Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Kelompok “Terorisme” di Pohuwato; Kesalahan Kita Bersama

  • account_circle Dr. Samsi Pomalingo, MA
  • calendar_month Minggu, 29 Nov 2020
  • visibility 86
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Hari Jumat tanggal 27 November 2020, Gorontalo untuk kesekian kalinya dikagetkan dengan berita penangkapan oleh Densus 88 terhadaap 7 orang terduga teroris di Kabupaten Pohuwato (Kecamatan Buntulia dan Randangan).

Betapa tidak, Gorontalo yang dikenal dengan daerah “Serambi Madinah” yang memiliki falsafah hidup “Adat Bersendi Syara’, Syara’ Bersendi Kitabullah” harus menelan pil pahit atas kejadian ini. Tidak ada yang menduga kalau peristiwa penangkapan teroris bisa terjadi lagi di Gorontalo. Dan ini fakta bahwa Gorontalo menjadi target bukan hanya persembunyian tapi juga perekrutan anggota baru sebagai “terrorist family” yang harus diwaspaadai secara bersama.

Kenapa Harus Pohuwato?

Gorontalo memang secara geografis-demografis boleh dikatakan sebagai daerah pegunungan, karena memang dimana-mana ada gunung. Tapi kalau gunung yang dijadikan alasan akan keberadaan para teroris di Pohuwato maka itu keliru.

Sekalipun tidak bisa dipungkiri bahwa ada kecenderungan para teroris menjadikan gunung sebagai lokasi untuk sekedar persembunyian. Atau hanya karena pemerintah kurang hati-hati dalam menyikapi persoalan terorisme kemudian dijadikan alasan bahwa itu menjadi bagian dari tumbuh suburnya keberadaan terorsime di daerah ini, ini tidak bisa dibenarkan.

Kehadiran terorisme di negeri ini karena ada “ruang” yang dengan secara sengaja kita ciptakan dengan membolehkan mereka tumbuh dan berkembang di negeri ini. Ruang yang saya maksud adalah kelemahan akan sikap kita sebagai warga negara secara bersama kurang produktif dalam menciptakan nuansa kemanuisiaan dan menyebarkan Islam sebagai rahmataan lil alamin.

Ruang ini kita rawat dan kita biarkan orang lain masuk sehingga mereka menjadi banyak dan bebas beraktifitas dimana-mana. Ketika ada “bom” baru kita sadar ada juga yang “cuek”, oh ternyata ada orang lain dengan “identitas ganda” ada di tengah-tengah kita.

Pemilihan Pohuwato bukan karena ada gunung (karena kelompok ini ditangkap bukan di gunung), atau sambutan Wakil Gubernur Gorontalo di acara pengresmian Banuroja sebagai “desa Pancasila” dan juga launching program Forum Pemuka Masyrakat Cinta Desa (FORPEACE) di desa tersebut, tapi karena, sekali lagi ada “ruang” itu yang menyebabkan mereka ada di Pohuwato.

Kita lengah membendung gerakan “bawah tanah” jaringan teroris di negeri ini. Mereka leluasa bergerak kesana kemari dengan identitas ganda yang mereka lakoni. Kita asik dengan ruang chit chat yang tidak produktif.

Sibuk dengan proyek memperkaya diri, termasuk sibuk dengan peneguhan akan “ego” dan “watak” elitis yang kita paksa untuk itu. Kita lupa bahwa di negeri ini ada segerombolan orang yang dengan sadar atau tidak sedang merencanakan aksi separatis untuk merongrong kekuasaan yang sah dan berencana mengganti ideology pancasila dengan “ideology kosong” mereka.

Pemerintah Tidak “Cuek”

Jika kita lihat dari sudut pandang sosio-antropologis, masyarakat Pohuawato adalah contoh dari masyarakat yang heterogen yang sudah teruji dengan kerukunan antar umat beragama. Masyarakatanya yang religious dan saling menghormati satu sama lain dengan perbedaan agama dan etnik yang mengitarinya.

Tapi pertanyaannya, kenapa harus Pohuwato? Ini yang harus kita jawab, jangan berspekulasi dengan “analisa rendahan” yang justru akan memunculkan polemic dikalangan masyarakat Pohuwato. Kita harus duduk bersama pemerintah dan aparat untuk bisa mengurai mata rantai jaringan teroris.

Bukan melihat dari jauh dan sembarangan berargumentasi tanpa melihat itu secara dekat. Orang hanya bisa berspekulasi karena secara geografis Pohuwato adalah pintu masuk menuju Poso, atau ada juga spekulasi memilih Pohuwato karena dekat dengan Manado karena menjelang hari Natal.

Tidak bisa kita berspekulasi tanpa bangunan argumentasi yang jelas, apalagi sampai menyalahkan pemerintah.

Program deradikalisasi oleh pemerintah dan penangkapan kelompok teroris oleh densus 88 terhadap kelompok teroris di negeri ini adalah bukti bahwa pemerintah kita telah bekerja. Pertanyaannya, apa yang sudah kita lakukan di masyarakat bawah (bukan masyarakat elit) untuk mensosialisasikan bahaya gerakan kelompok teroris.

Bukan ngopi di warung kopi dengan berbagai kelompok elit, atau berkerumun dengan para pejabat dan ikut-ikutan berpenapilan kaya pejabat. Bukan itu semua, yang kita lakukan sebagai kelompok terdidik (intelektual) adalah mengambil peran masing-masing dalam upaya “memerangi” kelompok teroris dengan “senjata pengetahuan” agar pesan-pesan tersampaikan ke masyarakat bawah untuk tidak ikut-ikutan dengan doktrin murahan kelompok teroris.

Berhenti “Saling Menyalahkan”

Sudah saatnya kita merasa lelah dengan aktivitas elitisme yang cenderung pragmatis. Mari bersinergi dan saling membahu untuk menyiarkan pesan-pesan ilahi yang penuh dengan kasih sayang. Kita harus merubah metode atau pendekatan kita dalam mengatasi tumbuh suburnya kelompok teroris di negeri ini.

Apa yang bisa kita lakukan, maka lakukanlah, bukan juteru menyalahkan orang-oraang yang sudah bekerja. Gorontalo-Pohuwato harus kita jadikan lahan garapan bersama dalam rangka deradikalisasi pemikiran keagamaan yang cenderung menyesatkan dan tidak memuliakan.

Sebab hasil survey Badan Nasional Pencegahan Terorisme (BNPT) pada tahun 2017, Gorontalo adalah peringkat ke 2 dengan prosentase 58, 48 persen, setelah Bengkulu dengan anka 58, 58 persen  sebagai daerah tertinggi berpotensi paham radikalisme. Hal ini terkait letak geografis dimana Provinsi Gorontalo diapit oleh daerah rawan seperti Poso di Sulawesi Tengah dan dekat dengan Filiphina.

Hasil survey di atas jelas mengagetkan banyak orang termasuk Majelis Ulama Indonesia Provinsi Gorontalo. Betapa tidak, Gorontalo dikenal dengan daerah yang masyarakatnya penuh dengan keramahan dan juga sebagai daerah “serambi Madinah”.

Tapi apa sebenarnya yang terjadi, sehingga orang-orang itu bisa terpapar oleh paham dan doktrin kelompok teroris? Seharusnya kita belajar dari hasil survey yang ada. Organisasi masyarakat (NU dan Muhammadiyah beserta Banom dan Ortom) harus membantu pemerintah dalam mengatasi ini.

Organisasi PMII dan ANSOR yang tak pernah berhenti melawan paham-paham radikal dan intoleran untuk tetap terus menyebarkan pesan-pesan Islam sebagai agama rahmatan lil alamin. Sebab lahan garapan perekrutan anggota atau yang saya sebut “terrorist family” adalah mahasiswa atau pemuda. Karakter inilah yang mudah dibujuk dengan janji-janji surga yang belum pasti.

  • Penulis: Dr. Samsi Pomalingo, MA

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Truk Melaju Ugal-Ugalan, Mahasiswi Desak Pemerintah Tertibkan Aktivitas Tambang di Moncongloe

    Truk Melaju Ugal-Ugalan, Mahasiswi Desak Pemerintah Tertibkan Aktivitas Tambang di Moncongloe

    • calendar_month Minggu, 14 Jun 2026
    • account_circle Hardiansyah
    • visibility 387
    • 0Komentar

    nulondalo.com, MAROS – Aktivitas truk yang diduga berasal dari kawasan tambang di wilayah Moncongloe, Kabupaten Maros, kembali menuai keluhan dari masyarakat. Kali ini, keluhan datang dari seorang mahasiswi bernama Indriani Reski Aulia yang menyoroti operasional truk pada jam-jam sibuk, khususnya saat para pelajar berangkat ke sekolah. Menurut Indriani, keberadaan truk-truk berukuran besar yang mulai beroperasi […]

  • Presiden Cabut Izin 28 Perusahaan Pelanggar Pemanfaatan SDA

    Presiden Cabut Izin 28 Perusahaan Pelanggar Pemanfaatan SDA

    • calendar_month Rabu, 21 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 313
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Presiden RI memutuskan mencabut izin 28 perusahaan yang terbukti melakukan pelanggaran dalam pemanfaatan sumber daya alam. Keputusan tersebut diambil setelah Presiden memimpin rapat terbatas (ratas) bersama kementerian dan lembaga terkait serta Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH). Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan, keputusan pencabutan izin didasarkan pada laporan hasil evaluasi pelanggaran […]

  • Hizbut Tahrir Bangkit, Satkornas Banser NU: Saatnya Pemerintah Mengambil Langkah Tegas

    Hizbut Tahrir Bangkit, Satkornas Banser NU: Saatnya Pemerintah Mengambil Langkah Tegas

    • calendar_month Rabu, 26 Feb 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 165
    • 0Komentar

    Nulondalo – Organisasi terlarang yang telah dibubarkan pemerintah pada 19 Juli 2017 bernama Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) kembali bangkit di beberapa titik di Indonesia. Komandan Satuan Koordinasi Nasional Banser PP GP Ansor, H. Syafiq Syauqi menyampaikan bahwa HTI telah dibubarkan Pemerintah melalui Kementerian Hukum dan HAM karena bertentangan dengan Pancasila, UUD 1945, dan mengancam keutuhan NKRI. “GP […]

  • Menjemput Hari Raya Idul Fitri, FPPMB dan Pemdes Bobawa Gelar Bukber Dengan Masyarakat 

    Menjemput Hari Raya Idul Fitri, FPPMB dan Pemdes Bobawa Gelar Bukber Dengan Masyarakat 

    • calendar_month Jumat, 28 Mar 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 132
    • 0Komentar

    Forum Pemuda Pelajar Mahasiswa Bobawa (FPPMB) menggelar agenda buka puasa bersama di Masjid Al-Fajri, Desa Bobawa, Kecamatan Makian Barat, Kabupaten Halmahera Selatan. Jum’at, 28 Maret 2025. Acara ini melibatkan masyarakat, badan syara, serta pemerintah desa dengan tujuan mempererat tali silaturahmi antarwarga. Kepala Desa Bobawa, Ludin Halek, menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar ajang berbuka bersama, […]

  • Korban Laka Dibawa Mobil BPBD, Ambulans Puskesmas Cenrana Dipertanyakan: Kepala Puskesmas Klaim Tak Terima Informasi

    Korban Laka Dibawa Mobil BPBD, Ambulans Puskesmas Cenrana Dipertanyakan: Kepala Puskesmas Klaim Tak Terima Informasi

    • calendar_month Rabu, 12 Agt 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 62
    • 0Komentar

    Nulindalo.com, MAROS — Kesiapsiagaan pelayanan kegawatdaruratan di wilayah timur Kabupaten Maros menjadi sorotan. Seorang korban kecelakaan lalu lintas di Dusun Kappang, Desa Labuaja, Kecamatan Cenrana, Senin (10/8/2026) sore, dilaporkan sempat dievakuasi menggunakan kendaraan operasional Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Maros. Peristiwa tersebut memunculkan pertanyaan publik. Pasalnya, Puskesmas Cenrana merupakan salah satu fasilitas kesehatan terdekat […]

  • Kena Semprot! Wali Kota Adhan Dambea Murka Usai Terima Aduan Warga

    Kena Semprot! Wali Kota Adhan Dambea Murka Usai Terima Aduan Warga

    • calendar_month Rabu, 25 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 211
    • 0Komentar

    nulondalo.com– Wali Kota Kota Gorontalo, Adhan Dambea, meluapkan kekecewaannya terhadap kinerja sejumlah lurah setelah menerima langsung aduan warga melalui pesan WhatsApp. Kemarahan itu disampaikan saat rapat koordinasi dan evaluasi (rakorev) penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan, dan kemasyarakatan yang digelar di Bandhayo Lo Yiladia (BLY), Rabu (25/3/2026). “Tadi saja, barusan ada yang WhatsApp ke saya. Kasie Kesra Heledulaa […]

expand_less