Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Ketika Karamah dan Budaya Menyatu: Menelusuri Jejak Spiritualitas Islam Gorontalo Lewat Sosok Bapu Paci Nurjana

  • account_circle M. Fadhil Hadju
  • calendar_month Jumat, 5 Des 2025
  • visibility 270
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di tanah Gorontalo, Islam tidak hanya dipeluk dalam syariat, tetapi juga dirawat dalam budaya. Dalam ritus seperti modikili, tahlilan, maulidan, dan doa arwah, agama dan adat saling menyatu. Di antara masyarakat yang memegang teguh warisan ini, terdapat satu nama yang tetap harum hingga hari ini: KH Yahya Podungge, atau yang lebih dikenal dengan Bapu Paci Nurjana.

Bapu Paci bukan sekadar ulama. Ia adalah pengembara spiritual, penjaga nilai, dan saksi hidup tentang bagaimana Islam Nusantara bekerja: tidak menghapus budaya, tapi menyucikannya. Di tengah gempuran modernitas dan formalisme agama, warisan laku spiritual dan budaya Islam seperti ini penting untuk dikaji kembali—baik sebagai bahan refleksi keagamaan, maupun sebagai sumber keislaman khas Indonesia.

Karamah Sebagai Manifestasi Laku Spiritual

Dalam literatur klasik Islam, karamah didefinisikan sebagai peristiwa luar biasa yang terjadi pada diri seorang wali, berbeda dari mukjizat yang hanya dimiliki para nabi (al-Jurjani, al-Ta‘rifat, hlm. 204). Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa karamah adalah bagian dari tanda kedekatan seorang hamba kepada Allah Swt (Lihat: al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, jilid 1).

Dalam konteks Bapu Paci, karamah bukan sensasi. Ia buah dari suluk dan khalwat bertahun-tahun. Menurut penuturan Imam Bidi, murid sekaligus saksi hidupnya, Bapu Paci melakukan khalwat di berbagai tempat seperti Atinggola dan Paguat, dalam rangkaian laku spiritual untuk memahami keberadaan makhluk gaib, para nabi, hingga Tuhan.

Fenomena ini bukan hal baru dalam tradisi Islam lokal. Martin van Bruinessen menyebut bahwa banyak ulama Nusantara menjalani tahapan suluk dan uzlah dalam proses pembentukan spiritualitasnya (Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat, 1995). Ini menegaskan bahwa karamah dalam Islam bukan hal asing, namun justru bagian dari kosmologi keilmuan sufistik yang dikenal luas di dunia Islam tradisional.

Islam Kultural: Budaya Sebagai Medium Dakwah

Bapu Paci menerima dan menggunakan tradisi lokal seperti tahlilan, mauludan, dan modikili sebagai sarana dakwah. Ia tidak menghapus budaya masyarakat Gorontalo, melainkan menyisipkan nilai Islam ke dalamnya.

Konsep ini sejalan dengan gagasan Islam kultural sebagaimana yang digagas oleh Kuntowijoyo (2001) dalam bukunya Identitas Politik Umat Islam. Menurut Kunto, Islam kultural adalah cara memahami dan mengekspresikan Islam dalam bentuk nilai dan budaya, bukan semata-mata dalam formalisme syariat.

Bahkan, KH Hasyim Asy’ari sendiri dalam Adabul ‘Alim wal Muta’allim menekankan pentingnya ulama menjangkau masyarakat lewat tradisi lokal, selama tidak bertentangan secara prinsipil dengan akidah dan syariat. Apa yang dilakukan Bapu Paci adalah pengejawantahan dari semangat dakwah bil hikmah: merangkul, bukan menghakimi.

Spiritualitas dan Khalwat dalam Tradisi Islam

Dalam sejarah Islam klasik, khalwat adalah praktik utama dalam dunia tarekat. al-Qusyairi dalam al-Risalah al-Qusyairiyyah menulis bahwa khalwat menjadi wasilah bagi seorang salik untuk memurnikan jiwa dari gangguan syahwat dunia.

Tradisi ini dikenal luas dalam dunia sufi, termasuk di Nusantara. Fathurrahman (2017) dalam jurnal Heritage of Nusantara menyatakan bahwa suluk dan khalwat menjadi medium penting dalam konstruksi kewalian di dunia Melayu-Islam. Dalam hal ini, pengalaman khalwat Bapu Paci bukanlah anomali, tetapi bagian dari laku spiritual klasik Islam yang meresap dalam konteks lokal.

Toleransi dan Teologi Inklusif

Yang menarik dari Bapu Paci adalah sikap tolerannya terhadap non-Muslim. Ia pernah diminta mendoakan rumah seorang Hindu-Tionghoa di Gorontalo. Ketika ditanya, ia menjawab: boleh. Menurutnya, manusia dinilai bukan semata-mata dari agama formal, tetapi dari keyakinan terdalamnya kepada Allah dan hari akhir.

Sikap ini bersesuaian dengan QS. Al-Baqarah ayat 62, yang menyatakan bahwa siapa pun yang beriman kepada Allah, hari akhir, dan beramal saleh, maka akan mendapatkan pahala di sisi Tuhan mereka. Penafsiran ini sejalan dengan tafsir Fazlur Rahman, yang menyebut bahwa ayat ini menandai inklusivitas moral Islam, selama landasannya adalah keimanan dan amal saleh (Major Themes of the Qur’an, 1980).

Menolak Honor, Menjaga Keberkahan Ilmu

Bapu Paci menolak menerima honor dalam pengajaran kitab, bahkan menolak SK pengangkatan guru agama di SD karena tidak ingin “menggaji” ilmu agama. Sikap ini mencerminkan laku ikhlas yang tinggi, sebagaimana dicontohkan oleh ulama-ulama klasik.

Dalam kitab Ihya’ Ulumiddin, Imam al-Ghazali memperingatkan bahwa ilmu yang dicari karena dunia akan kehilangan barakah dan cahayanya. Semangat menjaga keikhlasan dalam pengajaran seperti ini adalah warisan penting dari ulama pesantren.

Islam yang Membumi dan Melangit

Sosok Bapu Paci Nurjana adalah gambaran konkret dari Islam Nusantara yang bercorak sufistik, kultural, dan humanistik. Ia tidak sekadar mengajarkan hukum-hukum agama, tetapi menanamkan kebijaksanaan spiritual yang hidup dalam masyarakat.

Kisah hidupnya menegaskan bahwa agama bukanlah monumen yang kaku, tetapi taman yang hidup—yang bisa tumbuh dalam berbagai tanah, selama disiram oleh ilmu, kesadaran, dan kasih sayang.

Penulis aktiv di Perkumpulan Kajian Keagaman dan Budaya (Association for Religious and Culture Studies, ARCS)

  • Penulis: M. Fadhil Hadju
  • Editor: Djemi Radji

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pamsimas Taipa Roboh, Pertanggungjawaban Dipertanyakan: Kadis PU dan Wabup Maros Bungkam

    Pamsimas Taipa Roboh, Pertanggungjawaban Dipertanyakan: Kadis PU dan Wabup Maros Bungkam

    • calendar_month Sabtu, 5 Sep 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 83
    • 0Komentar

    Nulondalo.Com, MAROS – Pembersihan puing-puing bangunan Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) di Dusun Taipa, Desa Majanang, Kabupaten Maros, bukanlah akhir dari persoalan. Justru setelah bangunan yang dibangun menggunakan anggaran pemerintah tersebut roboh, pertanyaan yang lebih besar kini mengemuka: siapa yang harus bertanggung jawab atas kegagalan konstruksi tersebut? Pembersihan puing-puing bangunan dinilai […]

  • Neraca di Balik Peluru: Mengukur Efisiensi Akuntansi Perang Iran, AS, dan Israel

    Neraca di Balik Peluru: Mengukur Efisiensi Akuntansi Perang Iran, AS, dan Israel

    • calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
    • account_circle Angca Aldafa
    • visibility 370
    • 0Komentar

    Konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah sering kali diukur dari intensitas pertempuran atau kerugian infrastruktur yang terpampang di permukaan media. Namun, dalam perspektif akuntansi pemerintahan, dampak sesungguhnya terletak pada kemampuan negara dalam mencatat, mengklasifikasikan, dan mempertanggungjawabkan beban fiskal yang ditimbulkan. Angka pengeluaran langsung mulai dari pengadaan alutsista, logistik tempur, hingga rehabilitasi wilayah terdampak hanyalah representasi […]

  • Demokrasi yang Kehilangan Bumi

    Demokrasi yang Kehilangan Bumi

    • calendar_month Selasa, 2 Des 2025
    • account_circle Julman Hente
    • visibility 202
    • 0Komentar

    Oleh: Julman Hente, SH., MH (Penulis) Demokrasi kita hari ini seperti pohon yang tumbuh tanpa akar. Tampak hijau di permukaan, penuh daun dan ranting yang menjulang, tetapi mudah roboh ketika angin kencang datang. Ia berdiri di atas tanah yang semakin rapuh, tanah yang terus terkikis oleh keputusan-keputusan yang mengatasnamakan rakyat tetapi mengkhianati bumi tempat rakyat […]

  • Akhirnya Anjing Masuk Surga

    Akhirnya Anjing Masuk Surga

    • calendar_month Sabtu, 26 Feb 2022
    • account_circle Dr. Hi. Mansur Basie
    • visibility 186
    • 0Komentar

    Kalau ada hewan atau binatang yang berterima kasih (numpang viral) karena hiruk pikuk social media dua hari terakhir ini, maka binatang itu adalah anjing. Betapa tidak, tanpa diminta “persetujuannya”, ia disebut dan diviralkan oleh mungkin dari lebih separuh penduduk negeri +62. Berdasarkan laporan We Are Social dari situs dataIndonesia.com, jumlah pengguna aktif media sosial di […]

  • Ketua Umum Fatayat NU Margaret Aliyatul Maimunah Wafat, Nahdliyin Berduka

    Ketua Umum Fatayat NU Margaret Aliyatul Maimunah Wafat, Nahdliyin Berduka

    • calendar_month Minggu, 1 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 232
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Kabar duka menyelimuti keluarga besar Fatayat NU. Ketua Umum Pimpinan Pusat Fatayat NU, Hj Margaret Aliyatul Maimunah binti KH Faruq, wafat pada Ahad (1/3/2026) pukul 08.25 WIB setelah menjalani perawatan intensif di RSUP Fatmawati, Jakarta. Kabar berpulangnya almarhumah disampaikan langsung oleh suaminya, KH Abdullah Masud, yang juga menjabat sebagai Ketua PCNU Tangerang Selatan. […]

  • Pasar Modal Bergejolak, DPR Soroti Mundurnya Dirut BEI

    Pasar Modal Bergejolak, DPR Soroti Mundurnya Dirut BEI

    • calendar_month Jumat, 30 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 258
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Gejolak pasar modal yang menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami trading halt selama dua hari berturut-turut berujung pada pengunduran diri Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Iman Rachman. Langkah tersebut mendapat sorotan sekaligus apresiasi dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI. Anggota Komisi XI DPR RI, M. Hasanuddin Wahid, menilai keputusan Iman Rachman […]

expand_less