Jejak Yusril dalam Harmoni Islam dan Pancasila
- account_circle Dr. H. Ahmad Shaleh Amin, Lc., M.A
- calendar_month 12 jam yang lalu
- visibility 94
- print Cetak

Yusril Ihza Mahendra, Advokat, Akademisi dan Politisi Indonesia. Doc. Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Dalam berbagai fase politiknya, kita melihat konsistensi itu. Ia bisa berbeda tanpa memusuhi, bisa berkompromi tanpa kehilangan prinsip. Bahkan ketika langkah-langkahnya menuai kritik dari berbagai arah, ia tetap bertahan pada keyakinannya bahwa perjuangan Islam di Indonesia harus ditempuh dengan cara yang damai, inklusif, dan konstitusional.
Mungkin karena itulah, ia kerap berada di posisi yang tidak mudah: dianggap terlalu Islami oleh sebagian kalangan, namun juga dinilai terlalu kompromistis oleh yang lain. Tetapi justru di situlah letak perannya—menjadi jembatan, menjaga keseimbangan, harmonisasi, dan merawat ruang tengah agar bangsa ini tidak terjerumus pada ekstremitas.
Yusril, dengan segala dinamika yang mengiringinya, menunjukkan bahwa seorang Muslim bisa tetap teguh pada keyakinannya sekaligus setia pada konsensus kebangsaan. Ia memberi warna tersendiri dalam demokrasi Indonesia: demokrasi yang tidak kehilangan nilai, tidak tercerabut dari akar budaya, dan tidak sekadar meniru model negara lain.
- Penulis: Dr. H. Ahmad Shaleh Amin, Lc., M.A

Saat ini belum ada komentar