Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Ketika Karamah dan Budaya Menyatu: Menelusuri Jejak Spiritualitas Islam Gorontalo Lewat Sosok Bapu Paci Nurjana

  • account_circle M. Fadhil Hadju
  • calendar_month Jumat, 5 Des 2025
  • visibility 263
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di tanah Gorontalo, Islam tidak hanya dipeluk dalam syariat, tetapi juga dirawat dalam budaya. Dalam ritus seperti modikili, tahlilan, maulidan, dan doa arwah, agama dan adat saling menyatu. Di antara masyarakat yang memegang teguh warisan ini, terdapat satu nama yang tetap harum hingga hari ini: KH Yahya Podungge, atau yang lebih dikenal dengan Bapu Paci Nurjana.

Bapu Paci bukan sekadar ulama. Ia adalah pengembara spiritual, penjaga nilai, dan saksi hidup tentang bagaimana Islam Nusantara bekerja: tidak menghapus budaya, tapi menyucikannya. Di tengah gempuran modernitas dan formalisme agama, warisan laku spiritual dan budaya Islam seperti ini penting untuk dikaji kembali—baik sebagai bahan refleksi keagamaan, maupun sebagai sumber keislaman khas Indonesia.

Karamah Sebagai Manifestasi Laku Spiritual

Dalam literatur klasik Islam, karamah didefinisikan sebagai peristiwa luar biasa yang terjadi pada diri seorang wali, berbeda dari mukjizat yang hanya dimiliki para nabi (al-Jurjani, al-Ta‘rifat, hlm. 204). Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa karamah adalah bagian dari tanda kedekatan seorang hamba kepada Allah Swt (Lihat: al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, jilid 1).

Dalam konteks Bapu Paci, karamah bukan sensasi. Ia buah dari suluk dan khalwat bertahun-tahun. Menurut penuturan Imam Bidi, murid sekaligus saksi hidupnya, Bapu Paci melakukan khalwat di berbagai tempat seperti Atinggola dan Paguat, dalam rangkaian laku spiritual untuk memahami keberadaan makhluk gaib, para nabi, hingga Tuhan.

Fenomena ini bukan hal baru dalam tradisi Islam lokal. Martin van Bruinessen menyebut bahwa banyak ulama Nusantara menjalani tahapan suluk dan uzlah dalam proses pembentukan spiritualitasnya (Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat, 1995). Ini menegaskan bahwa karamah dalam Islam bukan hal asing, namun justru bagian dari kosmologi keilmuan sufistik yang dikenal luas di dunia Islam tradisional.

Islam Kultural: Budaya Sebagai Medium Dakwah

Bapu Paci menerima dan menggunakan tradisi lokal seperti tahlilan, mauludan, dan modikili sebagai sarana dakwah. Ia tidak menghapus budaya masyarakat Gorontalo, melainkan menyisipkan nilai Islam ke dalamnya.

Konsep ini sejalan dengan gagasan Islam kultural sebagaimana yang digagas oleh Kuntowijoyo (2001) dalam bukunya Identitas Politik Umat Islam. Menurut Kunto, Islam kultural adalah cara memahami dan mengekspresikan Islam dalam bentuk nilai dan budaya, bukan semata-mata dalam formalisme syariat.

Bahkan, KH Hasyim Asy’ari sendiri dalam Adabul ‘Alim wal Muta’allim menekankan pentingnya ulama menjangkau masyarakat lewat tradisi lokal, selama tidak bertentangan secara prinsipil dengan akidah dan syariat. Apa yang dilakukan Bapu Paci adalah pengejawantahan dari semangat dakwah bil hikmah: merangkul, bukan menghakimi.

Spiritualitas dan Khalwat dalam Tradisi Islam

Dalam sejarah Islam klasik, khalwat adalah praktik utama dalam dunia tarekat. al-Qusyairi dalam al-Risalah al-Qusyairiyyah menulis bahwa khalwat menjadi wasilah bagi seorang salik untuk memurnikan jiwa dari gangguan syahwat dunia.

Tradisi ini dikenal luas dalam dunia sufi, termasuk di Nusantara. Fathurrahman (2017) dalam jurnal Heritage of Nusantara menyatakan bahwa suluk dan khalwat menjadi medium penting dalam konstruksi kewalian di dunia Melayu-Islam. Dalam hal ini, pengalaman khalwat Bapu Paci bukanlah anomali, tetapi bagian dari laku spiritual klasik Islam yang meresap dalam konteks lokal.

Toleransi dan Teologi Inklusif

Yang menarik dari Bapu Paci adalah sikap tolerannya terhadap non-Muslim. Ia pernah diminta mendoakan rumah seorang Hindu-Tionghoa di Gorontalo. Ketika ditanya, ia menjawab: boleh. Menurutnya, manusia dinilai bukan semata-mata dari agama formal, tetapi dari keyakinan terdalamnya kepada Allah dan hari akhir.

Sikap ini bersesuaian dengan QS. Al-Baqarah ayat 62, yang menyatakan bahwa siapa pun yang beriman kepada Allah, hari akhir, dan beramal saleh, maka akan mendapatkan pahala di sisi Tuhan mereka. Penafsiran ini sejalan dengan tafsir Fazlur Rahman, yang menyebut bahwa ayat ini menandai inklusivitas moral Islam, selama landasannya adalah keimanan dan amal saleh (Major Themes of the Qur’an, 1980).

Menolak Honor, Menjaga Keberkahan Ilmu

Bapu Paci menolak menerima honor dalam pengajaran kitab, bahkan menolak SK pengangkatan guru agama di SD karena tidak ingin “menggaji” ilmu agama. Sikap ini mencerminkan laku ikhlas yang tinggi, sebagaimana dicontohkan oleh ulama-ulama klasik.

Dalam kitab Ihya’ Ulumiddin, Imam al-Ghazali memperingatkan bahwa ilmu yang dicari karena dunia akan kehilangan barakah dan cahayanya. Semangat menjaga keikhlasan dalam pengajaran seperti ini adalah warisan penting dari ulama pesantren.

Islam yang Membumi dan Melangit

Sosok Bapu Paci Nurjana adalah gambaran konkret dari Islam Nusantara yang bercorak sufistik, kultural, dan humanistik. Ia tidak sekadar mengajarkan hukum-hukum agama, tetapi menanamkan kebijaksanaan spiritual yang hidup dalam masyarakat.

Kisah hidupnya menegaskan bahwa agama bukanlah monumen yang kaku, tetapi taman yang hidup—yang bisa tumbuh dalam berbagai tanah, selama disiram oleh ilmu, kesadaran, dan kasih sayang.

Penulis aktiv di Perkumpulan Kajian Keagaman dan Budaya (Association for Religious and Culture Studies, ARCS)

  • Penulis: M. Fadhil Hadju
  • Editor: Djemi Radji

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pamsimas Taipa Roboh, Pertanggungjawaban Dipertanyakan: Kadis PU dan Wabup Maros Bungkam

    Pamsimas Taipa Roboh, Pertanggungjawaban Dipertanyakan: Kadis PU dan Wabup Maros Bungkam

    • calendar_month Sabtu, 5 Sep 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 70
    • 0Komentar

    Nulondalo.Com, MAROS – Pembersihan puing-puing bangunan Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) di Dusun Taipa, Desa Majanang, Kabupaten Maros, bukanlah akhir dari persoalan. Justru setelah bangunan yang dibangun menggunakan anggaran pemerintah tersebut roboh, pertanyaan yang lebih besar kini mengemuka: siapa yang harus bertanggung jawab atas kegagalan konstruksi tersebut? Pembersihan puing-puing bangunan dinilai […]

  • Ramadhan dan Beban Lebih Kaum Perempuan

    Ramadhan dan Beban Lebih Kaum Perempuan

    • calendar_month Jumat, 7 Mar 2025
    • account_circle Dr. Momy Hunowu, M.Si
    • visibility 182
    • 0Komentar

    Dangi Rami sibuk meracik menu istimewa makan sahur. Di tengah suara dengkur suami dan anaknya yang masih terlelap tidur. Jeritan belanga goreng Dangi terdengar gaduh. Bersahutan dengan botu poluleya yang sulit dikendalikan bunyinya. Tiga menu berbahan ayam kampung untuk suami dan anaknya telah menebarkan aroma sedap. Mereka dibangunkan tat kala menu makan sahur itu sudah […]

  • Muhammadiyah Tetapkan Lebaran 20 Maret, Pemerintah Masih Menunggu Hilal

    Muhammadiyah Tetapkan Lebaran 20 Maret, Pemerintah Masih Menunggu Hilal

    • calendar_month Selasa, 17 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 820
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Menjelang berakhirnya bulan suci Ramadan, umat Islam di Indonesia mulai menanti kepastian datangnya Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah atau Lebaran 2026. Momen ini memiliki arti penting karena menjadi penanda berakhirnya ibadah puasa sekaligus awal perayaan hari kemenangan yang penuh makna spiritual dan sosial. Antusiasme masyarakat biasanya meningkat seiring mendekatnya akhir […]

  • Arqam, Sang Pemilik Rumah Legendaris (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #7)

    Arqam, Sang Pemilik Rumah Legendaris (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #7)

    • calendar_month Rabu, 25 Feb 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 242
    • 0Komentar

    Bagi kader Muhammadiyah, istilah Darul Arqam tentu sudah akrab. Darul Arqam adalah sebutan untuk jenjang pengkaderan yang menjadi bagian penting dalam pembinaan anggota dan kader Muhammadiyah. Secara harfiah, Darul Arqam berarti “rumah Arqam”, merujuk pada sahabat Nabi Muhammad SAW, Arqam, yang rumahnya menjadi tempat berkumpul dan belajar para sahabat Muslim pertama. Dari sinilah prinsip pengkaderan dan pembinaan […]

  • Dijaga TNI, Tapi Cuma Pisang dan Ubi: Sengketa Lahan Warga vs Pertamina di Maros Makin Panas

    Dijaga TNI, Tapi Cuma Pisang dan Ubi: Sengketa Lahan Warga vs Pertamina di Maros Makin Panas

    • calendar_month Jumat, 16 Jan 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 223
    • 0Komentar

    nulondalo.com, MAROS–Sengketa kepemilikan lahan antara warga dan PT Pertamina di Jalan Pertamina, Kelurahan Temmapaduae, Kecamatan Marusu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, kian memanas dan memicu sorotan publik. Ahli waris menegaskan bahwa di lokasi tersebut tidak terdapat kilang, pipa, maupun aktivitas produksi Pertamina, Jumat (16/1/2026). Meski demikian, sejumlah oknum TNI terlihat berjaga di lahan yang diklaim sebagai […]

  • Sampaikan Amanat Ketum Muhaimin, Nihayatul Tegaskan Empat Pilar Politik Perjuangan PKB

    Sampaikan Amanat Ketum Muhaimin, Nihayatul Tegaskan Empat Pilar Politik Perjuangan PKB

    • calendar_month Sabtu, 14 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 330
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Provinsi Gorontalo menggelar Orientasi Politik yang dirangkaikan dengan Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) serta pengukuhan pengurus masa bakti 2026–2031. Kegiatan ini menjadi momentum konsolidasi dan penegasan arah perjuangan partai menjelang Pemilu 2029. Dalam kegiatan tersebut, Anggota Komisi IX DPR RI sekaligus Ketua Perempuan Bangsa DPP PKB, […]

expand_less