Menakar Kembali Jalan Ziarah Menuju Lapeo: Tradisi yang Bertahan, Iman yang Dipertanyakan
- account_circle Muhammad Kamal
- calendar_month Senin, 30 Mar 2026
- visibility 174
- print Cetak

Muhammad Kamal, Penulis. Doc. Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Banyak orang datang karena ingin merasakan kedekatan dengan figur yang dianggap memiliki jejak kesalehan. Cerita tentang kehidupan para ulama, kisah-kisah yang beredar dari mulut ke mulut, serta kenangan tentang kesederhanaan hidup mereka membentuk suasana spiritual yang terus hidup dalam ingatan masyarakat.
Praktik seperti ini sering disebut sebagai agama yang hidup dalam keseharian. Ia tidak hanya berada dalam teks atau institusi, tetapi juga dalam kebiasaan sosial masyarakat. Ziarah, doa bersama di rumah guru atau kiai, serta tradisi lisan yang terus diwariskan adalah bagian dari cara masyarakat memaknai agama dalam kehidupan sehari-hari.
Namun di balik kelanggengan tradisi itu, ada sisi lain yang juga perlu diperhatikan. Tidak jarang ritual keagamaan berjalan sebagai kebiasaan yang diulang tanpa banyak refleksi. Orang datang, membaca doa, lalu pulang. Perjalanan spiritual yang seharusnya menjadi ruang perenungan kadang berhenti sebagai kegiatan rutin.
Hal ini semakin terasa ketika melihat kehidupan sosial di sekitar ruang-ruang religius tersebut. Kawasan yang dikenal sebagai pusat spiritual tidak selalu memperlihatkan kehidupan sosial yang selaras dengan nilai-nilai religius yang dirayakan dalam ritual. Konflik sosial, kesenjangan ekonomi, dan berbagai persoalan lain tetap menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Di sinilah muncul sesuatu yang bisa disebut sebagai disparitas iman. Dalam kajian Sosiologi, kesenjangan tidak selalu berkaitan dengan ekonomi. Ada juga jarak antara ritual keagamaan yang ramai dengan praktik moral dalam kehidupan sosial..
Sebagian persoalan ini juga berkaitan dengan cara institusi keagamaan bekerja. Banyak ruang keagamaan berfungsi dengan baik sebagai tempat ritual, tetapi belum selalu berhasil menjadi ruang pembentukan etika sosial. Agama hadir dalam simbol dan perayaan, tetapi pengaruhnya terhadap perilaku sosial tidak selalu terasa kuat.
Jika kondisi ini terus berlangsung, ziarah berisiko kehilangan makna yang lebih dalam. Ia tetap ramai, tetap menjadi agenda tahunan, tetapi berhenti sebagai perjalanan simbolik.
- Penulis: Muhammad Kamal

Saat ini belum ada komentar