Korban Laka Dibawa Mobil BPBD, Ambulans Puskesmas Cenrana Dipertanyakan: Kepala Puskesmas Klaim Tak Terima Informasi
- account_circle Tim Redaksi
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 13
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Nulindalo.com, MAROS — Kesiapsiagaan pelayanan kegawatdaruratan di wilayah timur Kabupaten Maros menjadi sorotan. Seorang korban kecelakaan lalu lintas di Dusun Kappang, Desa Labuaja, Kecamatan Cenrana, Senin (10/8/2026) sore, dilaporkan sempat dievakuasi menggunakan kendaraan operasional Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Maros.
Peristiwa tersebut memunculkan pertanyaan publik. Pasalnya, Puskesmas Cenrana merupakan salah satu fasilitas kesehatan terdekat dari lokasi kecelakaan, sementara ambulans puskesmas disebut dalam kondisi stand by.
Korban diketahui bernama Sudiarto, S.Ip (51), seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) asal Kecamatan Lau. Ia mengalami luka memar di bagian pinggang setelah sepeda motor yang dikendarainya menabrak sebuah truk.
Informasi mengenai korban yang dibawa menggunakan kendaraan BPBD kemudian memantik sorotan masyarakat. Publik mempertanyakan mengapa ambulans Puskesmas Cenrana tidak terlibat dalam proses penanganan awal, terlebih insiden tersebut merupakan kondisi yang membutuhkan respons cepat.
“Seharusnya fasilitas kesehatan terdekat menjadi salah satu pihak yang dapat memberikan respons awal ketika terjadi kondisi kegawatdaruratan. Kalau ambulans tersedia, tentu masyarakat bertanya mengapa kendaraan itu tidak digunakan,” ujar salah seorang warga.
Ambulans Stand By, Puskesmas Mengaku Tak Menerima Informasi Kecelakaan
Menanggapi sorotan tersebut, Kepala Puskesmas Cenrana memberikan klarifikasi kepada awak media melalui pesan WhatsApp.
Ia menegaskan, tidak digunakannya ambulans bukan karena kendaraan tersebut sedang digunakan untuk kegiatan lain maupun tidak tersedia. Menurutnya, pihak Puskesmas Cenrana tidak menerima informasi mengenai kecelakaan ketika peristiwa itu terjadi.
Korban, kata dia, saat itu langsung ditangani dan dibawa oleh keluarga yang berada bersama korban.
“Dalam proses evakuasi korban, ambulans tidak digunakan karena korban langsung dibawa oleh keluarganya yang beriringan menggunakan kendaraan pribadi dengan korban. Keluarga korban tersebut adalah anggota Polri yang bertugas di Polsek Mallawa,” jelas Kepala Puskesmas Cenrana.
Setelah itu, korban kemudian dibawa ke Puskesmas Cenrana untuk mendapatkan penanganan medis.
“Keluarga korban langsung membawa ke puskesmas,” katanya.
Ia juga menegaskan ambulans Puskesmas Cenrana saat kejadian berada dalam kondisi siap digunakan.
“Ambulans tidak digunakan pada kegiatan lain dan tetap stand by di puskesmas,” tegasnya.
Setelah Ditangani, Pasien Dapat Dirujuk Sesuai Kondisi
Kepala Puskesmas Cenrana menjelaskan, setelah korban mendapatkan pelayanan di Unit Gawat Darurat (UGD), tindakan selanjutnya akan disesuaikan dengan kondisi medis pasien.
Apabila pasien membutuhkan penanganan lebih lanjut, pihak puskesmas akan melakukan proses rujukan ke rumah sakit sesuai pilihan keluarga, sepanjang rumah sakit tersebut berada di wilayah Kabupaten Maros.
“Setelah dilakukan pelayanan di UGD Puskesmas, jika kondisi pasien harus dirujuk, dari pihak puskesmas akan merujuk ke rumah sakit yang dipilih oleh keluarganya, di mana rumah sakit tersebut berada di wilayah Kabupaten Maros,” jelasnya.
Puskesmas Baru Mengetahui Setelah Korban Tiba
Pihak Puskesmas Cenrana kembali menegaskan bahwa tidak ada petugas maupun pihak puskesmas yang menerima informasi terkait kecelakaan tersebut saat kejadian berlangsung.
Informasi mengenai insiden itu baru diketahui setelah korban bersama keluarganya tiba di Puskesmas Cenrana.
“Tidak ada petugas maupun pihak Puskesmas Cenrana yang menerima informasi terkait kecelakaan tersebut. Informasi tersebut diketahui setelah korban dan keluarga tiba di Puskesmas Cenrana,” ungkapnya.
Klarifikasi tersebut menjawab bahwa ambulans Puskesmas Cenrana disebut tidak sedang digunakan dan tetap berada dalam kondisi stand by. Namun, kejadian ini tetap menyisakan pertanyaan penting mengenai sistem komunikasi dan koordinasi dalam penanganan kondisi darurat.
Sebab, dalam situasi kecelakaan lalu lintas, setiap menit dapat menjadi sangat penting. Ketika informasi mengenai korban tidak sampai kepada fasilitas kesehatan terdekat, maka kesiapsiagaan kendaraan dan petugas berpotensi tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal.
Publik pun berharap kejadian ini menjadi bahan evaluasi bagi seluruh pihak terkait, khususnya dalam membangun sistem informasi dan koordinasi kegawatdaruratan yang lebih cepat dan terintegrasi.
Jangan sampai ambulans tersedia dan siap digunakan, tetapi informasi mengenai warga yang membutuhkan pertolongan justru tidak pernah sampai kepada pihak yang seharusnya dapat memberikan respons medis.
Dalam kondisi darurat, kecepatan informasi dan respons bukan sekadar soal prosedur, melainkan menyangkut keselamatan nyawa. Kemanusiaan harus tetap menjadi panglima.
- Penulis: Tim Redaksi

Saat ini belum ada komentar