate Yahudi”.

Bagaimana seseorang atau sekelompok orang bisa dianggap atau disamakan seperti orang Yahudi di Gorontalo. Biasanya, orang atau sekelompok orang itu memiliki kebiasaan atau beraktivitas melanggar batas adab atau akhlak yang telah digariskan dalam adat-adat Gorontalo yang bersendikan Islam.

Jika orang Gorontalo telah menyamakan perilaku atau kebiasaan seseorang/sekelompok orang seperti Yahudi maka hal tersebut bisa disebut sebagai salah satu kemarahan yang level tinggi bagi orang Gorontalo. Bagi orang Gorontalo, marah yang sudah mencapai puncak disamakan dengan air yang sedang mendidih (ma lombu-lombula).

Bagaimana Sanksi Sosialnya?

Jadi, bagi orang Gorontalo, yang membuat “lombu-lombula” adalah sifat dan perilaku. Jika seseorang sudah dicap begitu, atau seperti Yahudi, maka sanksi sosialnya adalah harus dijauhi, dan dikucilkan dari pergaulan masyarakat.

Mengapa sanksinya harus dijauhi bahkan dikucilkan, sebab dianggap bisa “moombita”. Moombita atau berjangkit bukan saja untuk kategori penyakit, tapi juga perilaku yang dianggap negatif.

Karena jika levelnya telah “moombita, dikhawatirkan akan menjadi kebiasaan yang kolektif, dan dipercaya “lipu odungga lo bito” karena telah “ilo obitowa lo adati” atau “obitowa lo tadiya”.

Nah, bagi seseorang yang sudah dikucilkan dalam masyarakat sebagai akibat dari kemarahan kolektif tersebut, biasanya orang tersebut disarankan untuk “mobite” (berlayar/bepergian jauh).

Dari Sanksi hingga Migrasi

Mobite ada dua makna yakni mobite karena mopehu (bekerja) dan mobite karena ma ilo dungga lo wolito (sudah membuat malu keluarga). Pada makna mobite yang kedua, suasana hati dalam keadaan yang sedih.

Dalam mobite, jika seseorang pergi dalam suasana hati yang senang, maka yang berangkat tersebut akan “hepohiyonga liyo” dan keluarga ditinggal dalam “wolo-wololo” (sedih). Tetapi bagi yang mobite dalam konteks harus dijauhkan dari masyarakat, biasanya “tunu-tunuhu lo tadiya”.

Dalam konteks mobite, bagi yang mobite untuk mopehu, biasanya suatu saat akan kembali, apakah mudik lebaran atau jika keluarga ilo dungga lo pate (ada yang meninggal dalam keluarga). Tetapi bagi yang mobite karena wolito, maka orang tersebut biasanya sudah tidak akan kembali ke kampung halaman, karena selain dirinya sudah malu, juga sudah tidak diinginkan kembali oleh masyarakat.

Mengapa tidak diinginkan kembali lagi kembali ke kampung halaman? Karena dianggap bisa moombita, dan dikategorikan seperti virus penyakit.

Mobite berbeda dengan mopasiari, mondalengo, momentalo, tumete’o. Mondalengo, mopasiari, momentalo dan tumete’o itu masih dalam jarak yang terukur atau dekat. Kalau mobite, jaraknya pasti agak jauh.

Dalam tradisi migrasi Gorontalo, selain mobite, ada juga yang disebut moleleyangi atau bepergian jauh dalam rangka mencari kehidupan yang lebih layak (mo pehu). Biasanya, kalau orang yang moleleyangi, pasti akan kembali suatu saat dan dirindukan selalu oleh keluarga. Orang yang moleleyangi pun pasti turun dari rumah dengan senang hati. Bahkan, moleleyangi dibuatkan lagu tersendiri.

Jika misalnya kita banyak melihat banyak orang Gorontalo yang berada di daerah lain, bahkan hidup di sepanjang pantai Teluk Tomini hingga sampai ke Manado, Palu, Makassar, Maluku Utara, Papua, Kalimantan hingga ke Jawa, maka itu adalah bagian dari tradisi migrasi baik itu mobite maupun moleleyangi.

Pada momen Idul Fitri seperti ini menjadi waktu bagi kaum “diaspora” Gorontalo baik yang migrasi dengan jalur mobite untuk mopehu maupun moleleyangi, untuk kembali ke Gorontalo. Tapi bagi yang mobite dalam keadaan mayilolito/lo’olito, maka akan sulit untuk pulang kampung dalam situasi seperti Idul Fitri.

Oleh : Dr. Funco Tanipu, ST.,MA(Akademisi di Universitas Negeri Gorontalo)

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kisah Inspiratif Ibu Warni asal Gorontalo, Berdagang Es Kelapa Demi Empat Anak

    Kisah Inspiratif Ibu Warni asal Gorontalo, Berdagang Es Kelapa Demi Empat Anak

    • calendar_month Senin, 26 Mei 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 152
    • 0Komentar

    Kabar Perempuan – Peringatan Hari Ibu Nasional yang jatuh pada 22 Desember 2024 kemarin sejatinya adalah perayaan untuk menghargai jasa perjuangan seorang ibu. Hari Ibu adalah hari dimana seorang ibu mendapatkan ucapan atas jasa-jasanya selama ini. Menghargai kedudukannya, peran dan kontribusi dalam rumah tangga. Sebagaimana tema Hari Ibu Nasional 2024 bertajuk; Perempuan Menyapa, Perempuan Berdaya […]

  • Adjustment Langit

    Adjustment Langit

    • calendar_month Rabu, 18 Mar 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 371
    • 0Komentar

    Ramadhan sering disebut sebagai bulan penuh berkah. Namun, jika dilihat dari perspektif akuntansi, Ramadhan sebenarnya adalah bulan audit spiritual sekaligus periode “adjustment” besar-besaran dalam laporan keuangan langit. Kalau di perusahaan ada jurnal penyesuaian di akhir periode akuntansi, maka Ramadhan itu seperti closing sementara bagi buku besar amal manusia. Bayangkan saja, selama sebelas bulan sebelumnya kita […]

  • Lewat Voting Terbuka, Pemuda Majannang Percayakan Karang Taruna ke Tangan Sakti

    Lewat Voting Terbuka, Pemuda Majannang Percayakan Karang Taruna ke Tangan Sakti

    • calendar_month Sabtu, 10 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 155
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Maros –  Karang Taruna Desa Majannang, Kecamatan Maros Baru, Kabupaten Maros, sukses menggelar Temu Karya sekaligus Pembentukan Pengurus Baru yang dirangkaikan dengan pemilihan Ketua Umum, Jumat (9/1/2026), bertempat di Kantor Desa Majannang. Kegiatan ini dihadiri langsung oleh PJ Kepala Desa Majannang, Syamsir, S.S, Ketua Karang Taruna Kecamatan Maros Baru Syawir, Sekretaris Karang Taruna Kecamatan […]

  • Polemik Julukan “Raja RJ”, Ini Respons Kasat Narkoba Bulukumba

    Polemik Julukan “Raja RJ”, Ini Respons Kasat Narkoba Bulukumba

    • calendar_month Sabtu, 2 Mei 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 132
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, BULUKUMBA — Kasat Narkoba Polres Bulukumba, AKP Salehuddin, S.H.,M.H memberikan klarifikasi terkait pemberitaan di salah satu media online yang menyoroti dirinya dengan julukan “Raja RJ” serta menyebut adanya puluhan kasus narkotika yang dihentikan saat dirinya bertugas di Polres Maros. Dalam pemberitaan tersebut, disebutkan bahwa sepanjang Agustus hingga Desember 2025, AKP Salehuddin menangani 41 kasus […]

  • Yang Nanam Malah Lapar

    Yang Nanam Malah Lapar

    • calendar_month Sabtu, 31 Jan 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 432
    • 0Komentar

    Satu abad Nahdlatul Ulama (NU) adalah usia yang cukup matang untuk merenung: apakah jam’iyah ini masih sekadar kuat di tahlilan, atau sudah cukup berani kuat di laporan keuangan? Gus Dur pernah berkelakar, “NU itu besar sekali, tapi kalau ditanya asetnya, jawabannya sering: berkah.” Masalahnya, berkah saja tidak cukup untuk bayar pupuk, solar kapal nelayan, dan […]

  • Komisi XI DPR Uji Kelayakan 10 Calon Anggota Dewan Komisioner OJK pada 11 Maret 2026

    Komisi XI DPR Uji Kelayakan 10 Calon Anggota Dewan Komisioner OJK pada 11 Maret 2026

    • calendar_month Selasa, 10 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 187
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia melalui Komisi XI DPR RI akan menggelar uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) terhadap 10 calon anggota Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Rabu (11/3/2026). Uji kelayakan tersebut dijadwalkan berlangsung di Ruang Rapat Komisi XI DPR RI, Gedung Nusantara I, Kompleks Parlemen, Senayan. Jadwal Uji Kelayakan Berdasarkan jadwal […]

expand_less