Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Arti ‘Merdeka’ dalam Bingkai Hakikat yang Sesungguhnya

  • account_circle Asrul G.H. Lasapa
  • calendar_month Rabu, 17 Agt 2022
  • visibility 197
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Setiap menjelang hari kemerdekaan Indonesia, di media sosial khusunya tulisan dan ungkapan yang mempersepsikan kata “Merdeka” cukup banyak dan beragam. Komentar tergantung siapa yang memposting. Komentar-komentar tersebut mengelitik adrenalin literasi saya untuk membahasnya dalam bentuk tulisan sederhana ini.

Kata “Merdeka” sebenarnya terlahir dari rahim pergulatan bangsa dalam konteks perjuangan melawan penjajah. Dalam konteks sejarah nasional Indonesia, pekikan merdeka diteriakan dengan lantang oleh para pejuang pergerakan kemerdekaan dan pejuang kemerdekaan bangsa serta disahuti dengan penuh semangat dan kepalan tangan rakyat yang rindu akan kemerdekaan. Artinya apa ??? Itu artinya merdeka yang dimaksudkan dalam pekikan tersebut dipahami sebagai keinginan dan harapan untuk terlepas dari belenggu penjajahan bangsa lain atas wilayah Indonesia. Hanya sebatas itu dan tidak lebih.

Karena kalau kita kembali kepada perlawanan bangsa kita masa lalu yang  masih berbentuk kerajaan-kerajaan, tidak dikenal teriakan atau pekikan “Merdeka”. Maka berdasarkan konteks sejarah tersebut, pekikan “Merdeka” lahir bersamaan dengan kebangkitan Indonesia sebagai sebuah negara modern yang bercita-cita menjadi negara merdeka.

Oleh karena itu, ketika Bung Karno dan Bung Hatta atas nama bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 di Jl. Pegangsaan Timur, Jakarta itulah ‘HAKIKAT MERDEKA YANG SESUNGGUHNYA’

Mengapa demikian ? Ya karena “Merdeka” yang ditandai dengan “Proklamasi” adalah pencapaian hasil dari perjuangan panjang dan melelahkan dengan menguras energi anak bangsa.

Apakah kalian tidak berpikir bahwa betapa mengangkat senjata, membawa martil, mendorong meriam, menggenggam granat dan melontar bambu runcing adalah usaha yang gampang mudah ?

Apakah kalian pikir bahwa pengorbanan meninggalkan istri, anak dan keluarga kemudian berangkat ke medan perang dengan diiringi deraian air mata perpisahan adalah hal yang sederhana ?

Apakah kalian pikir bahwa para perempuan pejuang muda yang rela meninggalkan masa-masa indah remajanya demi menjinjing kotak obat-obatan untuk membantu mengobati para pejuang yang terluka di medan perang adalah sesuatu yang ringan dan enteng ? Maka sekali lagi, pekikan “Merdeka” adalah kobaran api penyemangat yang bergemuruh dalam dada mereka dan harus diteriakan untuk membakar keangkaramurkaan penjajah.

Dengan demikian “Proklamasi” bagi para pejuang bangsa kita yang berkorban harta, perasaan, jiwa raga, berdarah-darah dan bahkan meregang nyawa di medan pertempuran adalah “Merdeka yang Sesungguhnya”.

Kalau kemudian muncul berbagai ungkapan seperti “Hakikat merdeka yang sesungguhnya adalah terbebas dari penjajahan politik, ekonomi, budaya, kedaulatan,”. Seperti juga pernyataan : “Hakikat kemerdekaan yang sesungguhnya adalah  itu adalah tidak diperbudak oleh kedudukan, pangkat dan jabatan”.  Ada juga : “Hakikat merdeka yang sesungguhnya adalah jika tidak korupsi”. Kaum agamawan juga tak mau ketinggalan dengan memposting quots tauhid seperti ini : “Hakikat Merdeka yang sesungguhnya adalah keyakinan kepada tauhid dan terbebas dari penghambaan kepada kebendaan”

Ya, semua ungkapan itu adalah benar jika kita  mengembangkan makna “Merdeka” dalam semua lini kehidupan dan dalam berbagai persepsi sehingga bisa menjadi spirit dalam membangun dan menata bangsa ini menjadi lebih baik, menjadi bangsa yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur.   Silahkan-silahkan saja tapi tidak harus mereduksi hakikat lahirnya kata “merdeka” dari latar belakang sejarah.

Maka, jika hari ini saya meneriakan, memekikkan atau menulis di beranda media dengan kata “Merrrrr dekaaaaaa !!!! ditambah dengan simbol merah putih” itu artinya saya bahagia dan bersyukur atas perjuangan para pahlawan dan founding father bangsa kita yang berhasil mengusir penjajah dari bumi Indonesia tercinta 77 tahun yang lalu.

Merrrrrrrrdekaaaaaaaa!!

Gorontalo, 17 Agustus 2022

  • Penulis: Asrul G.H. Lasapa

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Reaktivasi 11 Juta Peserta PBI Tersendat, DPR Soroti Kinerja Pemerintah

    Reaktivasi 11 Juta Peserta PBI Tersendat, DPR Soroti Kinerja Pemerintah

    • calendar_month Kamis, 16 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 299
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Anggota Komisi IX DPR RI, Irma Suryani, menilai pemerintah belum menjalankan secara optimal kesepakatan reaktivasi 11 juta peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) BPJS Kesehatan. Hal tersebut disampaikan dalam Rapat Kerja Komisi IX DPR RI bersama sejumlah kementerian dan lembaga di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (15/4/2026). Irma mengungkapkan, hingga saat ini realisasi reaktivasi […]

  • Timnas Rasa Belanda: Rethinking Nasionalisme di Lapangan Hijau

    Timnas Rasa Belanda: Rethinking Nasionalisme di Lapangan Hijau

    • calendar_month Rabu, 26 Nov 2025
    • account_circle Pepi al-Bayqunie
    • visibility 202
    • 0Komentar

    Bagi kita, penggemar sepak bola Indonesia, wajah Timnas Indonesia kini tampak berbeda. Dulu, kita mengenal pemain-pemain yang tumbuh besar di sini, dengan karakter dan ciri khas lokal yang tak bisa dilepaskan. Namun kini, hampir setiap pemain Timnas yang tampil memiliki tubuh tegap, kulit putih, dan seolah membawa cita rasa Eropa, terutama Belanda. Mereka bukanlah anak-anak […]

  • Al-Shifah binti Abdullah, Sang Guru Literasi, Ahli Rukiyah dan Manajer Pasar

    Al-Shifah binti Abdullah, Sang Guru Literasi, Ahli Rukiyah dan Manajer Pasar

    • calendar_month Selasa, 24 Feb 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 359
    • 0Komentar

    Lalyla binti Abdullah bin Abdu Syams al-Qurasyiyah al-Adawaiyah atau lebih dikenal dengan Al-Shifah binti Abdullah adalah perempuan Quraisy dari Bani ‘Adi yang masuk Islam pada fase awal dakwah di Makkah, lalu hijrah ke Madinah. Informasi tentang dirinya memang tidak sebanyak tokoh perempuan lain, tetapi data yang tersedia cukup jelas dalam beberapa sumber klasik seperti Al-Tabaqat […]

  • Persipura Jayapura Tekuk Deltras FC 1-0 di Stadion Lukas Enembe

    Persipura Jayapura Tekuk Deltras FC 1-0 di Stadion Lukas Enembe

    • calendar_month Minggu, 4 Jan 2026
    • account_circle Ali Doniaw
    • visibility 359
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Persipura Jayapura meraih kemenangan penting usai menundukkan Deltras FC dengan skor tipis 1-0 dalam lanjutan Liga 2 Pegadaian musim 2025/2026 di Stadion Lukas Enembe, Kampung Harapan, Minggu (4/1/2026). Gol tunggal Jeam Kelly Sroyer menjadi penentu tiga poin krusial bagi tim tuan rumah. Pertandingan berjalan dengan intensitas tinggi sejak menit awal. Di hadapan ribuan […]

  • Khutbah Jumat : Kemenangan Hanya Dapat Diraih dengan Persatuan

    Khutbah Jumat : Kemenangan Hanya Dapat Diraih dengan Persatuan

    • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
    • account_circle Dr. H. Ahmad Shaleh Amin, Lc., M.A
    • visibility 413
    • 0Komentar

    Ada satu ironi besar dalam tubuh umat Islam hari ini: kita sering berbicara tentang kemenangan, tetapi berjalan di jalan yang menjauhkannya. Kita berdoa agar umat ini kuat, namun pada saat yang sama kita sibuk memperlemah satu sama lain. Kita berharap Islam kembali berjaya, tetapi energi kita habis untuk memperdebatkan hal-hal yang sejak dahulu telah diperselisihkan […]

  • Dalam Bayang-bayang Raden Ayu: Kartini Sebagai Kesedaran Kolektif Emansipasi Perempuan

    Dalam Bayang-bayang Raden Ayu: Kartini Sebagai Kesedaran Kolektif Emansipasi Perempuan

    • calendar_month Jumat, 28 Nov 2025
    • account_circle Risman Lutfi
    • visibility 200
    • 0Komentar

    Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat yang sering dikenal dengan nama RA Kartini sebagai salah satu perempuan Indonesia asal jepara-jawa tengah, pejuang emansipasi perempuan itu selalu diperingati setiap tahun, tepatnya pada tanggal 21 April, tahun kelahirannya 1879. Dalam catatan sejarah, kartini menggores tinta perlawanan atas penjajahan yang dialami bangsa Indonesia. Doktrin Perjuangannya mengangkat martabat perempuan sebagai […]

expand_less