Kisah ini menarik dalam diskursus pengetahuan Sosiologi Agama. Dalam kerangka Weber, kharisma sering dipahami sebagai sesuatu yang menonjol—sebuah kualitas luar biasa yang membuat seseorang tampak berbeda dari masyarakat di sekitarnya. Tetapi dalam kisah Imam Lapeo, legitimasi moral justru tidak lahir Semata dari penonjolan diri, melainkan dari kemampuan menyatu dengan kehidupan sosial yang sederhana.
Kesederhanaan dan Akhlak yang berumur panjang: Membaca Kharisma Imam Lapeo
- account_circle Muhammad Kamal
- calendar_month Kamis, 12 Mar 2026
- visibility 245
- print Cetak

Potret ulama kharismatik Nusantara, KH Muhammad Thahir, yang dikenal sebagai Imam Lapeo, tokoh penyebar Islam berpengaruh di Mandar, Sulawesi Barat, yang dihormati karena keilmuan, keteladanan, serta perannya dalam membimbing umat.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Dan beberapa kisah yang diwariskan secara lisan juga menyambungkan ilmu dan keteladanan dari Imam Lapeo dalam menyelesaikan berbagai persoalan sehari-hari di tengah masyarakat. Banyak dari kisah tersebut mencerminkan kecakapan serta kedalaman pembacaannya terhadap realitas sosial yang dihadapi umat.
Alih-alih mempertegas jarak antara ulama dan masyarakat, Imam Lapeo justru meruntuhkan jarak itu. Ia menunjukkan bahwa nilai-nilai yang dibicarakan dalam kitab—kejujuran, kedisiplinan, kesederhanaan—bisa hidup dalam keseharian seorang petani. Dalam konteks ini, kharisma tidak dibangun melalui klaim keistimewaan, melainkan melalui konsistensi antara pengetahuan dan praktik hidup.
- Penulis: Muhammad Kamal

Saat ini belum ada komentar