Kesederhanaan dan Akhlak yang berumur panjang: Membaca Kharisma Imam Lapeo
- account_circle Muhammad Kamal
- calendar_month Kamis, 12 Mar 2026
- visibility 244
- print Cetak

Potret ulama kharismatik Nusantara, KH Muhammad Thahir, yang dikenal sebagai Imam Lapeo, tokoh penyebar Islam berpengaruh di Mandar, Sulawesi Barat, yang dihormati karena keilmuan, keteladanan, serta perannya dalam membimbing umat.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Penghormatan masyarakat kepada seorang ulama, dalam banyak tradisi lokal, memang sering lahir secara organik. Ia tumbuh dari pengalaman kolektif masyarakat yang melihat bagaimana seseorang menjalani hidupnya. Orang tidak menghormati seseorang semata karena ia mampu mengutip kitab atau menjelaskan teori, tetapi karena mereka merasakan dampak dari ilmunya, sikapnya ,kata-katanya yzng menenangkan, dan tindakannya adil juga bijaksana.
Di tengah kehidupan modern yang semakin cepat, pelajaran ini terasa semakin relevan. Pengetahuan hari ini beredar dalam kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Diringkas dan kerap disimplifikasi untuk kebutuhan tertentu. Kemudahan ini tentu membawa manfaat besar. Tetapi ia juga melahirkan gejala lain, pengetahuan sering tampil lebih cepat daripada kedewasaan untuk memahaminya. Tidak jarang pengetahuan berubah menjadi simbol identitas—dipamerkan dalam perdebatan, di media sosial, atau dalam ruang-ruang diskusi—seolah-olah nilai sebuah gagasan baru terlihat ketika ia sudah diakui orang lain.
- Penulis: Muhammad Kamal

Saat ini belum ada komentar