Nu’aiman, Sahabat Nabi Yang Jenaka (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #2)
- account_circle Pepi Al-Bayqunie
- calendar_month 14 jam yang lalu
- visibility 50
- print Cetak

Ilustrasi suasana Madinah pada masa Rasulullah SAW yang menggambarkan keceriaan Nu’aiman bin Amr saat menghadiahkan buah dan madu, serta momen keusilannya terhadap sahabat dalam perjalanan — simbol bahwa humor yang tulus dapat menghadirkan senyum dan mempererat persaudaraan.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jika Anda periang, suka bercanda, atau kadang sedikit usil, maka kisah Nu’aiman bin Amr bin Rafa’ah menarik untuk anda. Dalam keseharian komunitas Muslim di Madinah pada masa Nabi SAW, ada sahabat yang serius, ada sahabat yang tekun beribadah, dan ada pula yang suka usil. Nu’aiman termasuk yang terakhir: tingkahnya jenaka, sering bercanda, dan mampu membuat suasana menjadi ceria.
Nu’aiman bin Amr bin Rafa’ah berasal dari suku Bani An‑Najjar di Madinah, bagian dari kaum Anshar. Sayangnya, tidak ada penjelasan sahih mengenai asal-usul keluarganya atau posisi sosial ayahnya, Amr bin Rafa’ah. Namun, yang tercatat adalah bahwa Bani An‑Najjar dikenal sebagai suku yang ramah, gotong-royong, dan terbiasa hidup saling membantu dalam komunitas Madinah pada masa itu.
Kisah yang paling melekat dengan Nuaiman adalah suatu hari Nu’aiman datang kepada Nabi SAW sambil membawa buah atau madu yang ingin ia hadiahkan kepada beliau. Ia berkata bahwa ia membawakan itu sebagai pemberian untuk Nabi SAW. Rasulullah SAW menerima dengan senang hati. Namun tidak lama kemudian datang penjual buah atau madu itu kepada Nabi SAW untuk menagih harganya — karena Nu’aiman belum membayar.
Rasulullah SAW pun bertanya kepada Nu’aiman, “Bukankah engkau menghadiahkan ini kepadaku?” Nu’aiman dengan santai menjawab bahwa ia memang berniat memberikannya, tetapi ia sendiri tidak punya uang untuk membayar, sehingga beliau boleh saja membayar.
Pendek cerita, ulah Nu’aiman yang lucu itu membuat Nabi SAW dan para sahabatnya tersenyum atau tertawa.
Dalam versi lain dari tradisi populer, Nu’aiman pernah “mengusili” seorang sahabatnya, Suwaibith bin Harmalah, ketika mereka sedang dalam perjalanan. Karena lapar dan tidak punya makanan, Nu’aiman bercanda dengan mengatakan kepada pedagang bahwa ia punya seorang budak yang bisa dijual — sambil menyebut ciri‑ciri Suwaibith. Pedagang pun “membelinya” dan membawa Suwaibith pergi. Meski akhirnya, para pedagang menyadari sedang diusili oleh Nu’aiman dan melepas Suwaibith.
Ketika cerita itu sampai kepada Nabi SAW, beliau ikut tertawa mendengar dan kemudian sering mengulanginya sebagai cerita yang menyenangkan bagi tamunya.
Di bulan Ramadhan ini, Nu’aiman mengajarkan kita pelajaran yang berbeda dari sosok-sosok serius atau heroik. Ia mengingatkan bahwa keceriaan, selera humor, dan sedikit keusilan yang tulus bisa menjadi bentuk kebajikan. Senyum ringan, tawa yang menular, atau lelucon sederhana yang membahagiakan orang lain—semua itu bisa menjadi cara kita menyebarkan kebaikan, menguatkan hubungan, dan meringankan beban hati sesama.
Seperti Nu’aiman yang mampu membuat Nabi SAW tersenyum, kita pun bisa menebar kebahagiaan kecil melalui kelucuan yang membangkitkan tawa. Tetapi ingat, jangan berlebihan, jangan body shaming, dan jangan sexis!
Penulis : Jamaah Gusdurian, tinggal di Sulawesi Selatan yang lahir dengan nama Saprillah
- Penulis: Pepi Al-Bayqunie

Saat ini belum ada komentar