Kesederhanaan dan Akhlak yang berumur panjang: Membaca Kharisma Imam Lapeo
- account_circle Muhammad Kamal
- calendar_month Kamis, 12 Mar 2026
- visibility 242
- print Cetak

Potret ulama kharismatik Nusantara, KH Muhammad Thahir, yang dikenal sebagai Imam Lapeo, tokoh penyebar Islam berpengaruh di Mandar, Sulawesi Barat, yang dihormati karena keilmuan, keteladanan, serta perannya dalam membimbing umat.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Salah satu kisah kecil yang sering diceritakan orang-orang tua di Mandar menggambarkan hal ini dengan cukup jelas. Dikisahkan seorang pemuda pulang dari perantauan setelah bertahun-tahun belajar agama. Ia datang dengan bekal pengetahuan yang tidak sedikit, namun juga membawa kegelisahan. Di kampung halaman, masyarakat tidak memperlakukannya secara istimewa sebagaimana yang ia bayangkan. Ia merasa ilmunya tidak mendapatkan pengakuan.
Ketika kegelisahan itu disampaikan kepada Imam Lapeo, sang ulama tidak memberikan nasihat panjang. Ia hanya mengajak pemuda itu berjalan menyusuri kampung hingga mereka tiba di sebuah ladang. Di sana seorang petani tua bekerja di bawah matahari, dengan tangan penuh tanah dan baju yang basah oleh keringat.
Imam Lapeo kemudian berkata pelan, “Ia mungkin tidak membaca kitab seperti yang engkau baca. Tetapi setiap pagi ia bangun sebelum fajar, salat, bekerja dengan jujur, dan tidak pernah mengambil hak orang lain. Jika ilmumu membuatmu lebih dekat kepada Tuhan dan lebih lembut kepada manusia, orang akan merasakannya tanpa perlu engkau ceritakan.”
- Penulis: Muhammad Kamal

Saat ini belum ada komentar