Menolak “Ramadan-nya” Gorontalo
- account_circle Tarmizi Abbas
- calendar_month Jumat, 4 Mar 2022
- visibility 10
- print Cetak

ilustrasi
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Seminggu sebelum memasuki bulan Ramadan, kita melihat berbagai flyer, poster dan baliho, bertengger di sudut-sudut kota. Papan-papan iklan itu menampilkan wajah dari para elit yang tersenyum sumringah, mengenakan setelan jas atau baju koko, sarung, bahkan lengkap latar belakang partai politik yang memayungi mereka. Di tengah papan-papan iklan itu, tertulis ucapan menyambut Ramadan. Namun setelah dipikir-pikir, pertanyaan paling mendasar sebenarnya terletak pada: apa relevansinya menaruh ucapan selamat menyambut Ramadan, apalagi lengkap dengan tetek-bengek partai politik di belakangnya?
Dengan menampakkan wajah para elit, ada pesan tersirat yang ingin disampaikan: Ramadan adalah bulan penuh berkah, maka ia harus dimeriahkan dengan ucapan. Tentu saya tidak bisa mengukur apakah berbagai ucapan itu memang tulus berangkat dari hati. Tapi benarkah esensi yang ingin disampaikan oleh mereka benar-benar untuk “memeriahkan Ramadan” atau hanya sekadar pencitraan untuk memuaskan hasrat politis, namun kering esensi “memeriahkan Ramadannya”? Jangan-jangan ucapan itu menjadi bagian dari kontestasi politik antar elit? Pernahkah berpikir bagaimana jika rakyat sebenarnya justru alergi dan merasa tidak nyaman ketika melihat iklan-iklan itu?
- Penulis: Tarmizi Abbas

Saat ini belum ada komentar