Kesederhanaan dan Akhlak yang berumur panjang: Membaca Kharisma Imam Lapeo
- account_circle Muhammad Kamal
- calendar_month Kamis, 12 Mar 2026
- visibility 240
- print Cetak

Potret ulama kharismatik Nusantara, KH Muhammad Thahir, yang dikenal sebagai Imam Lapeo, tokoh penyebar Islam berpengaruh di Mandar, Sulawesi Barat, yang dihormati karena keilmuan, keteladanan, serta perannya dalam membimbing umat.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Dalam kajian sosiologi klasik, Max Weber memperkenalkan konsep otoritas kharismatik sebagai salah satu sumber legitimasi sosial. Menurut Weber, kharisma muncul ketika seorang individu dipercaya memiliki kualitas luar biasa—kesucian, keberanian, atau kemampuan spiritual—yang membuatnya dipandang berbeda dari orang kebanyakan. Legitimasi figur tersebut tidak bersumber dari hukum formal ataupun tradisi, melainkan dari keyakinan para pengikut bahwa ia memiliki sesuatu yang istimewa.
Namun, jika kita menengok pengalaman sosial di banyak masyarakat lokal, konsep ini kadang menemukan bentuk yang lebih subtil. Ingatan kolektif masyarakat Mandar tentang Imam Lapeo, misalnya, memperlihatkan sebuah model kharisma yang tidak selalu sejalan dengan gambaran Weberian yang dramatis.
Dalam banyak cerita yang beredar secara lisan, Imam Lapeo tidak dikenang sebagai ulama yang menampilkan keistimewaan dirinya secara spektakuler. Ia justru diingat sebagai sosok yang hidup sederhana, belajar tanpa merasa selesai, dan mengajar tanpa merasa lebih tinggi dari orang lain. Ilmu, bagi beliau, tidak berhenti pada kitab atau mimbar, tetapi hadir dalam percakapan sehari-hari, dalam nasihat yang tenang, dan dalam sikap hidup yang rendah hati.
- Penulis: Muhammad Kamal

Saat ini belum ada komentar