Breaking News
light_mode
Trending Tags

Kenakalan Remaja, Pembusuran, Dan Kegagalan Sosial Mendidik Manusia

  • account_circle Redaksi Nulondalo
  • calendar_month 12 jam yang lalu
  • visibility 174
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Andi Afsar (Ketua Bidang Kaderisasi dan Pendidikan HPPMI Komisariat Pelajar)

Maraknya aksi kenakalan remaja seperti tawuran, pembusuran, dan kekerasan jalanan kembali menyita perhatian publik. Fenomena ini kerap dipahami secara dangkal sebagai kemerosotan moral generasi muda. Remaja dijadikan kambing hitam tunggal, sementara masyarakat dan negara tampil sebagai hakim yang merasa paling benar.

Padahal, dalam perspektif sosiologi dan pendidikan kritis, kenakalan remaja bukanlah sebab utama, melainkan akibat dari kegagalan sosial yang sistemik. Busur yang dilepaskan di jalanan bukan sekadar senjata, melainkan simbol kegagalan ruang-ruang sosial keluarga, sekolah, masyarakat, hingga negara dalam merawat proses tumbuh remaja sebagai manusia yang utuh.

Kekosongan Norma dan Sekolah yang Gagal Memanusiakan

Sosiolog Émile Durkheim menyebut kondisi kehilangan pedoman nilai sebagai anomie. Banyak remaja hari ini hidup dalam situasi tersebut: dituntut patuh, berprestasi, dan sukses, tetapi tak disediakan ruang aman untuk gagal, bertanya, atau berbeda.

Sekolah, yang seharusnya menjadi ruang integrasi sosial, kerap berubah menjadi mesin seleksi. Nilai akademik dijadikan ukuran tunggal keberhargaan manusia. Remaja yang tak sesuai standar dianggap “masalah”, bukan subjek yang perlu didampingi. Akibatnya, sebagian remaja tercerabut dari sistem nilai resmi dan mencari makna di luar institusi bahkan melalui kekerasan.

Pembusuran dan tawuran pun menjelma sebagai ruang identitas alternatif di tengah kekosongan norma.

Stigma, Label “Nakal”, dan Kekerasan Simbolik

Teori labeling Howard Becker menjelaskan, penyimpangan sosial sering lahir dari reaksi masyarakat itu sendiri. Remaja yang terus dicap “nakal”, “bermasalah”, atau “gagal” perlahan menjadikan label itu sebagai identitas diri.

Di sinilah kekerasan simbolik, sebagaimana dikemukakan Pierre Bourdieu, bekerja secara halus namun mematikan martabat. Bahasa merendahkan, sistem penilaian yang timpang, hingga praktik pengucilan membuat sebagian remaja terutama dari latar belakang rentan kehilangan rasa berharga.

Ketika institusi resmi gagal memberi pengakuan, geng dan kekerasan justru menyediakan status, solidaritas, dan rasa memiliki.

Ketimpangan Struktur, Jalan Buntu Pengakuan

Robert K. Merton melalui teori strain menegaskan bahwa penyimpangan muncul ketika terdapat jurang antara tujuan sosial yang diagungkan dan sarana legal untuk mencapainya. Masyarakat memuja prestasi dan kehormatan, namun akses terhadap pendidikan yang adil, inklusif, dan manusiawi masih timpang.

Dalam kondisi seperti ini, kenakalan remaja bukan tindakan acak, melainkan bentuk adaptasi menyimpang terhadap struktur sosial yang menutup jalur pengakuan yang sah. Pembusuran menjadi bahasa frustrasi dari generasi yang merasa pintu-pintu masa depan ditutup rapat.

Budaya Kekerasan yang Diam-diam Diajarkan

Masyarakat kerap mengutuk kekerasan remaja, namun tanpa sadar ikut menormalisasikannya: bentakan orang dewasa, hukuman fisik, perundungan yang dianggap wajar, hingga pemberitaan sensasional. Semua itu menjadi “kurikulum sosial” yang mengajarkan bahwa kekerasan adalah cara memperoleh kuasa.

Albert Bandura menegaskan perilaku dipelajari dari apa yang dilihat. Jika konflik di ruang publik diselesaikan dengan dominasi dan ketakutan, maka tuntutan agar remaja memilih dialog menjadi kehilangan pijakan moralnya.

Negara, Represi, dan Solusi Instan

Tekanan publik yang cenderung menghukum kerap memberi legitimasi politis bagi negara untuk memilih jalan pintas: razia, penahanan, pengusiran dari sekolah. Kebijakan represif memang terlihat cepat, tetapi hanya mengelola gejala, bukan akar masalah.

Negara masih abai membenahi pendidikan yang eksklusif, minim layanan kesehatan mental remaja, dan miskin ruang partisipasi anak muda. Kenakalan remaja direduksi menjadi soal keamanan semata, padahal ia adalah krisis sosial dan pendidikan.

Cermin Retak Bernama Kenakalan Remaja

Kenakalan remaja termasuk pembusuran bukan sekadar penyimpangan individu, melainkan cermin retak yang memantulkan kegagalan kolektif. Ia menyingkap bahwa sekolah belum sepenuhnya menjadi ruang pemanusiaan, masyarakat lebih gemar menghakimi daripada mendengar, dan negara memilih ketertiban instan ketimbang keadilan jangka panjang.

Remaja tidak dilahirkan sebagai pelaku kekerasan. Mereka dibentuk oleh struktur sosial yang gagal merawat harapan. Selama pendidikan lebih peduli pada angka daripada manusia, dan masyarakat lebih sibuk memberi label ketimbang membuka ruang, busur akan terus menemukan tangannya.

Dan setiap busur yang dilepaskan adalah alarm keras: yang bermasalah bukan hanya remaja,tetapi kita semua.

  • Penulis: Redaksi Nulondalo

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Al-Khat Seni Rupa Peradaban Islam

    Al-Khat Seni Rupa Peradaban Islam

    • calendar_month Jumat, 30 Mei 2025
    • account_circle Muh. Ersyad Mamonto
    • visibility 39
    • 0Komentar

    Kaligrafi atau dalam Islam biasa dikenal dengan istilah al-khat mempunyai makna yang serupa di antara kedua istilah tersebut yaitu “tulisan indah”. Kaligrafi sangat erat dengan peradaban dunia Islam, selain memang sebagai produk budaya yang digunakan dalam pembakuan mushaf Qur’an, juga adanya pandangan ikonoklasme dalam Islam sehingga menempatkan kaligrafi sebagai sentrum seninya seni rupa Islam. Ikonoklasme […]

  • Sinergi Restorasi UMKM: LP3H Robbani dan 4 Kecamatan di Gorontalo Targetkan 1.000 Sertifikat Halal Gratis Per Kecamatan photo_camera 2

    Sinergi Restorasi UMKM: LP3H Robbani dan 4 Kecamatan di Gorontalo Targetkan 1.000 Sertifikat Halal Gratis Per Kecamatan

    • calendar_month Jumat, 16 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 210
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Upaya penguatan ekonomi kerakyatan di tingkat akar rumput Kabupaten Gorontalo memasuki babak baru. LP3H Robbani secara resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) bersama empat pemerintah kecamatan untuk fasilitasi Sertifikasi Halal Gratis (Sehati) bagi pelaku UMKM, Kamis (15/1). Pertemuan strategis ini dihadiri langsung oleh perwakilan yayasan, Sandy Syafrudin Nina, bersama Kepala Dinas Koperasi dan UMKM […]

  • Data Valid Landasan Kebijakan Program HIV/AIDS

    Data Valid Landasan Kebijakan Program HIV/AIDS

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 34
    • 0Komentar

    Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo Anang S Otoluwa secara resmi membuka kegiatan Pertemuan Validasi Data Penemuan dan Pengobatan HIV/AIDS serta Penelusuran ODHIV Hilang Semester I Tahun 2025 yang digelar oleh Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Gorontalo di Yulia Hotel Kota Gorontalo. Kadinkes Anang menegaskan bahwa pertemuan ini sangat strategis dalam mendukung roadmap nasional menuju Ending AIDS […]

  • Firman Soebagyo Usulkan Konsep Baru Swasembada Pangan, Anggaran Cetak Sawah Dialihkan untuk Beli Lahan Produktif

    Firman Soebagyo Usulkan Konsep Baru Swasembada Pangan, Anggaran Cetak Sawah Dialihkan untuk Beli Lahan Produktif

    • calendar_month Rabu, 24 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 62
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Anggota Komisi IV DPR RI, Firman Soebagyo, mengusulkan konsep baru dalam upaya mewujudkan swasembada pangan nasional. Usulan tersebut muncul setelah ia mencermati pernyataan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid, terkait masifnya alih fungsi lahan sawah di Indonesia. Firman menyoroti data Kementerian ATR/BPN yang mencatat alih fungsi lahan pertanian mencapai […]

  • Masyarakat Adat Halmahera Timur Murka, Ultimatum Amin Bahrun Segera Buka Inaport dan EPNBP

    Masyarakat Adat Halmahera Timur Murka, Ultimatum Amin Bahrun Segera Buka Inaport dan EPNBP

    • calendar_month Jumat, 29 Agt 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 46
    • 0Komentar

    Kemarahan masyarakat adat Maba, Halmahera Timur mencapai puncaknya. Mereka menuding Amin Bahrun, yang hanya berstatus Pjs KTT PT ANI, bertindak semena-mena dengan menjadikan laut Maba sebagai lokasi parkir tongkang berminggu-minggu. Hal ini sengaja tongkang tersebut telah di Sandra oleh saudara Amin Bahrun sangat berbahaya terhadap pencemaran laut dan akan menghancurkan mata pencaharian nelayan tradisional. ” […]

  • Menag Pimpin Peningkatan Profesionalisme Pegawai UPQ

    Menag Pimpin Peningkatan Profesionalisme Pegawai UPQ

    • calendar_month Jumat, 7 Nov 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 33
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., membuka secara resmi kegiatan Tazkiyatun Nafs: Pembinaan Ruhani dan Profesionalisme Pegawai UPQ yang diselenggarakan Unit Percetakan Al-Qur’an (UPQ) Kementerian Agama pada 10–13 November 2025 di Ciawi, Kabupaten Bogor. Agenda ini menjadi bagian dari upaya strategis meningkatkan kualitas sumber daya manusia UPQ seiring target besar […]

expand_less