Kesederhanaan dan Akhlak yang berumur panjang: Membaca Kharisma Imam Lapeo
- account_circle Muhammad Kamal
- calendar_month Kamis, 12 Mar 2026
- visibility 241
- print Cetak

Potret ulama kharismatik Nusantara, KH Muhammad Thahir, yang dikenal sebagai Imam Lapeo, tokoh penyebar Islam berpengaruh di Mandar, Sulawesi Barat, yang dihormati karena keilmuan, keteladanan, serta perannya dalam membimbing umat.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Dalam situasi seperti ini, kisah tentang Imam Lapeo menghadirkan pengingat yang sederhana namun penting di refleksikan bahwa Ilmu tidak selalu perlu dibuktikan melalui klaim. Jika ia benar-benar hidup dalam diri seseorang, masyarakat akan merasakannya secara perlahan.
Dalam fenomena ini ada celah kritik bagi teori kharisma Weber. Jika kharisma sering dipahami sebagai kualitas yang membuat seseorang tampak luar biasa, pengalaman sosial seperti yang ditunjukkan oleh kisah Imam Lapeo memperlihatkan bahwa kharisma juga bisa lahir dari sesuatu yang tampak sebaliknya: kerendahan hati yang konsisten dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam arti tertentu, kharisma tidak selalu muncul dari kemampuan untuk menonjol, tetapi dari kemampuan untuk menjalani nilai-nilai yang diyakini tanpa banyak suara. Dan mungkin justru karena itulah sosok seperti Imam Lapeo tetap hidup dalam ingatan masyarakat—bukan karena spektakel keilmuannya, tetapi karena ketenangan cara ia mempraktikkan ilmunya di tengah kehidupan.
Penulis : Alumni Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
- Penulis: Muhammad Kamal

Saat ini belum ada komentar