Menolak “Ramadan-nya” Gorontalo
- account_circle Tarmizi Abbas
- calendar_month Jumat, 4 Mar 2022
- visibility 12
- print Cetak

ilustrasi
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Itu sebabnya, kiranya, elit dan publik kita hari ini mesti meninjau kembali makna Ramadan lebih dari pada makna eskatologisnya. Bulan ini tidak bisa jadi sekadar dermaga tempat perahu-perahu bersandar kembali untuk beristirahat dan memperbaiki badan-badannya yang rusak setelah melakukan perjalanan panjang diterpa ombak. Ramadan tidak bisa lagi dilihat sebagai kondisi di mana kita semua tok memikirkan tentang keberislaman kita, entah dengan wiridan, zikir, membaca Quran, dan beribadah wajib berikut tambahan lainnya sehari suntuk, namun luput dari realitas sosial-politik umat Islam hari ini. Sebab jika tidak, kiranya, “Ramadan-nya” Gorontalo yang penuh dengan pencitraan para elit fardlu ain hukumnya untuk ditolak!
Penulis : Alumni the Centre for Religious Cross-cultural Studies, UGM, Yogyakarta
- Penulis: Tarmizi Abbas

Saat ini belum ada komentar